Kamis, 30 Jan 2020
radarkudus
icon featured
Grobogan

Tim Penilai Mulai Terjun Sasar Calon Sekolah Adiwiyata

12 Desember 2019, 13: 11: 29 WIB | editor : Ali Mustofa

CEK LAPANGAN: Tim penilai sekolah adiwiyata mengecek upaya sekolah dalam mewujudkan program adiwiyata. Total ada 22 sekolah yang dinilai.

CEK LAPANGAN: Tim penilai sekolah adiwiyata mengecek upaya sekolah dalam mewujudkan program adiwiyata. Total ada 22 sekolah yang dinilai. (INTAN MAYLANI SABRINA/RADAR KUDUS)

Share this      

GROBOGAN, Radar Kudus Tim penilai sekolah adiwiyata mulai turun ke sekolah-sekolah. Total ada 22 sekolah di Kota Swieke yang mengikuti penilaian. Mereka melihat langsung upaya sekolah dalam mewujudkan program adiwiyata.

Penilaian itu dilakukan di tujuh SD, sembilan SMP, dan enam SMA/SMK/MA. Dilaksanakan selama empat hari. Mulai pada 10, 11, 12 dan 16 Desember. Dalam sehari tim melakukan penilaian di enam sekolah.

Wiwik Kuncoroningkrum, salah satu tim penilai mengatakan, ada beberapa komponen dalam penilaian. Pertama, kebijakan dan wawasan sekolah soal lingkungan. Kedua, pelaksanaan kurikulum berbasis lingkungan. Ketiga, kegiatan lingkungan berbasis partisipatif. Serta yang keempat pengelolaan sarana pendukung ramah lingkungan.

”Kami mengecek satu per satu secara fisik hingga rekapan anggaran. Kemudian kami melakukan evaluasi. Ke depan akan dirapatkan bersama membahas sekolah mana yang layak mendapatkan penghargaan adiwiyata. Yang lolos baru diminta mengumpulkan berkas,” jelas pria yang juga kasi Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DLH Grobogan.

Menurutnya, selama penilaian ini masih banyak yang harus dievalusi sekolah. Terlebih mengenai pemanfaatan lahan sekolah untuk penghijauan. Kemudian pengurangan sampah plastik yang ada di kantin sekolah.

”Untuk kantin sehat dengan menyediakan makanan yang sehat untuk anak. Tak ada bahan pewarna maupun kopi susu. Harusnya susu saja malah baik. Karena kopi ada kafein dan membuat stunting. Kemudian mengurangi sampah plastik. Anak-anak membawa wadah makan dan minum dari rumah,” jelasnya.

Selain itu, pemanfaatan lahan untuk penghijauan lebih dilengkapi. Penggunaan biopori air resapan juga masih minim diterapkan. Kemudian masih banyak papan maupun kertas dan sterofoam yang di tempel di dinding. Seharusnya dibingkai, baru digantung sehingga tidak merusak dinding.

Kepala SMPN 3 Purwodadi Fathurrohim Nashoha menambahkan, kekompakan guru dan murid dirasa penting untuk bisa menjadikan sekolah tersebut layak mendapatkan penghargaan adiwiyata.

”Memang masih kurang. Namun tahun ini saya sudah mengajak anak-anak untuk merawat tanaman. Dibanding tahun lalu, 2019 ini sudah cukup hijau. Namun masih kurang. Terlebih rumput di lapangan mungkin akan diganti dengan rumput gajah yang lebih bagus. Kemudian jenis tanaman akan diperbanyak lagi ditambah pelabelan tanaman,” imbuhnya. 

(ks/int/lid/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia