Jumat, 13 Dec 2019
radarkudus
icon featured
Features
H. Muhamad Ismail, Petani Kopyor Asal Pati

Jadi Rujukan Masalah Hama Kelapa dari Dalam dan Luar Negeri

29 November 2019, 12: 00: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

JADI RUJUKAN: Suasana kebun kelapa kopyor milik Ismail di Desa Kenanti, Dukuhseti, Pati, jadi lokasi belajar dari petani beberapa kota di Indonesia. Juga ada Singapura.

JADI RUJUKAN: Suasana kebun kelapa kopyor milik Ismail di Desa Kenanti, Dukuhseti, Pati, jadi lokasi belajar dari petani beberapa kota di Indonesia. Juga ada Singapura. (ACHMAD ULIL ALBAB/RADAR KUDUS)

Share this      

Ismail sudah bertahun-tahun menanam kelapa. Suka duka telah dijalaninya. Termasuk bagaimana dia mengendalikan hama. Kini tangan dinginnya merawat kelapa menjadi jujugan berbagai kalangan. Mulai dari dalam dan luar negeri.

ACHMAD ULIL ALBAB/RADAR KUDUS, Pati, Radar Kudus

PEKARANGAN seluas 10 x 60 meter itu ditanami sekitar 50 pohon kelapa kopyor. Pohonnya pendek-pendek. Tingginya mungkin hanya tiga meteran. Tapi buahnya amat lebat.

Tak perlu memanjat. Cukup berdiri, sudah bisa memetik kelapa yang diinginkan. Mau kelapa kopyor atau yang biasa. Ismail sudah menandai kelapa-kelapanya. Mana yang jenisnya kopyor mana yang biasa.

Kebun kelapanya itu dijadikan agrowisata. Namanya Kampoeng Agro Kopyor Kenanti. Letaknya di Desa Kenanti, Dukuhseti. Cukup mudah untuk menjangkau tempat itu. Dari Pasar Ngagel masuk pertigaan ke arah timur. Sekitar 500 meter. Ismail adalah pemilik kebun itu. Pagi dan sore dia selalu berada di kebun. Juga saat hari libur.

Selain menjadi tempat wisata kelapa kopyor, Ismail membuka tempat itu sebagai tempat belajar tentang kelapa kopyor. Bagaimana menanam dan juga merawatnya. Yang menjadi perhatian adalah perawatan. Jika tak pintar dan telaten, kelapa-kelapa yang ditanam bisa habis dibuat pesta hama. Terutama hama wawung yang menjadi musuh utama.

”Bisnis kelapa, terutama kelapa kopyor memang sangat menjanjikan. Mudah dan biayanya murah. Hasilnya banyak. Tapi hamanya juga banyak. Mesti bisa telaten,” kata Ismail kepada Jawa Pos Radar Kudus beberapa waktu yang lalu.

Kata Ismail, pohon kelapa memang rentan jadi santapan hama seperti wawung yang memakan tunas. Karena itu sejak pohon masih pendek harus diperhatikan betul. “Nanti setelah pohon agak besar perlu perawatan rutin. Harus dikontrol setiap 15 hari sekali. Memang gampang-gampang susah untuk perawatannya ini. Kalau sudah dimakan hama pasti mati pohonnya. Sebab hama itu tinggal di pohon, memakan tunas hingga mati. Baru kawanan hama yang sudah berkembang biak berpindah mencari pohon kelapa lagi,” jelasnya.

Metode perawatan pohon kelapa Ismail cukup baik. Dari semua pohon yang ada di kebunnya itu semua sehat. ”Saya terbuka bagi siapa saja yang ingin konsultasi masalah penanganan hama. Yang mau belajar silahkan datang,” kata Ismail.

Di tempatnya itu, kini sudah banyak disambangi orang dari berbagai tempat. Kebun kelapa kopyornya menjadi jujugan (Red, tempat yang dicari) untuk belajar masalah penanganan hama pohon kelapa. Di antaranya seperti dari dinas pertanian yang sharing permasalahan hama bersama Ismail. ”Instansi-instansi banyak juga yang belajar ke sini. Di sini juga sering dibuat pertemuan masalah pertanian,” paparnya.

Pengunjung yang datang di antaranya seperti dari Pati sendiri, Jepara, Rembang, Grobogan hingga kota-kota lain. Seperti Ponorogo Jawa Timur dan Jogja. Selain belajar soal penanganan hama kelapa, pengunjung yang datang ke agro kelapa kopyor ini juga banyak belajar membudidayakannya. Permintaan bibit kelapa kopyor juga banyak. Rata-rata yang datang mereka juga menginginkan membawa pulang bibit kelapa.

”Bahkan beberapa waktu yang lalu datang tamu-tamu dari Lampung, NTB, Jakarta, juga ada yang dari Singapura. Mereka datang jauh-jauh kesini untuk belajar tentang budidaya kelapa kopyor,” imbuhnya.

Di tempatnya itu, Ismail dengan telaten membimbing pelajaran tentang kelapa kopyor. Terutama pengendalian hama wawung itu. Ismail juga mengajak untuk praktik langsung di tempat. Sepulang dari agro kopyor Ismail berharap yang belajar dengannya bisa sangat jelas. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia