Kamis, 30 Jan 2020
radarkudus
icon featured
Pena Muda
Eni Mardiyani, Pendamping ODHA Kudus

Yakinkan Pasien, Penyakit HIV/AIDS Bisa Disembuhkan

23 Desember 2019, 07: 52: 39 WIB | editor : Ali Mustofa

Eni Mardiyani

Eni Mardiyani (Dok Pribadi)

Share this      

ENI Mardiyanti membantu orang dengan HIV/AIDS (ODHA) belasan tahun. Perempuan asal Desa megawon Kudus mulai aktif damping ODHA sejak 2008. Awal mulanya ketika dia bergabung dengan kelompok masyarakat ahli narkoba pada 2006. Namun seiring berjalanya waktu beliau menemukan seorang penginap HIV karena narkoba suntik. Oleh karena itu pada saat itu, ia lebih serius mendalami materi materi HIV /AIDS tepatnya di 2008.

”Ketika bisa melayani mereka (ODHA, Red) pada saat jatuh, saya baru merasa seperti manusia,” kata perempuan yang saat itu memakai kemeja putih dengan pin berlogo pita merah di dadanya.

”Dulu sebelum terjun ke HIV/AIDS, saya terjun di gerakan anti narkoba,” kata perempuan yang juga menjabat sebagai manajer kasus di Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kabupaten Kudus ini.

Setelah adanya kasus ini, kelompok ini tak lagi aktif. Melihat adanya temuan HIV di Kabupaten Kudus, akhirnya dirinya bersama rekan yang semisi dengannya membentuk kelompok dukungan sebaya pada 2008. Kelompok ini diberi nama Kasih Ibu. Seingatnya ada 15 orang yang menggabungkan diri di kelompok ini.

”Anggotanya dari ODHA dan OHIDA. Seingat saya ada sekitar 15 orang saat itu,” jelasnya.

Saat awal memutuskan untuk terjun, Eni mengaku sama sekali tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang HIV/AIDS. Namun dirinya berusaha keras paham tentang virus dan penyakit ini.

Selain belajar dari berbagai literatur, dirinya mengaku banyak mendapat ilmu saat melakukan pendampingan ODHA. Jadi dirinya tak hanya mengantarkan ODHA ke klinik. Lebih dari itu, dirinya juga secara langsung mendampingi ketika ODHA diperiksa oleh dokter atau petugas kesehatan.

”Enaknya begitu. Saat pendampingan saya dapat menanyakannya langsung kepada si penderita dan dokternya. Jadi saya saat ini sudah paham ciri fisik orang yang terinfeksi HIV,” kata perempuan kelahiran Kudus, 6 Mei 1967.

Berjuang di jalan ini diakuinya bukan hal yang mudah. Sebab, lebih banyak dirinya mendapat penolakan dari yang bersangkutan ketika ditawari untuk berobat. Namun dirinya tak patah semangat. Bahkan dirinya rela mengurusi semuanya demi si ODHA mau untuk berobat. Mulai dari mengurus segala macam administrasi. Hingga mengantarkan ODHA ke rumah sakit.

Dikatakannya melakukan penenganan terhadap ODHA harus sabar. Tidak bisa arogan apalagi main bentak. Pendekatan yang dilakukan dari hati ke hati. Bahkan dirinya bisa hampir tiap hari mendatangi rumah yang bersangkutan hanya untuk bisa membujuk agar mau berobat.

”Rasanya lebih dari senang bisa melihat orang yang hari ini bisa dibilang mau mati. Namun setelah enam bulan kita dampingi bisa sehat kembali. Beraktivitas seperti manusia normal lainnya. Saya tidak mendapatkan apa-apa. Tapi di situlah saya baru merasakan sebagai manusia,” tutur perempuan yang tinggal di RT 6/RW I, Desa Megawon, Kecamatan Mejobo, Kudus ini.

Saat ini hingga akhir nafasnya dirinya bertekad untuk terus bisa menjadi pelayan ODHA. Sekarang ini, bersama KPAD Kabupaten Kudus sedang gencar melakukan screening kesehatan bagi masyarakat. Dirinya ingin menemukan masyarakat ketika masih HIV. Bukan ketika sudah dalam pelayanan.

”Yang diketahui orang ketika menderita HIV/AIDS adalah mati. Padahal mereka bisa disembuhkan. Dengan cara yang benar,” tutupnya. (Ma'ruf/ofi/uswatun/fina/yakub/daf)

 

Rubrik ini adalah karya jurnalistik para penerima Beasiswa Anak Asuh - Sumbangsih Sosial Djarum Foundation. Diterbitkan atas kerja sama Radar Kudus, Forum Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (FLKSA) Kabupaten Kudus dan Djarum Foundation. Para penerima beasiswa adalah anak asuh panti asuhan di Kudus yang mendapatkan beasiswa pendidikan penuh di SMK Binaan Djarum Foundation.

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia