Jumat, 13 Dec 2019
radarkudus
icon featured
Features
Mbah Ngadimin Pejuang Veteran Operasi Trikora

Tinggal Bersama Sapi, Masih Ingat Perjalanan 18 Hari ke Ambon

28 November 2019, 11: 08: 02 WIB | editor : Ali Mustofa

LEGEND: Mbah Ngadimin menunjukkan dokumen dan piagam yang ditandatangani Presiden Soekarno dan Jenderal Ahmad Yani kemarin.

LEGEND: Mbah Ngadimin menunjukkan dokumen dan piagam yang ditandatangani Presiden Soekarno dan Jenderal Ahmad Yani kemarin. (SAIFUL ANWAR/RADAR KUDUS)

Share this      

Mbah Ngadimin pernah merasakan perjuangan pembebasan Irian Barat pada tahun 1960-an. Sepulang dari berjuang dia terpaksa membakar dua seragamnya. Takut mendapatkan fitnah sebagai anggota organisasi terlarang.  

SAIFUL ANWAR, Grobogan, Radar Kudus

BAU kotoran sapi menyengat saat koran ini memasuki rumah Mbah Ngadimin, 77, di Dusun Krandon, RT 4/RW VI, Desa Dapurno, Wirosari, Grobogan, kemarin. Mengenakan kaus oblong tipis bergambar, Mbah Ngadimin menyambut hangat di ruang tamu yang sederhana. Satu meja kayu dengan beberapa kursi kayu mengelilinginya.

Hanya sekitar lima meter dari meja ruang tamu itu, seekor sapi dengan nikmatnya memakan rumput dan apa-apa di depannya. Bau sapi tentu saja sampai ruang tamu. Sapi itu adalah “penolong” hari tua Mbah Ngadimin. Di usia senjanya, dia menyibukkan diri dengan mencari rumput untuk sapinya itu.

”Mau apa to, Mas. Sudah tua begini. Ya cari rumput buat kesibukan saja. Anak-anak juga masih ada,” tutur Mbah Ngadimin yang tinggal bersama istrinya, Ngadiyem itu.

Artikulasi Mbah Ngadimin sudah tidak begitu jelas. Meski dalam nada bicara dan raut wajahnya ada semangat yang tak kunjung padam. Ingatannya juga sudah tak begitu bagus saat ditanya beberapa hal tentang masa-masa perjuangan itu.

Mbah Ngadimin juga tak pernah bercerita kepada kedua anaknya bahwa dirinya pernah menjadi bagian dari Operasi Trikora pada 1961-1962. Antara lain, bahwa pada saat itu setiap kecamatan diminta satu perwakilan untuk ikut dalam Operasi Trikora. Mbah Ngadimin masih bujangan pun bersedia mengikuti operasi itu meski taruhannya tentu saja nyawa.

”Perjalanan waktu itu 18 hari dari Semarang sampai Ambon. Dari sini (Wirosari) ke Purwodadi naik kereta, pakai duit sendiri. Terus ke Semarang diangkut pakai mobil tentara,” kata bapak dua anak itu.

Dari pelabuhan di Semarang, para pejuang pembebasan Irian Barat itu kemudian diangkut kapal. Transit di Surabaya dan Makasar sebelum akhirnya mencapai Ambon. Perjalanan itu, kata Mbah Ngadimin, memakan waktu 18 hari.

Tidak ada bayaran atau sebatas uang lelah dari pemerintah. Hanya, masing-masing pejuang itu mendapatkan dua buah piagam yang masing-masing ditandatangani Jenderal Ahmad Yani dan Kolonel Infanteri Soebiri. Kemudian sebuah dokumen ucapan terima kasih dari Presiden Soekarno langsung. 

Dalam dokumen berjudul Surat Tanda Penghargaan dari Panglima Daerah Militer XV/Pattimura, Ngadimin berpangkat Angg Jon Karsu Djateng II No. SUK. 1500488. Sedangkan kolom jabatan terisi Angg RU I/III/II.

Masa bakti Mbah Ngadimin dalam dokumen itu tercatat mulai 27 Juli 1962 hingga 23 Februari 1963. Dokumen dikeluarkan di Ambon, pada 23 Februari 1963, jam 10.00. Di bawahnya, terdapat tanda tangan Kolonel Inf. Boesiri, lengkap dengan stempel. Koramil Pattimura.

Sedangkan, dokumen tanda terima kasih yang ditandatangani Jenderal Ahmad Yani, berisikan nama, asal, dan kebangsaan. Pada intinya, Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia, Panglima Besar Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat mengucapkan terima kasih atas keikutsertaan Mbah Ngadimin dalam operasi itu.

Sayang, tak lama setelah kepulangannya ke Wirosari, Grobogan, mencuat peristiwa G30S PKI. Pada momentum tersebut, karena takut dikaitkan dengan PKI, Mbah Ngadimin membakar dua stel seragam yang dipakainya pada Operasi Trikora.

”Takut nanti dikira PKI. Saya buang seragamnya. Ada dua stel,” kata dia didampingi kedua anak dan sejumlah anggota keluarganya kemarin.

Adapun ketiga dokumen penting tersebut justru ditemukan oleh anak kedua Mbah Ngadimin, Yulianti, beberapa tahun lalu. Saat itu, dirinya hendak merapikan sebuah koper. Namun, ternyata di dalamnya ada dokumen bertandatangan dua tokoh besar Indonesia.

”Dari dulu ya bapak tidak pernah cerita apa-apa. Kalau tidak ada dokumen itu ya mungkin tidak ada yang tahu,” kata Yulianti.

Kisah Mbah Ngadimin viral di media sosial setelah salah satu cucunya mengunggah gambar Mbah Ngadimin beserta profil singkatnya. Hal itu bermula ketika pada Sabtu (23/11) lalu, Mbah Ngadimin membikin kayu bakar (ngrenceki kayu).

Ketika itu, kaki kirinya sempat terkena sabit bagian lancip hingga dagingnya keluar. Namun, dengan kondisi itu, lelaki empat cucu dan satu cicit itu tetap bisa tegak berdiri dan pada hari berikutnya tetap mencari rumput sebagaimana biasa.

Dari situlah, Mbah Ngadimin mengaku bahwa dirinya sempat menjadi pejuang pada masa lampau. Unggahan yang ditujukan kepada Gubernur Ganjar Pranowo itu pun langsung direspon Dinas Sosial Grobogan.

Pada Senin (25/11), rombongan dinsos dan sejumlah forkompimda serta forkompimcam mendatangi gubuk Mbah Ngadimin yang sebagian dindingnya hanya terbuat dari anyaman itu. Dalam kesempatan itu, selain menyerahkan logistik PKH, Mbah Ngadimin juga dijanjikan program bedah rumah dalam waktu dekat.

”Katanya secepatnya,” kata Yulianti.

Yulianti juga bercerita bahwa ayahnya itu pernah tersengat ular berbisa enam kali. Tanpa obat, Mbah Ngadimin tetap sehat hingga sekarang meskipun tangannya membengkak.

”Ini dicatok ular enam kali,” tutur Mbah Ngadimin sembari menunjukkan telapak tangan kanannya yang sedikit membengkak. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia