Jumat, 13 Dec 2019
radarkudus
icon featured
Features
Nurunnikmah Awwalina, Perajin Batik Jepara

Delapan Tahun Jatuh Bangun, Kini Kenalkan Batik ke Jepang

18 November 2019, 09: 59: 29 WIB | editor : Ali Mustofa

Nurunnikmah Awwalina

Nurunnikmah Awwalina (Dok. Pribadi)

Share this      

Mengenalkan batik di tingkat internasional menjadi kebanggaan tersendiri bagi Nurunnikmah Awwalina. Salah satunya dengan mengisi workshop di Gedung Kyoto International House, Jepang.

FEMI NOVIYANTI, Jepara, Radar Kudus

MEMBATIK bukanlah perkara mudah. Butuh proses yang panjang untuk membuat satu motif dalam satu kain. Dimulai dari membuat pola pada kain polos, menyanting, memberi warna, hingga proses mengeringkan. Prosesnya lama. Ketekunan dan ketelitian dibutuhan untuk menyelesaikannya. Betul-betul tidak gampang. Belum termasuk mempromosikan agar batik bisa dikenal luas. Hal itulah yang selama ini dirasakan Nurunnikmah Awwalina selama delapan tahun terakhir. Jatuh bangun merintis batik Jepara selama delapan terakhir rupanya berbuah manis. Selain produknya yang kian moncer, dia juga dipercaya mengisi workshop di berbagai tempat. Bahkan baru saja diundang ke Kyoto, Jepang untuk mengenalkan batik Jepara.

Perempuan yang tinggal di Desa Mulyoharjo, Kecamatan Jepara ini menceritakan, kesempatan mengisi workshop di luar negeri itu bermula saat dirinya bergabung dengan Blue Economy Foundation beberapa tahun lalu. ”Jadi sekitar dua tahun lalu saya pernah ikut lomba desain batik dan meraih juara. Para juara kemudian dibina oleh Blue Economy Foundation,” katanya.

Istri dari Bowo Sulistyono itu melanjutkan, yayasan itu memiliki banyak program dan sering mendapatkan undangan ke berbagai tempat. Tahun lalu, sebenarnya dia ditunjuk untuk mengenalkan batik dalam suatu acara di negara Turki. ”Namun saat itu saya sedang hamil besar, mendekati HPL akhirnya tidak bisa berangkat,” ungkapnya.

Sampai akhirnya ada kesempatan lagi di event internasional tahun ini. ”Dari yayasan ada 3 orang yang terpilih mewakili Indonesia. Satu fashion designer, satu perajin tenun dari Palembang dan untuk batik saya yang ditunjuk” tuturnya.

Ibu dari tiga anak ini menyampaikan, agenda di Jepang itu merupakan event yang diselenggarakan Persatuan Pelajar Indonesia Jepang khususnya wilayah Kyoto dan Shiga. Pada acara yang menampilkan perpaduan dua negara tersebut, ada pameran yang menampilkan budaya hingga kuliner Indonesia.

Dia sendiri diminta mengisi workshop membatik dengan peserta yang merupakan pendudukan asli negara tersebut. Ada sekitar 60 orang yang hadir dalam workshop itu.”Yang isi workshop hanya saya, sementara dua teman ada yang display barang dan ada pula yang fashion show,” jelasnya.

Sambutan hangat didapatkan pemilik brand Batik Kembangmulyo ini dari para peserta. ”Mereka antusias mengikuti workshop batik saya,” tuturnya.

Tak hanya memberikan pelatihan dalam workshop itu, saat berada di Jepang dia juga berksempatan berkomunikasi langsung dengan KJRI Osaka. ”Kami berdialog kalau bisa batik dipasarkan di sana,” ungkapnya.

Dari hasil dialog tersebut, KJRI merespon positif. Namun dirinya tidak bisa serta merta memasarkan batik di sana lantaran perbedaan di Indonesia dan Jepang. ”Ada beberapa perbedaan, yang pertama pakaian di sana berwarna soft, baju musiman sesuai dengan musim di sana selain itu pasaran di sana murah. Ini yang sedang kita coba cari celahnya,” jelasnya.

Saat berada di Jepang, perempuan yang akrab disapa Lina ini tidak hanya berada di Kyoto tetapi sempat pula mengunjungi Osaka. ”Mendatangi beberapa lokasi wisata, sekaligus belajar budaya baru di sana,” ujarnya.

Mengenai perjalanan membatiknya sendiri, sejak memulai 2011 dia tak lantas sukses. Perlu waktu sekitar lima tahun untuk mengangkat karirnya. Dia belajar membatik di beberapa daerah bahkan sampai Jogja. ”Di Jogja belajar teknik pewarnaan,” terangnya.

Dia juga mempelajari sejarah budaya batik yang ada di Jepara. Dia juga membentuk kelompok hingga menginisiasi wilayah tempat tinggalnya sebagai kampung batik Kembangmulyo. ”Ke depan ingin terus mengenalkan batik pada dunia,” imbuhnya.(*)

(ks/mal/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia