Senin, 17 Feb 2020
radarkudus
icon featured
Features
Muhammad Shodiqin, Make-Up Artist Kota Ukir

Pernah Dikira Tukang Jualan Mainan

09 Januari 2020, 12: 15: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

BERKREASI: Muhammad Shodiqin make over pengantin dengan gaya hijab modifikasi.

BERKREASI: Muhammad Shodiqin make over pengantin dengan gaya hijab modifikasi. (DOK. PRIBADI)

Share this      

Muhammad Shodiqin salah satu MUA (make up artist) berbakat di Kota Ukir. Ia memulai dari merias suka rela di event sekolah hingga menjadi perias kondang. Istimewanya, selain merias ia juga merancang dan membuat sendiri gaun pengantin miliknya.

M. KHOIRUL ANWAR, Radar Kudus, Jepara

GORESAN pensil membentuk lengkungan pada bulu alis model yang dirias Muhammad Shodiqin. Di depan kaca dengan sinar lampu LED membantunya menyelesaikan riasan. Tangan kiri memegang bedak. Sementara di antara sela-sela jari tangan kanannya ada kuas dan pensil alis.

Usai menyelesaikan bagian alis dan mata, ia mulai mengayunkan kuasnya di bagian pipi. Dasaran warna putih kecokelatan pipi model itu ditambahi warna merah muda bagian bawah mata. Rampung. Lalu kuas dan bedak diletakkan di tempat alat make-up. Giliran lipstik merah diambil Shodiqin dari kotak khusus lipstik miliknya. Jemarinya membentuk lekukan pada bibir model itu. Model itu ia rias dengan gaya hijab modifikasi.

Shodiqin ialah salah satu MUA Kota Ukir dari laki-laki. Ada puluhan MUA di Kota Ukir. Namun MUA laki-laki yang masih eksis di antaranya dia. “Tidak malu kok. Memang temen MUA didominasi cewek. Selama saya berkarya dan itu positif kenapa tidak,” kata sosok yang pernah menjadi staf sekolah ini.

Ia mulai menekuni dunia tata rias dengan iseng merias pementasan sekolah. Kemudian mencoba menambah skill dengan merias model-model fotografi. Seminar dan lomba-lomba ia ikuti. “Komunitas fotografi biasanya ada hunting foto model. Saya yang rias. Belajarnya ya otodidak,” katanya.

Setelah dari model, ada permintaan tetangga akad nikah. Awalnya ia minder. Namun ia beranikan merias untuk acara pernikahan. Mulai lah job rias pengantin berdatangan. Namun di awal-awal karirnya sebagai perias, ia masih mengendarai sepeda motor jenis Honda Grand. Box berisi alat dan perlengkapannya ditempatkan di belakang.

Suatu ketika, setelah selesai merias, ia menunggangi motornya pulang. Saat menghidupkan motor, tiba-tiba ada anak-anak menangis dari arah belakang. Ditanya oleh Shodiqin. Anak itu menjawab ingin beli mainan. Lalu disusul ibu dari anak itu. Dikatakan kalau bukan penjual mainan. “Saya ditangisi anak kecil. Dikira penjual mainan,” kenangnya.

Setelah delapan tahun lebih merintis karir di bidang tata rias, mulai merasakan hasilnya. Bahkan saat musim nikah, ia harus menolak job. Karena membatasi job maksimal tiga pengantin dalam sehari.

Namun dalam sehari ia pernah merias empat model sekaligus. Rekor terbanyak baginya ketika merias. Saat pameran wedding, Shodiqin merias empat model pengantin dengan jenis yang berbeda. Mulai jenis Solo, Jogjakarta, hijab, dan Sunda. “Kalau job pengantin tiga karena jarak. Kalau pas pameran mulai dari pagi sampai sore rias empat model. Terbanyak selama saya rias dalam sehari,” imbuhnya.

Kini di rumahnya ada lebih 90 gaun pengantin. Gaun itu untuk menunjang riasannya. Baik untuk model atau ketika terima job. Sekitar 70 di antaranya hasil rancangan dan buatannya sendiri. Shodiqin jarang membeli gaun pengantin. Saat bulan-bulan tertentu ketika tidak musim nikah, ia merancang gaun. Mulai dari menggambar, beli bahan, hingga merangkai gaunnya. “Pernik-pernik payet dan detail saya buat sendiri,” ujarnya. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia