alexametrics
Minggu, 09 May 2021
radarkudus
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Kopi Organik Desa Kunir Jepara Kantongi Sertifikat

18 Desember 2019, 11: 48: 21 WIB | editor : Ali Mustofa

DISERTIFIKASI: Kopi organik yang dihasilkan di Desa Kunir, Keling, dinyatakan lolos sertifikasi.

DISERTIFIKASI: Kopi organik yang dihasilkan di Desa Kunir, Keling, dinyatakan lolos sertifikasi. (KELIBAN FOR RADAR KUDUS)

Share this      

JEPARA, Radar Kudus - Petani kopi di Desa Kunir, Keling, memperluas lahan budidaya kopi organik. Kopi organik yang dihasilkan di desa tersebut dinyatakan lolos sertifikasi sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI), ketentuan Menteri Pertanian, serta regulasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sido Dadi Keliban mengatakan, sebelum lolos sertifikasi pihaknya mendapat pendampingan lebih dua tahun untuk memastikan produk yang dihasilkan tertangani secara organik sejak budidaya hingga proses pengolahan dan pengemasan. ”Di Jepara hanya ada dua gapoktan yang bisa memperoleh sertifikat ini. Yaitu kami dan gapoktan di Desa Tempur,” katanya.

Sertifikat ini diterbitkan lembaga sertifikasi Icert, berlaku sejak 3 Oktober 2019 hingga 2 Oktober 2020. Produk kopi organik Gapoktan Sido Dadi lolos sertifikasi sesuai ketentuan SNI 6729:2016 tentang Sistem Pertanian Organik, Permentan Nomor 64 Tahun 2013 tentang Sistem Pertanian Organik, serta Peraturan Kepala BPOM Nomor 1 Tahun 2017 tentang Pengawasan Pangan Olahan Organik.

Baca juga: Ternyata Alasan Ini DPD PPP Rembang hanya Buka Penjaringan Cawabup

(KELIBAN FOR RADAR KUDUS)

Produk yang disertifikasi berupa kopi robusta green bean (biji kopi) dari lahan budidaya seluas 12,04 hektare di Desa Kunir. Sedangkan operasional produksi yang disertifikasi meliputi produksi, pengolahan (pulping, drying, dan hulling), serta pengemasan kopi robusta. Hampir semua tanaman kopi di Kunir merupakan kopi robusta.

Keliban melanjutkan, meski sertifikat ini berlaku dari lahan 12,04 hektare, tapi petani yang tergabung di gapoktan kami terus melakukan perluasan budidaya. ”Saat ini luas lahan produksi kopi organik sudah mencapai 25 hektare,” jelasnya.

Inspeksi untuk menentukan lolos atau tidaknya kopi organik di lahan perluasan akan dilakukan pada Maret mendatang. Sedangkan inspeksi terakhir pada produk yang telah disertifikasi, berlangsung Agustus lalu selama tiga hari.

Perluasan lahan budidaya organik dilakukan karena permintaan kopi organik terus meningkat. Ada yang untuk keperluan ekspor, pabrik, juga untuk memenuhi permintaan komunitas penyaji kopi, seperti di kafe, kedai, dan angkringan.

Selain itu harga jual kopi organik lebih tinggi. Kopi organik diyakini lebih sehat karena tidak mengandung unsur kimia. ”Dalam bentuk green bean, harga kopi robusta di tingkat petani di sini sekitar Rp 18 ribu per kilogram. Sedangkan kopi organik robusta bisa mencapai Rp 40 ribu,” jelasnya.

Keliban menambahkan, petani di desanya berkomitmen menjaga kualitas kopi sesuai standar masing-masing jenis produk. Untuk kopi petik merah misalnya, kata Keliban, dia memastikan semua kopi yang diolah benar-benar dipanen dalam kondisi kulitnya sudah berwarna merah. ”Ada satu saja yang warnanya hitam, pasti saya sisihkan. Proses pengeringan di bawah sinar matahari pun dilakukan di para-para,” imbuhnya.

(ks/emy/zen/top/JPR)

 TOP