Kamis, 30 Jan 2020
radarkudus
icon featured
Features
Irvan Aji Maulana, Peraih Perunggu SEA Games

Dilatih Bapak Sendiri, Kepala Benjol karena Kena Sikut Lawan

13 Desember 2019, 09: 09: 16 WIB | editor : Ali Mustofa

MEMBANGGAKAN: Irvan Aji Maulana Putra bersama medali perunggu yang diraih di Cabor Muaythai SEA Games 2019.

MEMBANGGAKAN: Irvan Aji Maulana Putra bersama medali perunggu yang diraih di Cabor Muaythai SEA Games 2019. (DOK. PRIBADI)

Share this      

Atlet asal Grobogan kembali mendunia. Irvan Aji Maulana Putra, berhasil meraih medali perunggu di cabor muaythai di SEA Games 2019 yang digelar di Manila, Filipina. Itu menjadi capaiannya tertinggi, meski baru di usia ke 18 tahun.

SAIFUL ANWAR, Grobogan, Radar Kudus

KEPALA Irvan Aji Maulana Putra benjol setelah terkena sikut atlet Muaythai tuan rumah, Filipina. Di laga semi final yang digelar Sabtu (7/12) sore itu. Irvan kalah sekaligus kepalanya benjol. Itu karena pengaman sikut yang digunakan atlet lawan Irvan itu terlalu ke bawah. Sehingga, saat sikut lawan mengenai kepala Irvan, langsung benjol.

”Harusnya kan pas di sikutnya. Tapi, pengamannya itu agak ke bawah. Jadinya masih bahaya kalau kena,” tutur Irvan yang kemarin berada di Bogor setelah pulang dari Filipina.

Irvan mengaku, sebenarnya dia hanya bertanding sekali dan langsung di laga final. Sebab, dia mendapatkan undian bye, sehingga langsung melakoni laga kedua. Kebetulan, pada laga kedua itu dirinya kalah, tetapi langsung mendapat juara tiga bersama Laos.

Usai laga yang membuat kepalanya benjol itu, atlet kelahiran Semarang, 5 April 2001 itu, langsung mendapatkan perawatan di rumah sakit setempat. Namun, perawatan itu tak lama. Irvan menganggap benjolan itu biasa, bagi atlet Muaythai.

”Cuma sakit biasa. Saya yang tidak betah. Cuma jam 08.00 sampai jam 09.00 (di rumah sakit), setelah itu balik ke hotel,” kata Irvan yang berlaga di nomor 63,5 kg tersebut.

Berhasil meraih medali perunggu di ajang sekelas SEA Games tentu saja membuatnya sangat bangga. Ini pun menjadi raihannya yang tertinggi selama kiprahnya menjadi atlet. Meski kini usianya baru 18 tahun.

Beberapa prestasi yang pernah diraihnya, antara lain medali emas di Kejurnas Muaythai VII dan Liganas Seri X pada Juni 2019, Kejurnas Muaythai VI 2018 di Jakarta Selatan pada Desember 2018, Porprov Jateng XV/2018 di Surakarta, serta Liga Nasional Muaythai Seri IX Piala Wakil Presiden 2018 di Tulung Agung. Di empat ajang tersebut, Irvan berhasil menggondol emas.

Berbagai prestasinya itu, tak lepas dari dukungan berbagai pihak. Selain orang tua, tentu saja pihak Pengurus Besar Muaythai Indonesia (PBMI) serta Pengurus Kabupaten (Pengkab) Muaythai Grobogan. Irvan mengaku, sudah menganggap Ketua Pengkab Muaythai Grobogan Kukuh Prasetyo Rusady sebagai orang tuanya sendiri.

”Didukung terus (oleh Kukuh Prasetyo Rusady), dimotivasi, dan diberi semangat. Para pelatih juga dan bapak juga yang terus melatih,” aku siswa Kelas XII SMAN 14 Semarang itu.

Ya, selain pelatih profesional lain, sosok sang ayah Dwijo Purwanto memang memberikan pengaruh banyak terhadap perkembangan skill-nya. Ayahnya memang pelatih muaythai. Bahkan, sang ayah merupakan pelatih Jateng yang kini sedang mempersiapkan para atlet untuk Pra-PON (Pekan Olahraga Nasional).

”Saya bisa begini juga bapak yang melatih dari kecil. Bapak sekarang menjadi pelatih atlet muaythai Jawa Tengah yang akan bertanding di Pra-PON,” kata sulung tiga bersaudara itu.

Atas prestasi Irvan di level internasional itu, dia memang tak perlu mengikuti Pra-PON. Dia akan langsung bertarung di PON 2020 yang akan digelar di Papua. Berhasil menggondol perunggu di ajang internasional ini pun menjadi modal yang berharga baginya.

Irvan, meski lahir dan besar di Semarang, namun dia memang memiliki darah Grobogan. Sang ayah asli Desa Tanjungrejo, Kecamatan Wirosari, Grobogan. Sedangkan ibunya berdarah Semarang. Namun, dia mengaku selalu bertanding untuk mewakili Grobogan sejak menjadi atlet profesional.

Alamatnya saat ini juga di Semarang, tepatnya di Desa Cempolorejo, Karangayu, Semarang Barat. Dia bercerita, sudah aktif di mix martial art sejak SD. Dia sempat belajar wushu dan pencak silat, sebelum akhirnya hanya fokus di muaythai.

Terpisah, Ketua Pengkab Muaythai Grobogan Kukuh Prasetyo Rusady mengatakan, Irvan merupakan sosok yang penurut, disiplin, dan rendah hati. Kukuh mengaku sempat ke Filipina untuk memberi semangat langsung kepada Irvan, kendati tak melihat langsung laga yang dimainkan atletnya itu.

”Sempat ke sana, tapi tidak lihat pas main. Irvan ikut pelatnas baru lima bulanan. Dulu sempat dipanggil (ke pelatnas), tapi dibalikin lagi. Ini dipanggil lagi, langsung ikut SEA Games dan dapat perunggu,” katanya. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia