alexametrics
Selasa, 11 Aug 2020
radarkudus
Home > Kudus
icon featured
Kudus

YDBL bersama Sahabat Lestari Adakan Seminar Grooming di Kudus

15 Desember 2019, 08: 32: 54 WIB | editor : Ali Mustofa

PERCAYA DIRI: Yulia F. Hartanto mengajak seluruh perempuan yang hadir agar berani mensejajarkan diri dengan laki-laki.

PERCAYA DIRI: Yulia F. Hartanto mengajak seluruh perempuan yang hadir agar berani mensejajarkan diri dengan laki-laki. (FAQIH MANSYUR HIDAYAT/RADAR KUDUS)

Share this      

KUDUS, Radar Kudus - Yayasan Dharma Bhakti Lestari (YDBL) bersama Sahabat Lestari adakan seminar tentang grooming. Seminar ini dilaksanakan agar perempuan-perempuan masa kini menjadi lebih tangguh dalam menghadapi tantangan.

Pidi Winata, pengurus YDBL mengungkapkan, seminar ini dilaksanakan atas dasar kepedulian terhadap perempuan masa kini. Sebab, di era disrupsi ini, perempuan dihadapkan dengan tantangan-tantangan perubahan zaman yang kian kompleks.

Pidi menambahkan, narasi-narasi kesetaraan gender menjadi salah satu topik penting yang dibahas publik beberapa tahun terakhir. Ini menunjukkan saat ini perempuan harus berubah. Tidak boleh ada lagi perbedaan derajat antara perempuan dan laki-laki.

”Sebenarnya kami ingin memprovokasi perempuan-perempuan yang hadir agar lebih berani mensejajarkan dirinya di era saat ini. Yang terpenting adalah kepercayaan diri mereka meningkat setelah dari ruangan ini,” kata Pidi dalam seminar yang diikuti 250 lebih perempuan dari Kudus, Jepara, dan Demak itu.

Sementara itu, Yulia F. Hartanto, Guru Grooming sekaligus narasumber, menegaskan perempuan masa kini tidak boleh kalah dari laki-laki. Namun, keberanian mereka harus tetap pada koridor etis.

Istilah Grooming, kata Yulia, bisa dimaknai sebagai personal branding. Para peserta diajari untuk membranding dirinya agar tidak dipandang sebelah mata oleh laki-laki maupun sesama perempuan.

Dalam hal ini, Yulia mengajarkan supaya perempuan harus cerdas dalam hal apa pun. Bagi ibu-ibu, dia mengajak untuk menjadi ibu yang tangguh. Tidak boleh menjadi objek negatif dari suami. Jika bisa, ibu-ibu harus menjadi wanita karier. Agar tidak dianggap sebagai penikmat uang suami saja. Melainkan bisa memiliki penghasilan sendiri.

”Meskipun sudah bisa berpenghasilan sendiri, sebagai istri juga wajib hormat dengan suami. Inilah yang saya sebut dengan kesetaraan dalam koridor etis. Semua ada batasnya,” tutur Yulia.

Sedangkan, untuk perempuan yang belum menikah, Yulia mengajak agar tidak menjadi perempuan yang mudah dikelabuhi oleh laki-laki. Mereka harus pandai-pandai membranding dirinya agar laki-laki menghormatinya. Salah satunya yakni dengan menunjukkan etika dan kecerdasan. Sebab kedua hal inilah yang menjadi nilai lebih perempuan dalam hal kesetaraan. (qih)

(ks/mal/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia