Kamis, 30 Jan 2020
radarkudus
icon featured
Kudus

Ubah Cara Pandang terhadap Disabilitas, Ganjar Perintahkan Beri Akses

12 Desember 2019, 09: 34: 37 WIB | editor : Ali Mustofa

APRESIATIF: Gubernur Ganjar Pranowo mengagumi kemandirian dan kreativitas kalangan penyandang difabel dalam Peringatan Hari Disabilitas Internasional ke-27 di Gedung Wanita kemarin.

APRESIATIF: Gubernur Ganjar Pranowo mengagumi kemandirian dan kreativitas kalangan penyandang difabel dalam Peringatan Hari Disabilitas Internasional ke-27 di Gedung Wanita kemarin. (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang)

Share this      

SEMARANG, Radar Kudus – Peringatan Hari Disabilitas Internasional ke-27 dilaksanakan dengan cara berbeda. Mulai dari penyelenggara hingga penampil, semua dikerjakan penyandang disabilitas dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Sedikitnya ada 500 penyandang disabilitas bahu membahu-membahu mensukseskan acara yang digelar di Gedung Wanita kemarin.

Beberapa di antara para penampil ada grup band tunanetra dari Sahabat Mata Semarang Perca Voice yang mendapat apresiasi secara langsung dari Gubernur Ganjar Pranowo. ”Mereka mengatakan kepada saya, kami normal, Pak. Karena Tuhan memberi kenormalan kami seperti ini. Normalnya Pak Ganjar dengan kami beda. Itu paradigma baru bagi saya. Maka kita sebagai pemerintah harus punya paradigma baru,” ujar gubernur.

Peringatan yang mengangkat tema Indonesia Inklusi Disabilitas Unggul ini, membuktikan bahwa ketika diberikan kesempatan, penyandang disabilitas bisa menyuguhkan karya yang tak kalah hebat. Di hadapan gubernur Jawa Tengah mereka bahkan berikrar tiga pokok penting. Yakni, menyatakan kesetiaannya pada NKRI dan Pancasila, kesetiaannya kepada pemerintah, serta tidak membutuhkan belas kasihan dari siapapun.

”Kami pada penyandang disabilitas Jawa Tengah berikrar tidak membutuhkan belas kasihan dari siapapun. Yang kami inginkan adalah akses dan ruang yang sama," kata petugas pembaca ikrar dari atas kursi roda.

Gubernur menegaskan, yang mereka perlukan adalah diberikan kesempatan yang sama. ”Ternyata ketika mereka melakukan aktivitas sendiri dan dikelola sendiri, jadinya juga luar biasa. Mulai dari MC hingga yang mengisi acara adalah mereka,” komentar Gubernur Ganjar saat menghadiri peringatan kemarin.

Bahkan, penyandang tunarungu dari Magelang menampilkan pertunjukan Tari Soreng. Meski tidak mendengar, gerakan mereka sangat padu dengan gamelan yang mengiringi. Menurut Ganjar sudah semestinya paradigma mengenai disabilitas diubah.

Selain menampilkan sejumlah kesenian, sejumlah karya juga dipamerkan di halaman Gedung Wanita Semarang. Mulai dari kerajinan tangan, produk fashion, serta sejumlah karya seni yang bahkan menarik minat Gubernur Ganjar untuk menukarnya dengan sejumlah uang.

”Hari ini (kemarin, Red) mereka memamerkan kerajinan dan sudah dijual. Banyak yang sold out. Ada karya mereka yang memang layak untuk dibeli, layak dipakai, dan sebagainya. Mudah-mudahan perayaan seperti ini bisa menunjukkan bahwa dari mereka, oleh mereka, dan untuk mereka. Kami yang memfasilitasi,” imbuhnya setelah mengunjugi stan-stan dan membeli sejumlah produk karya difabel.

Pada kesempatan ini, Gubernur Ganjar kembali menegaskan untuk memberikan akses dan kesempatan kepada para penyandang disabilitas. Baik akses dalam bentuk fisik, seperti fasilitas umum di jalan raya, gedung instansi, dan sejumlah tempat umum lain. Juga akses agar para difabel dapat berusaha. Yakni dengan memberikan pelatihan, modal, serta pendampingan hingga bisa mandiri.

”Sekarang kebijakannya, bagaimana seluruh pengambil keputusan peduli. Tolong dong gedungnya yang tidak ada akses untuk penyandang disabilitas dibuat sekarang,” ujarnyanya.

Perintah ini telah disampaikan kepada bupati/wali kota di Jawa Tengah. Bahkan hingga ke tingkat desa. Gubernur juga telah mendorong desa-desa untuk menjadi desa inklusi. ”Dari desa, kepala desa dan perangkat desa harus tahu jumlah penyandang disabilitas berapa, di mana, dan kebutuhannya apa saja. Sehingga akses bisa kita berikan dengan data yang tidak keliru. Ini yang terus kita dorong,” tegasnya.

Deddy Cahyo Nugroho, pengajar keterampilan di Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Semarang menyampaikan, salah satu yang tak kalah penting adalah sarana-prasarana ramah difabel di tempat wisata. Sebab, difabel juga perlu hiburan dalam bentuk rekreasi. ”Memang masih ada beberapa yang belum ramah untuk kami. Semoga dengan komitmen ini, Semarang dan daerah-daerah lain di Jawa Tengah menjadi lebih ramah difabel,” ujarnya.

Plt Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah Yusadar Armunanto mengatakan, pada peringatan Hari Disabilitas Internasional kali ini, digelar sejumlah kegiatan untuk meningkatkan harkat penyandang disabilitas. Kepada mereka, diberikan kesempatan untuk bisa menunjukkan potensi yang mereka miliki. ”Bukan dikasihani,” ujarnya.

Dalam acara ini juga disalurkan bantuan untuk memfasilitasi penyandang disabilitas yang tak mampu. Di antaranya 25 kursi roda adaptif dari BNI, 10 kursi roda standar dari Baznas Jawa Tengah, sejumlah tangan palsu mekanik bantuan dari Undip bekerja sama dengan P3D, dan 20 kaki palsu bantuan Baznas Jawa Tengah. ”Termasuk disampaikan pula pengadaan tujuh ambulans kepada panti untuk mendukung operasional,” ujarnya. (sga/kom/ida)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia