Jumat, 13 Dec 2019
radarkudus
icon featured
Features
Maftuhan, Penggagas Taman Baca Rumah Kreatif

Tiap Tahun Gelar Lomba, Hadiah dari Kantong Pribadi

16 November 2019, 12: 02: 41 WIB | editor : Ali Mustofa

PEDULI LITERASI: Salah satu aktivitas anak menggambar di Taman Baca Rumah Kreatif kemarin.

PEDULI LITERASI: Salah satu aktivitas anak menggambar di Taman Baca Rumah Kreatif kemarin. (DOK. MAFTUHAN FOR RADAR KUDUS)

Share this      

Maftuhan merintis taman baca sejak 2007. Di taman bacanya itu berbagai kegiatan dilaksanakan. Juga ada banyak macam lomba. Seluruhnya ia biayai sendiri.

SAIFUL ANWAR/RADAR KUDUS, Radar Kudus, Grobogan

SEMBARI menjadi karyawan sebuah perusahaan percetakan di Kudus, Maftuhan terus menggali informasi mengenai perkembangan literasi di tanah kelahirannya, Grobogan. Dia mencatat nama-nama mereka yang peduli di bidang literasi dari koran Jawa Pos Radar Kudus. Itu semua terjadi sejak 2007.

Maftuhan

Maftuhan (SAIFUL ANWAR/RADAR KUDUS)

”Mereka, sosok dan tokoh-tokoh yang punya kepedulian di dunia literasi, yang ada hubungannya dengan literasi saya tulis namanya dan alamatnya. Saya ikuti koran Radar Kudus. Kebetulan kantor langganan,” kata pria kelahiran Grobogan, 22 Juli 1990 tersebut.

Taman baca yang paling menginspirasinya yakni yang berada di Wirosari. Dari situlah, keinginan kuatnya untuk membuat rumah baca tak terbendung. Maftuhan yang semasa kuliah aktif di pers mahasiswa itu pun memilih nama Taman Baca Rumah Kreatif. Harapannya, rumah tempat membaca itu juga bisa menginspirasi siapa saja yang datang menjadi lebih kreatif.

Maftuhan lantas menyulap rumahnya di Desa Karanggeneng, Godong, Grobogan, menjadi taman baca. Ribuan judul buku, mulai dari untuk anak-anak, remaja, hingga dewasa bisa dinikmati. Tak lupa, karena berkonsep taman baca, sejumlah mainan anak-anak pun tersedia. Ada hulahop, lompat tali, ular tangga modifikasi, dan masih banyak yang lainnya.

Alumnus STAIN Kudus (sekarang IAIN Kudus, Red) tahun 2015 Prodi Pendidikan Agama Islam itu juga memiliki program untuk taman bacanya. Ada program mingguan, bulanan, bahkan tahunan. Beberapa di antaranya yang cukup menarik adalah dokumenter dan lomba.

”Video dokumenter itu biasanya isinya anak-anak membaca dongeng atau puisi. Divideo. Lalu di-Upload di Youtube,” terang Maftuhan yang kini sedang menunggu kelahiran anak pertamanya itu.

Sedangkan, untuk lomba, dia pilih lomba menggambar. Sejauh ini sudah terlaksana dua tahun. Terakhir, ada 32 peserta yang mengikutinya. Meski pendaftarannya tak ditarik biaya, namun Maftuhan memberikan hadiah untuk juara.

”Yang juara tiga besar dapat piagam. Yang juara 1 ada hadiah uangnya,” aku pria tiga bersaudara itu.

Dalam mengadakan lomba tersebut, dia mengaku sempat mengajukan proposal pendanaan ke berbagai instansi. Mulai pihak desa, dinas pendidikan, perusahaan swasta, serta sejumlah instansi lain. Namun, hasilnya nihil. Akhirnya, semuanya pun dia biayai dengan uangnya pribadi.

Sejak empat bulan lalu, Taman Baca Rumah Kreatif pindah ke Desa Bologarang, Kecamatan Penawangan. Itu seiring kepindahannnya ke desa itu setelah sebelumnya masih ikut rumah orangtuanya. Buku-buku pun belum tersusun rapi di rumah barunya ini. Sebagian besar masih di tempat lama, di Godong.

Sehari-hari, selain sibuk sebagai guru honorer di sekolah swasta, Maftuhan juga membuka usaha desain untuk berbagai keperluan. Di rumahnya, dia juga membuka toko kelontong untuk menambah pemasukan.

Maftuhan juga tercatat sebagai salah satu penyair yang karyanya beberapa kali diterbitkan dalam karya bersama. Antara lain di Sampah Serapah Sripah, Jejak Hati Perempuan, dan Bayang-Bayang Menara. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia