Jumat, 13 Dec 2019
radarkudus
icon featured
Features
Dua Film Dokumenter Jepara, Nominasi Terbaik

Bolak-balik Jepara-Karimunjawa, Selesai Dua Bulan

01 Desember 2019, 06: 04: 44 WIB | editor : Ali Mustofa

RAIH PENGHARGAAN: Dua film dokumenter tentang Karimunjawa raih penghargaan di Festival Film Jawa Tengah 2019.

RAIH PENGHARGAAN: Dua film dokumenter tentang Karimunjawa raih penghargaan di Festival Film Jawa Tengah 2019. (Dok. Pribadi)

Share this      

Dua film dokumenter dari Jepara berhasil masuk nominasi dan meraih penghargaan. Kremun Merumpun produksi Videologue di urutan pertama. Mahardikeng Tyas Mring Kamardikan di urutan keempat. Tim itu bolak balik ke Karimunjawa. Butuh waktu hampir dua bulan untuk selesaikan film itu.

FEMI NOVIYANTI, Jepara, Radar Kudus

KEKAYAAN alam dan budaya Karimunjawa menjadi inspirasi tersendiri bagi para pembuat film dalam berkarya. Hal ini terlihat dari dua film pendek besutan sineas Kota Ukir yang berjudul Kremun Merumpun dan Mahardikeng Tyas Mring Kamardikan. Di mana keduanya secara khusus mengangkat potensi wilayah terluar Kabupaten Jepara tersebut.

Kedua film pendek itu masuk nominasi terbaik pada Festival Film Jawa Tengah 2019 yang diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah yang bekerja sama dengan Anantaka Culture Trust dan Sineroom.

Dari puluhan karya yang masuk, dipilih enam nominasi terbaik. Baik film fiksi maupun film dokumenter. Kedua film karya anak Jepara itu masuk dalam enam nominasi terbaik. Kremun Merumpun produksi Videologue ada di urutan pertama. Sedangkan Mahardikeng Tyas Mring Kamardikan di urutan keempat.

Untuk Kremun Merumpun, merupakan film pendek produksi Videologue yang disutradarai Arief Rahman Hakim dan produser Nizar Fahreza. Banyak cerita saat mereka berproses. Mulai dari jarak, pencarian narasumber hingga pengambilan gambar. ”Kami bolak balik ke Karimunjawa mulai riset hingga tuntas pengambilan gambar. Butuh waktu hampir dua bulan,” kata sutradara film tersebut, Arief Rahman Hakim.

Lebih lanjut Arief menceritakan, film itu mengangkat soal keberagaman suku di Karimunjawa. Di Karimunjawa, ada enam suku berbeda yang semuanya merupakan pendatang. Mulai dari Bugis, Mandar, Bajo, Buton, Madura, dan Jawa. Semua suku itu melebur menjadi satu sebagai Karimunjawa. ”Di sana kita bisa melihat potret keberagaman Indonesia dalam versi mini,” tuturnya.

Melalui Kremun Merumpun itu, mereka ingin menyampaikan pesan khususnya terkait toleransi. ”Meskipun berbeda suku namun masyarakat Karimunjawa hidup berdampingan. Keberagaman Karimunjawa itu menjadi keindahan tersendiri,” katanya.

Setelah meraih prestasi itu, Arief menambahkan, pihaknya akan tetap melanjutkan karya tersebut. ”Dalam film ini durasinya terbatas, karena itu kami berkeinginan untuk melanjutkan karya kami. Ada pula rencana pemutaran film kami di beberapa lokasi termasuk Karimunjawa,” tuturnya.

Sementara untuk Mahardikeng Tyas Mring Kamardikan, merupakan produksi Panitia Barikan Kubro 2019 yang disutradarai Adamifa dari Ladamif Production. Film tersebut menceritakan mengenai upacara adat bernama Barikan, di pasaran Jumat Wage yang sudah ada sejak lama di Karimunjawa. Saat ini upacara adat tersebut dikreasikan ulang sebagai festival tahunan.

Dalam proses kreatifnya, Adamifa menyatakan, kedua tim berproses kurang lebih selama satu hingga dua bulan. ”Kita bisa di titik ini juga selain karena sesama tim ini kita saling mendukung, juga dukungan teman lintas kesenian lainnya di Jepara sangat berpengaruh,” terangnya.

Pada Festival Fim Jawa Tengah 2019 itu sendiri, Adamifa mengatakan, kedua karya drai Kota Ukir mendapat apresiasi positif dari juri yakni Adrian Jonathan Pasaribu (kritikus film dari Jakarta), Nurman Hakim (sutradara film dari Jakarta) serta Tonny Trimarsanto (sutradara dan produser film dari Klaten). ”Salah satu juri yakni Adrian menyatakann karya daerah pantura punya gayanya sendiri, yang khas dan unik dalam menggali dan menyajikan cerita,” tuturnya.

Melalui penghargaan itu, Adamifa berharap, bisa menjadi kebangkitan filmaker Jepara untuk kompetisi-kompetisi bergengsi selanjutnya. ”Bahkan di tingkat yang lebih tinggi lagi,” imbuhnya. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia