Jumat, 13 Dec 2019
radarkudus
icon featured
Grobogan

Dilema Penyertaan Modal PDAM Grobogan: SR 30 Ribu, Karyawan 325 Orang

01 Desember 2019, 06: 39: 47 WIB | editor : Ali Mustofa

TERUS BEKERJA: Instalasi Pengolahan Air Minum unit II yang berada di depan Stadion Krida Purwodadi bekerja tanpa henti untuk mengaliri pelanggan.

TERUS BEKERJA: Instalasi Pengolahan Air Minum unit II yang berada di depan Stadion Krida Purwodadi bekerja tanpa henti untuk mengaliri pelanggan. (SAIFUL ANWAR/RADAR KUDUS)

Share this      

Penyertaan modal PDAM Kabupaten Grobogan di 2020 tetap dilakukan. Yaitu Rp 6,7 miliar. Dalihnya karena program pemerintah. Tak hanya itu jumlah karyawan dan sambungan rumah (SR) tak ideal. Jumlah tenaga kerja di PDAM Grobogan saat ini terdapat 325 karyawan. Padahal, dengan jumlah pelanggan 30.000 pelanggan, idealnya 185 orang.

PERUSAHAAN Daerah Air Minum (PDAM) Purwa Tirta Dharma Grobogan setiap tahun nyaris selalu menerima kucuran penyertaan modal dari APBD tahun berkenaan. Hingga tahun ini, total penyertaan modal perusahaan tersebut bahkan mencapai hampir Rp 50 miliar.

Direktur PDAM Purwa Tirta Dharma Grobogan Bambang Pulunggono mengungkapkan, seluruh anggaran penyertaan modal tersebut dipastikan bukan untuk operasional, lebih-lebih menggaji pegawai. Peruntukannya sesuai perda, yakni pengadaan barang.

”Pada 2017 itu (penyertaan modal) untuk pipa. Dilaksanakan di 2018. Terus 2018 dapat Rp 5 miliar dilaksanakan di 2019 untuk pembuatan jaringan. Kami tidak bisa memanfaatkan serupiah pun uang pemda (untuk operasional),” katanya saat ditemui kemarin.

Meski begitu, sesuai dengan kode etik, pihaknya tak menyebut kerugian yang dialami perusahaan yang dipimpinnya tiga tahun tersebut. Pihaknya pun memaklumi terhadap pelanggan atau masyarakat yang menyatakan anggaran penyertaan modal kepada PDAM terlalu banyak.

”Banyak orang bilang, uang sekian miliar masuk PAM, tapi PAM koyo ngono (seperti itu),” tambah dia.

Mengenai dividen, Bambang menyebut sesuai dengan peraturan yang terbaru, PDAM dilarang menyetorkan dividen sebelum masyarakat Grobogan ter-cover minimal 80 persen. Sedangkan hingga kini, berdasar penuturannya, cakupan layanan baru 15 persen dari total penduduk Grobogan.

”Ketika saya masuk itu ada 30 ribu SR (sambungan rumah). Itu sudah tambah 2.500. Tahun depan sebanyak dua ribu SR. Jadi totalnya sekitar 34.500 SR pasti tercapai. Setiap tahun, targetnya seribu SR baru,” terangnya. 

Bambang menyatakan, cakupan layanan PDAM seluruh Indonesia dipastikan turun. Sebab, berdasarkan aturan yang baru, sejak 2018 dari BPS, satu SR asumsinya untuk empat orang. Padahal, di aturan yang lama, satu SR asumsinya untuk enam orang.

”Grafiknya satu Indonesia nanti dipastikan menurun, karena aturan baru itu,” paparnya.

Mengenai permasalahan utama di PDAM yang dipimpinnya, Bambang menyatakan ada beberapa hal. Dua di antaranya yakni rekening untuk pelanggan yang tak kunjung naik dan terlalu banyaknya tenaga kerja.

Sejak sepuluh tahun lalu, tarif yang dipatok PDAM kepada pelanggan yakni Rp 4.200 per m3 (kubik). Sementara, tarif rata-rata idealnya yakni Rp 4.900 per m3. Bambang menyebut, tarif tersebut tetap akan naik, setelah pertimbangan yang panjang nanti.

Adapun jumlah tenaga kerja di PDAM Grobogan saat ini terdapat 325 karyawan. Padahal, dengan jumlah pelanggan 30.000 pelanggan, idealnya jumlah karyawan hanya sekitar 185 orang. Meski demikian, pihaknya tak mungkin memangkas jumlah pegawai yang membengkak tersebut.

Dalam satu bulan, biaya yang dikeluarkan untuk membayar pegawai yakni sebesar Rp 1,1 miliar. Ditambah dengan pengeluaran listrik sebesar Rp 400 juta, sehingga anggaran Rp 1,5 Miliar tidak bisa diutak-utik. Sedangkan, dari pelanggan, pendapatannya yakni sekitar Rp 1,9 M sampai Rp 2 M.

(ks/ful/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia