Jumat, 13 Dec 2019
radarkudus
icon featured
Jepara

Sungai Troso Tercemar Limbah Pewarna Tekstil dan Sampah Warga

16 November 2019, 15: 31: 22 WIB | editor : Ali Mustofa

TINJAU: Plt Bupati Jepara Dian Kristiandi meninjau kondisi sungai yang tercemar limbah tekstil pagi kemarin.

TINJAU: Plt Bupati Jepara Dian Kristiandi meninjau kondisi sungai yang tercemar limbah tekstil pagi kemarin. (FEMI NOVIYANTI/RADAR KUDUS)

Share this      

JEPARA, Radar Kudus - Usai mendapat laporan dari masyarakat terkait pencemaran sungai di Desa Troso, Pecangaan, pagi kemarin Plt Bupati Jepara Dian Kristiandi turun ke lapangan dan mengecek langsung kondisi pencemaran sungai tersebut. Dalam kunjungannya itu Andi-sapaan akrab Dian Kristiandi-tak hanya menemukan pewarna tekstil yang mencemari sungai Troso, tapi juga sampah masyarakat.

Dia didampingi Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara Farikah Elida, Kepala Dinas Perkerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Ari Bachtiar, Camat Pecangaan Sisnanto Rusli, kapolsek dan para pejabat terkait.

Saat mengecek langsung, Andi mendapati kondisi sungai yang kotor penuh dengan sampah. Warna air sungai juga biru gelap menuju hitam pekat. Saat melakukan pengecekan, dia juga melihat sisa pembakaran sampah yang ada di sekitar sungai itu.

Andi mengatakan, setelah dicek ternyata tidak hanya limbah tekstil yang ada di sungai tapi juga tumpukan sampah plastik yang cukup banyak.

Untuk itulah pihaknya berharap kepada masyarakat untuk meningkatkan kesadarannya dalam menjaga kebersihan sungai, khususnya dari sampah. "Jangan membuang sampah ke sungai yang akan menimbulkan persoalan baru. Dari tekstil benar memang mencemari, tetapi yang berat justru dari sampah-sampah ini. Apalagi saat ini memasuki musim penghujan, jika tidak segera ditangani maka akan berdampak pada banjir,” katanya.

Terkait dengan limbah tekstil, Andi bersama dinas terkait akan mengundang pelaku industri tenun ini. Pencemaran yang terjadi saat ini, bisa saja lantaran para pelaku UMKM itu kurang begitu paham dengan persoalan limbah industri sehingga hal ini akan disosialisasikan lebih lanjut.  "Nanti juga akan kita cek pengelolaan limbah dari para pelaku usaha tenun ini. Apakah sudah ada penampungannya atau belum. Jika memang belum tercukupi, akan diupayakan dengan IPAL (Instalasi Pengelolaan Air Limbah). Namun demikian, untuk  teknisnya akan dibicarakan lebih lanjut dengan para pelaku usaha tenun,” jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, sungai Desa Troso ini berubah warna. Warna air sungai yang mengalir bisa berubah sesuai dengan limbah yang dibuang ke sungai. Sungai kadang berwarna merah bahkan biru. Kondisi ini sudah terjadi bertahun tahun. Hanya saja, kondisi paling tampak terjadi saat musim kemarau.

Selain sungai, beberapa sumur dan saluran air warga juga terdampak. Meski tak berubah warna, namun air dari sumur mereka berbau. Akibatnya, air tidak bisa dikonsumsi.

(ks/emy/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia