Jumat, 13 Dec 2019
radarkudus
icon featured
Rembang

Perizinan Tambang Kuarsa di Sarang Bakal Dicek, Ini Alasannya

15 November 2019, 16: 01: 02 WIB | editor : Ali Mustofa

DIKERUK : Alat berat beroprasi menambang di desa Tawangrejo, Sarang baru-baru ini

DIKERUK : Alat berat beroprasi menambang di desa Tawangrejo, Sarang baru-baru ini (VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI/RADAR KUDUS)

Share this      

REMBANG, Radar Kudus - Aktivitas penambangan pasir kuarsa di Desa Tawangrejo, Sarang, sudah berjalan beberapa tahun ini. Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Rembang berencana akan melakukan peninjauan di lokasi penambangan tersebut. Hal itu diungkapkan Ketua Komisi 1 DPRD Rembang Mashadi.

Menurutnya, sampai tingkat lingkungan hidup merupakan ranah komisi satu. Pihaknya belum sempat meninjau area tambang di Tawangrejo itu. Tetapi sudah direncanakan akan meninjau.

"Pertama akan dilihat tentang perizinan eksplorasi dan iup (Izin Usaha Penambangan). Dua-duanya kami lihat," tambahnya.

Kemudian, lanjut Mashadi, bagaimana reklamasinya. Saat ini belum mengetahui secara resmi. "Saya belum tau. Nanti ke sana secara resmi," imbuhnya.

Sementara, Anam, selaku Ketua Badan Permisyawaratan Desa (BPD) Tawangharjo mengatakan, aktivitas penambangan dimulai sekitar 1,5 tahun. Tetapi ada juga salah satu warga yang mengatakan sekitar empat tahun.

Ditanya tentang jumlah titik yang dijadikan area penambangan, pihaknya mengaku belum mengetahui secara pasti.  "Kelihatannya ada empat titik. Kisaran ya. Saya pastinya tidak tahu. Saya tidak terlalu mengikuti," jelasnya.

Dari Pantauan Jawa Pos Radar Kudus kemarin (13/11), memang ada beberapa titik. Jaraknya agak jauh dari pemukiman warga. Harus melewati area persawahan. Dan jalan menuju pertambangan pun agak menanjak. Saat itu sekitar pukul 14.00. Hampir tiap menit ada truk yang lalu lalang.

Terkait jam opreasional penambangan, Anam juga tidak mengetahui secara pasti. Untuk perizinan, kata Anam, biasanya ada komunikasi dengan pihak desa. Dari beberapa penambang bisa menunjukkan izin pihak desa memberikan izin. "Biasanya mengetahui desa setempat. Saya kurang tahu kemarin saya ngikuti salah satu (penambang,Red) kaya resmi gitu lho ada yang izinnya. Katanya gitu," imbuhnya.

Sebelum melakukan aktivitas itu, warga sudah membuat kesepakatan. Antara penambang. Agar truk pengangkut pasir tidak melintasi jalur tengah desa. Hingga saat ini masih seperti kesepakatan awal. Melewati dukuhan Jledung. Kemudian Sambung  Jawa Timur. Ya, wilayah ini merupakan perbatasan Jawa Tengah - Jawa Timur

"Itu dari penambang mengusahakan jalan lewat situ. Sebelum masuk (aktivisas penambangan,Red) ada kesepakatan. Boleh asal tidak lewat jalur desa," tuturnya. (vah)

(ks/ali/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia