Kamis, 30 Jan 2020
radarkudus
icon featured
Inspirasi

Tertantang Nge-MC Berbahasa Jawa

08 Januari 2020, 12: 10: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

Shofiyah Assalafiyah

Shofiyah Assalafiyah (DOK. PRIBADI)

Share this      

MENTAL saja tidak cukup untuk menjadi pembawa acara. Juga harus diimbangi wawasan luas. Persiapan matang harus dijalani. Supaya apa yang disampaikan tidak ”garing” atau blank.

Hal ini yang dirasakan Shofiyah Assalafiyah. Anak sulung dari dua bersaudara ini, mendalami menjadi master of ceremony (MC). Menjadi pembawa acara sudah diasah sejak SMP. Berawal saat dirinya menjadi anggota organisasi siswa intra sekolah (OSIS).

Di organisasi itu, mengharuskan berani berbicara di depan umum, menyampaikan informasi, dan memimpin rapat. ”Kebiasaan ini akhirnya saya nikmati,” ujar pemilik tinggi badan 154 dan berat badan 48 kg tersebut.

Perempuan yang akrab disapa Shofiya ini, juga mengasah kemampuannya itu, dengan belajar dari orang-orang sekitar. Termasuk guru dan ustad di pesantren agar lebih mantab.

Meski sering tampil, Shofiya tidak menampik masih ada rasa canggung. Namun semua dapat teratasi dengan berdoa dan persiapan matang. Di antara persiapan yang dilakukan, sebelum nge-MC dia mencatat poin-poin yang harus disampaikan.

”Ada satu harapan yang tersimpan dalam hati. Kalau saat ini biasa (nge-MC) menggunakan bahasa Indonesia, untuk waktu mendatang harus bisa menggunakan bahasa Jawa,” ujar perempuan yang berdomisili di RT 3/RW 1, Desa Wuwur, Kecamatan Pancur, Rembang, ini.

Targetnya kalau bisa menggunakan bahasa Jawa, ia akan belajar menjadi pembawa acara pernikahan. Karena peluangnya besar. Apalagi Shofiya juga mendengar di Rembang sendiri ada sekolah khusus yang mendidik tentang kebudayaan Jawa. Termasuk menjadikan MC manten berbahasa Jawa.

”MC putri untuk manten Jawa masih langka. Ini peluang yang bagus. Sekaligus bisa ikut melestarikan bahasa Jawa,” cetusnya.

(ks/noe/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia