Jumat, 13 Dec 2019
radarkudus
icon featured
Politik

Gelar Sarasehan dan Doa Bersama, PPP Teladani Berpolitik Ala Mbah Moen

15 November 2019, 14: 49: 48 WIB | editor : Ali Mustofa

BERI SAMBUTAN: Ketua DPC PPP Kabupaten Pati Suwito membuka kegiatan sarasehan dan doa bersama 100 wafatnya KH Maimoen Zubair di kantor setempat.

BERI SAMBUTAN: Ketua DPC PPP Kabupaten Pati Suwito membuka kegiatan sarasehan dan doa bersama 100 wafatnya KH Maimoen Zubair di kantor setempat. (ACHMAD ULIL ALBAB/RADAR KUDUS)

Share this      

PATI, Radar Kudus - DPC PPP Kabupaten Pati menggelar sarasehan dan doa bersama peringatan 100 hari wafatnya KH Maimoen Zubair, siang kemarin. Kegiatan itu digelar untuk menghormati tokoh bangsa sekaligus sesepuh partai berlambang Kakbah tersebut.

Ketua DPC PPP Kabupaten Pati, Suwito menyebut, peringatan tersebut dilakukan sebagai penghormatan kepada sosok ulama kharismatik tersebut. Selain itu, peringatan tersebut juga untuk mengunduh keteladanan yang perlu menjadi ugeman para kader partai tersebut.

"Mbah Moen dalam kenangan pribadi saya punya perhatian yang lebih untuk DPC PPP Kabupaten Pati. Karena itu melalui peringatan-peringatan ini saya berharap bisa menjadi ghiroh perjuangan untuk membesarkan partai yang menjadi representasi umat Islam ini," terang pria yang juga menjadi Ketua Fraksi PPP DPRD Kabupaten Pati.

Kegiatan peringatan 100 hari ini dimulai dengan pembacaan tahlil, dan doa. Dilanjutkan dengan sarasehan yang dihadiri salah satu santri yang telah lama ikut dengan Mbah Moen, KH Nawawi Kholil dari Rembang yang juga tokoh PPP.

Dalam kesempatan itu, KH Nawawi Kholil menceritakan pengalaman-pengalamannya bersama Mbah Moen. Serta mengupas sikap politik Mbah Moen yang tidak banyak dimiliki politisi lainnya.

"Mbah Moen ini sosok yang luar biasa. Beliau bisa ngemong. Dengan siapa saja. Entah santri atau bukan. Rakyat biasa, pejabat daerah hingga pusat. Mbah Moen bisa merangkul semua. Maka tidak heran, Mbah Moen sangat dihormati. Hubungannya sangat harmonis dengan orang partai lain. Beliau punya komitmen yang baik untuk kepentingan bangsa," jelasnya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Hal-hal tersebut, lanjut Nawawi yang perlu untuk diteladani. Selain itu, yang perlu diteladani dari Mbah Moen adalah pribadinya yang bisa menahan diri. Atau istilahnya ilmu ngempet. "Ilmu menahan diri ini menjadi penting dalam bernegara," paparnya.

(ks/aua/ali/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia