Kamis, 30 Jan 2020
radarkudus
icon featured
Cuitan

Tahun Baru di Puncak Gunung Tidar

02 Januari 2020, 09: 06: 38 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (radar kudus)

Share this      

DI mana Anda saat pergantian tahun kemarin malam? Di manapun, yang penting bisa melihat diri sendiri dengan jernih dan menetapkan langkah perbaikan ke depan. Saya bikin status WA dengan kata-kata, ”Jangan mengatakan sekarang tahun 2020 kalau tindakan masih sama 2019.”

Untuk muhasabah itu, saya memilih Magelang. Di puncak Gunung Tidar. Inilah gunung yang naiknya paling simple. Tidak perlu bekal dan peralatan. Tidak perlu tenaga ekstra. Tingginya hanya 506 mdpl. Sebenarnya tidak boleh disebut gunung. Lebih tepatnya bukit. Atau, bahkan gumuk.

Di gunung itu, ada makam ulama besar yang disebut-sebut berasal dari Turki kelahiran Iran. Namanya Syeh Subakir. Tertulis jelas di sebuah papan di samping pintu masuk. Kuburnya dikelilingi pagar tembok batu bata membentuk lingkaran. Dalam berbagai literatur disebut wali generasi pertama yang menyebarkan Islam di tanah Jawa.

Perjuangannya luar biasa keras. Sampai-sampai harus mengalahkan para jin beserta dedengkotnya di Gunung Tidar itu. Menggunakan ajian kalimasada (yang ini entah benar atau tidak, wallahu a’lam). Saya menziarahinya di malam pergantian tahun sekaligus untuk mengenang jasa-jasanya. Syukur-syukur ketularan sesedikit apapun perjuangannya. Subakir masuk tanah Jawa karena diutus oleh Sultan Muhammad I dari Kesultanan Turki Utsmaniyah.

Saya sadar hidup ini berat. Apalagi memimpin dua perusahaan koran. Radar Kudus dan Radar Semarang. Saya ingin introspeksi. Sudah pasti tahun 2020 lebih berat lagi. Atasan sudah menyerahi amanat baru. Mulai 1 Januari 2020. Menjadi wakil direktur di Jawa Pos Radar, grup yang membawahi 18 perusahaan, termasuk Radar Kudus dan Radar Semarang. Memang belum pasti. Surat keputusannya belum saya terima. Mudah-mudahan tidak jadi.

Sebelum naik ke Gunung Tidar saya mampir di kantor Jawa Pos Radar Semarang Biro Kedu di Jalan Pahlawan, Kota Magelang. Menyerahkan langsung dua surat keputusan pengangkatan dua wartawan di sana. Bagian dari SK pengangkatan 12 karyawan baru Radar Semarang di pergantian tahun. Alhamdulillah. Inilah, bagian dari semangat dan upaya menjadikan perusahaan lebih baik di tahun 2020.

Pukul 23.00 saya sudah berada di kaki gunung yang berada di Kelurahan Magersari, Kota Magelang, itu. Ditemani Tabah Riyadi, wartawan Radar Semarang yang bertugas di Temanggung. Pas jarum jam menunjuk angka 23.19, kaki mengayun di trap pertama menunju puncak. Saya hitung anak tangga itu. Total 418 buah. Ternyata itu jalan turun. Anak tangganya lebih tinggi. Jalan naiknya ada di seberang. Justru saya gunakan untuk turun. Total 478 buah.

Sepuluh menit kemudian sudah sampai di makam Syeh Subakir. Tabah menyusul 12 menit kemudian. Nafasnya ngos-ngosan. Padahal umurnya 31 tahun lebih muda dibanding saya. Badannya enam kilogram lebih berat. ”Nggak kuat. Perut saya sakit,” katanya sambil menepuk perutnya yang lebih besar dibanding perut saya. Dia mampir ke toilet di sebelah makam. Di situ juga ada warung. Ada pula masjid  yang diberi nama Pancaran Amal.

Sepanjang perjalanan itu, pikiran melayang ke cerita pertempuran Syeh Subakir dengan raja jin. Merinding. Apalagi lokasi itu merupakan hutan yang dilindungi. Pohon-pohonnya tinggi. Penerangan hanya di tangga naik dan turun. Kalau siang banyak monyet. Konon ada ular juga. Ada beberapa kuburan di sekitar tangga naik.

Beberapa meter menjelang lokasi makam itu bau dupa sudah menyengat. Menyebar sampai warung dan masjid. Padahal, di samping makam sudah ada peringatan, dilarang membakar dupa atau kemenyan. Di sebelah masjid seorang mengenakan pakaian hitam duduk tepekur. Di paseban makam dua orang yang juga berpakaian hitam sedang tiduran.

Di halaman makam ada 20-an orang berziarah. Lima di antaranya perempuan. Terpisah, sepasang laki-laki dan perempuan serta dua anak sedang membaca tahlil. Saya menempatkan diri persis di depan pintu makam setelah sekelompok 20-an orang tadi bergeser ke paseban.

Di depan saya ada lima tangkai bunga sedap malam, setakir bunga aneka macam, dan kira-kira tiga genggam bunga mawar merah putih. Di situ saya bertahlil. Mendoakan Syeh Subakir, para wali, dan keluarga yang sudah meninggal. Setelah itu baru ber-muhasabah terutama mengingat mati. Itulah tujuan saya. Sama sekali bukan untuk ritual lain yang berbau klenik. Saya orang NU.

Ketika bunyi mercon terdengar bersahut-sahutan dari segala penjuru, saya sedang membaca subhanallah wabihamdihi, subhanallahiladzim. Artinya, Maha Suci Allah dengan segala puji baginya, Maha Suci Allah yang Maha Agung. Saat itu saya melirik jarum jam. Tepat pukul 00.00. Pas pergantian tahun itu, saya bisa mengecilkan diri dan membesarkan nama Tuhan.

Dari makam Syeh Subakir melanjutkan ke puncak gunung. Kira-kira seratus meter perjalanan ada makam besar. Yang diberi nama makam Kiai Sepanjang. Itu bukan orang. Melainkan, tombak milik Syeh Subakir yang panjangnya tujuh meter. Bisa terbayang bagaimana menggunakannya saat itu.

Kira-kira perjalanan 100 meter lagi sampailah di puncak gunung. Sudah banyak orang tahu di sana terdapat tugu kecil berwarna putih. Disebut Tugu Tanah Jawa. Konon, Gunung Tidar adalah pusar Pulau Jawa. Letaknya persis di tengah. Saya tidak bisa memastikan. Di kompas tertulis 7.24.38,1 selatan dan 110.10.49 timur. Ketika saya tiba ada tiga orang berpakaian hitam bersila di samping tugu tanpa kata. Bau dupa menyengat.

Tugu itu nyaris di tengah lapangan. Sekitar 50 meter dari tugu itu ada tugu yang besar tinggi menjulang. Disebut Tugu Akmil. Di Gunung Tidar itu memang ada kompleks Akademi Militer. Orang awam tidak boleh masuk. Di dekat tugu itu dibangun Monumen Tanah Air. Sudah kelihatan wujudnya. Tinggi, besar. Berkaki tiga setengah lingkaran. Puncaknya berupa obor. Mestinya bangunan dengan anggaran Rp 1,1 miliar APBD Kota Magaleng itu selesai 21 Desember. Tapi, belum jadi.

Keluar dari lapangan itu, ada bangunan seperti tumpeng nasi kuning raksasa. Tertulis makam Eyang Ismoyo Jati. Banyak orang menyebut makam Kiai Semar. Suasananya mistis. Lagi-lagi bau dupa menyengat. Penerangan terbatas. Ada dua orang tidur di sebelah makam. Tujuh lainnya duduk-duduk. Nah, Eyang Semar inilah yang disebut-sebut rajanya jin yang ditaklukkan Syeh Subakir.

Kalau Syeh Subakir bisa mengalahkan rajanya jin, masak kita tidak bisa mengalahkan hawa nafsu diri kita sendiri. Selamat Tahun Baru. Semoga lebih baik. (hq@jawapos.co.id)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia