Jumat, 13 Dec 2019
radarkudus
icon featured
Rembang

Pegiat Literasi Kota Garam Berantas Buta Matematika

16 November 2019, 09: 20: 10 WIB | editor : Ali Mustofa

KOMPAK: Kegiatan TOT Gernas Tastaka Kota Garam tahun 2018 diikuti puluhan guru di Kabupaten Rembang.

KOMPAK: Kegiatan TOT Gernas Tastaka Kota Garam tahun 2018 diikuti puluhan guru di Kabupaten Rembang. (DOK. RADAR KUDUS)

Share this      

REMBANG, Radar Kudus - Gernas Tastaka Rembang yang dideklarasikan Bupati Rembang Abdul Hafidz pada tanggal 25 November 2018 lalu, terus bergerak dengan menyusun road map dan Training of Trainer (TOT) pemberantasan buta matematika di Kabupaten Rembang. Bertempat di SMAN 1 Lasem, Sabtu-Minggu (16-17/11), pegiat Literasi Rembang bersama IGI Rembang dan Jawa Pos Radar Kudus, melakukan TOT Gernas Tastaka yang dipandu Master Trainer Dhitta Putie Sarasvati dari Jakarta.

Kegiatan TOT dilaksanakan selama 6 hari setiap Sabtu dan Minggu. Selesai TOT, peserta harus menerapkannya pada anak didiknya. Dilanjutkan masing-masing peserta untuk melatih guru-guru yang lain di 14 kecamatan.

Kegiatan ini didasari keprihatinan atas rendahnya kemampuan numerasi siswa di Indonesia bukan lagi berita baru. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2000 hingga 2018, secara konsisten menempatkan siswa di Indonesia yang berusia 15 tahun pada peringkat bawah dibandingkan negara-negara anggota Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) lainnya. Menilik lebih dalam dari rendahnya hasil PISA, ditemukan bahwa anak-anak Indonesia ternyata belum mampu menerapkan pengetahuan prosedural matematika ke dalam permasalahan yang dihadapinya sehari-hari. Hasil ini juga dikonfirmasi oleh hasil-hasil tes internasional dan nasional lain seperti Trends in International Mathematics and Science Studies (TIMSS) dan Asesment Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI).

Pada tahun 2018, Program RISE di Indonesia merililis hasil studinya yang menunjukkan bahwa kemampuan siswa memecahkan soal matematika sederhana tidak berbeda secara signifikan antara siswa baru masuk sekolah dasar dan yang sudah tamat SMA. Dari data puspendik.kemdikbud.go.id, didapatkan kemampuan matematika yang baik hanya 2.25%, kategori cukup sebesar 20.58%. Sisanya sebesar 77,13% masih kurang. Pada bidang Sains yang baik hanya 1.04%, cukup 25.38%. dan 73,61% masih kurang. Dari bidang Matematika dan Sains, lebih dari 70% masih kurang. Hal inilah yang menyebabkan kondisi darurat dalam bidang matematika dan sains.

Gerakan Pemberantasan Buta Matematika atau dikenal dengan Gernas Tastaka adalah kehendak dan upaya masyarakat secara bersama sama sebagai bagian keprihatinan terhadap rendahnya pengetahuan matematika dasar anak-anak dengan cara melakukan pemberantasan Buta Matematika Dasar yang meliputi buta numerial atau operasional bilangan tingkat dasar, buta statistika tingkat dasar, buta geometri tingkat dasar dan probabilitas tingkat dasar melalui  perbaikan (rehabilitasi) pedagogis di satuan pendidikan dasar baik yang didirikan pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat di seluruh wilayah Indonesia.

Gernas Tastaka adalah sebuah gerakan bersama masyarakat yang berangkat dari keprihatinan mengenai rendahnya kemampuan matematika siswa Indonesia. Gernas Tastaka perlu usaha yang menyasar langsung pada kemampuan guru dalam memahami konsep dasar matematika dan bagaimana cara mengajarkannya. Kondisi ini menggerakkan sekelompok masyarakat untuk berkontribusi menyelamatkan “kegawatdaruratan” matematika di Indonesia.

Menurut Imron Wijaya selaku Koordinator Gernas Tastaka Rembang, gerakan ini berawal dari asumsi bahwa kemampuan anak-anak Indonesia yang tergambarkan dalam berbagai studi, tidak menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia bodoh.

Anak-anak Indonesia punya kapasitas untuk berkembang dalam berbagai bidang, termasuk matematika. Apabila mereka difasilitasi untuk memperoleh pembelajaran matematika yang berkualitas. “Dalam pandangan Gernas Tastaka, pembelajaran matematika yang berkualitas hanya dapat diperoleh melalui pembelajaran matematika yang mengajak anak untuk bernalar melalui pendekatan pembelajaran yang kontekstual” imbuhnya. 

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia