Jumat, 13 Dec 2019
radarkudus
icon featured
Rembang

Tercemar Lagi, Air Laut di Pantai Kaliori Hitam Pekat dan Bau

15 November 2019, 15: 50: 03 WIB | editor : Ali Mustofa

TERCEMAR: Seorang warga menunjukkan biota laut yang mati tercemar air limbah. Kondisi ini sudah dua hari terjadi di Pantai Wates, Kaliori, kemarin.

TERCEMAR: Seorang warga menunjukkan biota laut yang mati tercemar air limbah. Kondisi ini sudah dua hari terjadi di Pantai Wates, Kaliori, kemarin. (WISNU AJI/RADAR KUDUS)

Share this      

REMBANG, Radar Kudus – Pencemaran air laut di pantai Kaliori terulang lagi. Jika sebelumnya di sepanjang tepi pantai Desa Purworejo, kali ini pencemaran melebar hingga kawasan wisata pasir putih Wates. Akibat pencemaran ini, banyak biota laut mati. Mulai dari ikan-ikan ukuran kecil, rajungan, kepiting. Termasuk merubah warna pasir menjadi hijau lumut dan hitam pekat.

Pantauan Jawa Pos Radar Kudus di lapangan. Akibat pencemaran ini, banyak nelayan libur melaut. Karena banyak ikan yang mati. Tidak hanya itu saja. Pengunjung pantai tidak bisa bermain air. Karena, khawatir air laut yang bercampur limbah, membuat kulit gatal-gatal.

Saat siang pukul 11.00 kondisi air masih surut. Warna air hijau lumut. Namun ini berubah saat air dalam kondisi pasang. Sekitar pukul 12.00 siang warnanya sudah mulai hitam pekat dan bau menyengat.

Di pantai Wates panjang sekitar 1 km. Untuk air laut yang tercemar di Banyudono sampai Tasikharjo. Kini pengunjung pantai tersebut sementara dialihkan di kolam.

Ketua Pengelola Pantai Wates, Heru Prasetyo membenarkan adanya dugaan pencemaran air laut di pantai yang dikelolanya kondisinya parah. Bahkan menurutnya, sejak Rabu (13/11) lalu banyak biota lauk mati. Seperti beberapa ikan, rajungan maupun kepiting.

”Penyebabnya sebelah timur pantai Wates ada kawasan industri ikan. Pembuangan limbah langsung di laut. Tanpa ada Ipal. Itu yang diindikasi pencemaran air laut,” katanya pada Jawa Pos Radar Kudus.

Menurutnya, sumber limbah berasal dari pengolahan pabrik pengolahan ikan. Hal ini pernah terulang. Saat itu terjadi tahun 2015. Kondisinya paling parah. Sampai akhirnya pihak taruna pesisir diajak OPD terkait audiensi dengan DPRD.

Saat audiensi tersebut ditemukan pelaku usaha dengan warga yang terdampak. Berbagai solusi ditempuh namun belum bisa terselesaikan. Puncaknya dari pusat turun tangan. Untuk memonitor secara langsung kondisi di Pantai Wates.

”Kejadianya sebenarnya tahunan. Utamanya saat musim kemarau. Tepatnya peralihan musim kemarau ke penghujan. Beberapa tahun terakhir tidak parah, karena produksinya sedikit. Kini mulai nampak kembali ” terangnya.

Salah satu warga sekitar lokasi Kurniawan membenarkan kondisi air laut warnanya hijau pekat dan sedikit membawa lumpur. Beberapa warga sempat mengambil sampel seadanya. Air dimasukkan di dalam botol, sekian lama air jernih namun ada semacam jelly.

”Ikan dan udang sekecilpun mati. Atas kondisi ini warga mengeluh. Pedagang juga merasakan sedikitnya pengunjung berkurang. Untuk yang ingin bermain air juga terganggu lumpur, sebab disertai gatal-gatal,” ujarnya.

Salah satu pengunjung dari Pati, Ria Setyowati mengaku kecele tidak dapat bermain air. Karena saat di sana kondisi airnya berwarna hijau lumut. Alhasil hanya main di pinggir pasir. Untuk sekadar mengabadikan moment bersama teman-temannya.

”Kondisinya sangat berlumpur, kurang bersih airnya saat ini. Tapi di Wates panoramanya cukup bagus untuk sekadar digunakan foto-foto,” imbuhnya.

(ks/noe/ali/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia