Kamis, 30 Jan 2020
radarkudus
icon featured
Ekonomi

Nilai Investasi di Jepara Rp 17.7 Triliun, Tertinggi se-Jateng

11 Desember 2019, 16: 03: 34 WIB | editor : Ali Mustofa

Nilai Investasi di Jepara Rp 17.7 Triliun, Tertinggi se-Jateng

JEPARA, Radar Kudus - Nilai investasi dari penanam modal asing mencapai Rp 17.7 triliun. Investasi ini mencakup 246 proyek. Dari data ini, nilai investasi Kota Ukir menjadi tertinggi se-Jateng.

Diketahui, setelah Jepara, Kabupaten Batang memiliki nilai investasi Rp 10.9 triliun. Menyusul Kabupaten Semarang Rp 1.4 triliun. Nilai investasi ini terhitung mulai Januari 2019 hingga 31 Oktober 2019.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jepara Hery Yulianto menambahkan, selain disokong penanam modal asing, penanam modal dalam negeri juga cukup banyak berkontribusi. Penanam modal dalam negeri nilai investasinya di Jepara mencapai Rp 6,6 miliar. Dari nilai investasi itu terdapat 32 proyek.

“Jawa Tengah menjadi salah satu provinsi dengan investasi terbaik. Jepara menjadi salah satu daerah dengan nilai investasi tertinggi. Selain mengandalkan furnitur juga mulai masuknya sektor industri lainnya,” paparnya.

Tahun ini capaian investasi di Jepara dari target yang ditetapkan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKMP RI) sebesar Rp 23,07 triliun. Dari target ini, pihaknya optimistis akhir tahun bisa tercapai. “Kami yakin akan tercapai. Karena di triwulan keempat sudah masuk investasi pembangunan Unit 5 dan 6 PLTU Tanjung B,” kata Hery.

Dalam proses perizinan, pihaknya memberi fasilitas beberapa perusahaan. Demi memberikan kemudahan para pengusaha dalam mengembangkan usahanya di Jepara.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah memfasilitasi pelaku usaha menyelesaikan kendala yang dihadapi selama ini. Terutama masalah pengembangan investasi. Beberapa perusahaan sudah berkembang dan memperluas usaha mereka ke jenis usaha yang berbeda.

“Seperti salah satu perusahaan yang bergerak di industri furnitur, mereka membuka usaha perhotelan dan restoran,” imbuhnya.

Dia menyontohkan terdapat perusahaan furnitur yang membutuhkan fasilitas dalam hal kerja sama dengan supplier anyaman rotan. Ini perlu difasilitasi dengan melakukan kerja sama machmaking antara perusahaan besar dengan peruasahaan kecil atau usaha mikro kecil dan menengah. “Sehingga ada kesinambungan usaha furnitur di Jepara tetap lancar,” tuturnya.

(ks/war/mal/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia