Kamis, 30 Jan 2020
radarkudus
icon featured
Features
Dewi Alfiyah, Peraih Emas Pencak Silat Santri

Tahan Mual sebelum Bertanding

13 Januari 2020, 13: 51: 30 WIB | editor : Ali Mustofa

HASIL PERJUANGAN: Dewi Alfiyah menunjukkan medali emas usi bertanding di laga pencak silat santri tingkat nasional di Bandung akhir tahun kemarin.

HASIL PERJUANGAN: Dewi Alfiyah menunjukkan medali emas usi bertanding di laga pencak silat santri tingkat nasional di Bandung akhir tahun kemarin. (FAQIH/RADAR KUDUS)

Share this      

Dewi Alfiyah berhasil menjuarai laga pencak silat santri tingkat nasional 2019 di Bandung, Jawa Barat, akhir tahun kemarin. Sebelum laga tersebut, semua temannya muntah-muntah karena kondisi fisik tak mampu bertahan usai bertanding. Dia pilih menahan mual agar tak muntah.

FAQIH MANSYUR HIDAYAT, Kudus, Radar Kudus

POSTUR tubuh Dewi tak begitu tinggi. Hanya sekitar 154 cm. Namun, ia memiliki gerakan cukup lincah. Itu terbukti saat dia berlaga di Pencak Dor Pagar Nusa Minggu lalu. Dia melawan pesilat asal Lirboyo pada pencak silat santri tingkat nasional 2019. Meskipun kalah postur tubuh, dia tetap bisa mengimbangi. Ketika lawan menendang, dia balas pukulan yang mengarah pada sela-sela kaki lawan. Beberapa kali dia bisa membanting lawannya. Keahlian ini dia dapatkan dari latihan rutin dan gemblengan pelatihnya.

Gadis asal RT 03/RW 09, Dukuh Menyatus, Desa Karangmalang, Gebog, Kudus ini mengaku merasakan betul pergumulan itu. Sejak beberapa kali menjadi juara laga-laga pencak silat di tingkat kabupaten dan provinsi, membuatnya merasa di atas angin.

Pengalaman demi pengalaman ia dapatkan di gelanggang. Tentang bagaimana menjatuhkan lawan, yang menjadi salah satu sesi paling ditunggu-tunggu penonton sebelum bersorak sorai. Kemudian memujanya.

”Setiap memenangi laga, saya selalu bangga. Orang-orang memuja kehebatan saya usai mengalahkan lawan,” kata Dewi.

Namun, kebanggaan itu justru membuatnya semakin berat hati. Dia harus bisa menahan diri agar tidak terlarut dalam pujian yang bisa mengarahkan dirinya mejadi sombong, angkuh, dan merasa paling bisa dibanding orang lain.

Gadis kelahiran 18 Oktober 2001 ini, sudah mengikuti pencak Pagar Nusa sejak kelas IX SMP. Saat ini, dia duduk di kelas XII MA NU Hasyim Asy’ari 2 Kudus. Baginya, pencak silat adalah tempat untuk menempa mental diri.

Dewi juga salah satu srikandi jagoan Pagar Nusa Kudus. Prestasi terakhirnya, yakni menjuarai laga pencak silat dalam Pekan Olahraga dan Seni Antar Pondok Pesantren Tingkat Nasional (Pospenas) VIII Tahun 2019. Kegiatan Pospenas ini akan digelar 25-30 November 2019 di Bandung, Jawa Barat.

Dalam laga tersebut, bersama delapan atlet lainnya yang mewakili Jawa Tengah, dialah satu-satunya atlet yang berhasil menembus babak final. Dan menjuarai laga finalnya saat berhadapan dengan pesilat tuan rumah.

Dewi menceritakan, sebelum dalam laga tersebut, semua temannya muntah-muntah karena kondisi fisik sudah tak mampu bertahan usai bertanding. Meskipun merasakan hal yang sama, dia tetap menahannya. Sebab, dia merasa diberi tanggung jawab dan harus memikulnya sekuat mungkin.

”Saya saat itu tidak mau bikin malu nama baik Kudus. Saya harus tetap kuat. Alhamdulillah diberi kekuatan sampai laga berakhir,” ungkapnya.

Meskipun telah beberapa kali menjuarai lomba pencak silat tingkat kabupaten dan provinsi, Dewi tetap berusaha tawadu’ dan rendah hati. Sebab, belajar pencak silat bukan untuk unjuk diri. Melainkan untuk membela diri tanpa harus memperlihatkannya kepada orang lain.

”Kata guru saya, menjadi pesilat harus bisa menutupi keahliannya dari siapapun,” kata Dewi.

Untuk bisa mengendalikan emosi, Dewi mengikuti perintah gurunya. Yakni jika di kalangan orang awam,  dia tidak memperlihatkan identitasnya sebagai pesilat. Dia selalu berpenampilan layaknya orang-orang pada umumnya.

Sebab, Kata Dewi, hanya dengan mengenakan pakaian pencak silat saja, sudah bisa memunculkan kesan unjuk diri. Untuk itu, dia selalu berusaha dengan cara apapun menutup identitasnya sebagai pesilat handal.

”Di pencak silat, salah satu yang paling berat dilakukan itu melawan arogansi diri,” imbuh Dewi. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia