Kamis, 30 Jan 2020
radarkudus
icon featured
Kudus

Prihatin Persoalan Bangsa, Mantan Ketua DPRD Kudus Surati Jokowi

13 Januari 2020, 16: 05: 55 WIB | editor : Ali Mustofa

Heris Paryono

Heris Paryono (NOOR SYAFAATUL UDHMA/RADAR KUDUS)

Share this      

KUDUS, Radar Kudus – Mantan Ketua DPRD Kudus periode 1999-2004 Heris Paryono prihatin dengan persoalan bangsa. Mulai dari korupsi hingga bencana. Untuk itu dia menyurati Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dia meminta Jokowi melalui Gubernur dan Bupati atau Walikota untuk mengajak warga berdoa dan sedekah. Salah satunya bisa dilakukan saat apel pagi. Sebab, baginya hanya doa dan sedekahlah yang mampu menyelesaikan persoalan bangsa.

Heris juga meminta agar warga membaca istigfar, surat al fatihah, surat al ikhlas, dan Hasbunallah wa Nikmal Wakil minimal satu kali. Bacaan itu dikirimkan kepada alam semesta, bumi, langit agar rakyat Indonesia mendapatkan rahmat dan hidayah. ”Dengan fatihah korupsi akan berkurang. Orang satu sama lain akan saling mendoakan. Bahkan persoalan dunia akan selesai. Kuncinya doa dan sedekah,” katanya.

Dia menceritakan pengalamannya saat menjabat sebagai Ketua DPRD Kudus. Dia mengaku selalu memulai rapat dengan membaca al fatihah. ”Terbukti, dalam persidangan selalu mendapat kemudahan,” tuturnya.

Sepak terjang Heris selama menjabat tak diragukan. Tercatat, Heris pernah menghentikan sidang Paripurna untuk dianulir. Dia juga meminta mengulangi hingga tiga kali agar defisit anggaran berkurang. Defisit yang awalnya Rp 34 miliar itu diubah hingga menjadi Rp 11 miliar. Dia juga sempat menyoret proyek yang tidak penting untuk membeli mobil Muspida. ”Polres dulu dapat truk, ambulans, dan motor tril. Kodim dapat truk dan kijang. Sedangkan Pengadilan dan Kejaksaan dapat mobil Suluna. Akhirnya kebijakan ini diikuti di seluruh Indonesia,” katanya.

Heris juga pernah memecah dua desa. Yakni Terangmas dan Lambangan. Kebijakannya itu sempat ditentang. Bahkan ada demo warga di depan gedung DPRD. Namun, dengan pendekatan humanis (mengajak makan lentog) warga pun menerima keputusannya. Setelah itu dia menghadahi kerbau untuk masing-masing desa. Tak hanya itu dia juga memperjuangkan dana bagi hasil cukai selama 4 tahun yang hasilnya bisa dinikmati hingga saat ini. ”Dulu saya memperjuangkannya bersama Kabupaten Malang dan Kediri. Saya minta pusat untuk menyetujui. Alhamdulillah disetujui. Semua berkat doa dan sedekah,” paparnya. Dia terus berharap agar masyarakat Indonesia mau berdoa dan sedekah. Sebab dua hal itulah yang mampu menyelesaikan persoalan bangsa bahkan dunia.

(ks/mal/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia