Kamis, 30 Jan 2020
radarkudus
icon featured
Kudus

Banjir Bandang Terjang Kudus: Lumpur dan Batu Hantam Rumah Warga

11 Desember 2019, 16: 55: 15 WIB | editor : Ali Mustofa

BERSIH: Pascaterjadi banjir bandang warga gotong royong membersihkan sungai dan jalan di Desa Wonosoco, Undaan, Kudus, Senin (9/12). Bencana ini terjadi tiap tahun.

BERSIH: Pascaterjadi banjir bandang warga gotong royong membersihkan sungai dan jalan di Desa Wonosoco, Undaan, Kudus, Senin (9/12). Bencana ini terjadi tiap tahun. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)

Share this      

KUDUS, Radar Kudus – Banjir bandang lagi-lagi menerjang sebagian wilayah di Desa Wonosoco, Undaan, Kudus. Banjir bandang yang terjadi sekitar pukul 18.00 Senin (9/12) membuat belasan rumah di RT 1, 4, dan 5/ RW 1 terdampak. Tak hanya kemasukan air, rumah warga juga kemasukan lumpur dan batu. Pohon-pohon di pegunungan Kendeng yang hilang ditengarai menjadi penyebab utama musibah rutinan ini.

Salah satu warga RT 1/RW 1 Riko, 61, mengatakan peristiwa banjir bandang selama tiga tahun ini selalu datang. Terlebih ketika musim penghujan tiba. Rumahnya selalu terdampak. Kemarin, air yang masuk rumah bahkan mencapai sekitar 1 meter.

”Arusnya deras sekali. Air campur lumpur dan bebatuan masuk rumah semua. Mungkin kalau depan rumah tak ada penahannya, rumah saya bisa jebol,” kata Riko sambil menunjukkan bekas genangan air di tembok rumahnya.

Dikatakannya warga sudah waspada sejak hujan turun. Berdasarkan pengalaman yang ada, jika hujan lebat turun lebih dari satu jam. Senin (9/12) malam lalu hujan turun sejak pukul 17.30 hingga pukul 19.00. Saat itu warga sudah siaga di depan rumah.

”Jika di atas sudah gelap, kami ya siaga. Pasti banjir bandang,” imbuhnya.

Camat Undaan Rifa’i mengatakan, penanganan terhadap rumah terdampak dilakukan dengan cepat. Pagi kemarin rumah yang sebelumnya kemasukan air dan lumpur sudah bersih. Masyarakat, Pemdes setempat dan tim relawan BPBD Kabupaten Kudus bergotong-royong melakukan pembersihan.

”Pembersihan sekitar 1,5 jam. Jalan yang semula tertutup lumpur sudah bisa dilalui,” katanya.

Namun aliran listrik di daerah ini padam. Mulai banjir datang hingga sekitar pukul 05.00. Selain di Wonosoco, listrik padam juga terjadi di daerah Undaan lainnya. Mulai dari Sambung hingga Wonosoco. Lima tiang listrik dari Wonosoco hingga ke Sukolilo juga patah.

”Saat itu PLN langsung turun ke lapangan lakukan perbaikan,” ujarnya.

Rifa’i sepakat jika hutan di pegunungan Kendeng yang mulai gundul menjadi penyebab utama musibah ini. Kondisi seperti ini air hujan dari gunung tidak memeiliki penahan. Jadi langsung limpas ke bawah.

”Akibat adanya reformasi dulu, pohon ditebang semua. Sehingga air hujan dari atas gunung tidak ada penahannya,” turunya.

Saat ini penaggulangan yang paling dibutuhkan yakni pembuatan embung dan cekdam. Usulan ini sudah beberapa kali disampaikan, namun sampai sekarang belum terealisasi. Dirinya menaksir butuh sekitar Rp 3 miliar untuk merealisasikannya. Rp 2 miliar untuk pembanguann embung dan Rp 1 miliar untuk cekdam.

Pihaknya mengimbau ketika hujan lebat turun lebih dari satu jam, warga diminta meninggalkan rumah. Sementara mengungsi di balai desa sampai hujan reda.

(ks/daf/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia