Jumat, 13 Dec 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Kepribadian Pendidik Penentu Keberhasilan Siswa

14 November 2019, 14: 03: 51 WIB | editor : Ali Mustofa

Istina Rakhmawati, S.Pd.; Guru SMP 1 Undaan Kudus

Istina Rakhmawati, S.Pd.; Guru SMP 1 Undaan Kudus (dok pribadi)

Share this      

SALAH satu elemen lain yang dapat menentukan keberhasilannya pendidik yakni mempunyai jiwa kepribadian mendidik. Secara umum kepribadian dapat diartikan sebagai keseluruhan kualitas tingkah laku individu yang khas dalam berinteraksi dengan lingkungan. Pentingnya kepribadian pendidik dalam berinteraksi memengaruhi kelancaran dalam melaksanakan tugas mendidik. Untuk mencapai keberhasilan dalam mendidik, elemen kepribadian tidak dapat diabaikan begitu saja. Kepribadian yang mendukung proses pembelajaran dimaksudkan untuk mendukung profesinya sebagai pendidik, seperti memiliki akhlak mulia, suka menolong, tidak sombong, disiplin, jujur, ramah, berpakaian rapi, hemat, tidak kikir, bertanggung jawab, mengendalikan diri, dan suka kerja keras. Contoh perilaku akhlak mulia dari pendidik di atas memerlukan kesadaran, motivasi, dan upaya ekstra agar menjadi pendidik berkualitas dan berkepribadian.

Seorang pendidik akan terus tertantang apakah akan dapat menjadi seorang teladan, berkepribadian, dan identitas diri yang kuat di tengah derasnya perubahan sosial dalam masyarakat modern yang senantiasa memerlukan penyeimbangan pengetahuan, keterampilan, dan keteladanan akhlakul karimah. Untuk mendorong proses pembelajaran edukatif dengan optimal, ada sejumlah prinsip interaksi edukatif yang perlu diketahui bagi pendidik, di antaranya, pertama, prinsip motivasi, di mana seorang pendidik perlu memahami tingkat motivasi anak didik berbeda satu sama lainnya. Pendidik diharapkan dapat memotivasi mereka agar dapat mengikuti pembelajaran dengan aktif dan kreatif agar diperoleh hasil yang optimal.

Kedua, prinsip persepsi. Pendidik diharapkan menyadari atas anak didik yang memiliki latar belakang dan pengalaman yang berbeda. Dalam pembelajaran, pendidik harus meletakkan pengalaman anak didik yang harus dihadapinya dari lingkungan sehari-hari, untuk tujuan kepentingan interaksi edukatif yang maksimal. Ketiga, prinsip keterpaduan. Kontribusi pendidik dalam pembelajaran adalah menghubungkan suatu pokok bahasan dengan pokok-pokok bahasan lain mata pelajaran berbeda. Misalnya, pembelajaran moral pada PKn dihubungkan dengan akhlak dalam pelajaran agama. Atau pembelajaran Bahasa Indonesia dihubungkan dengan komunikasi yang baik kepada orang lain.

Keempat, prinsip pemecahan masalah. Masalah perlu dipecahkan, tetapi masalah bukan dicari. Dalam interaksi edukatif, masalah diciptakan untuk mendorong anak didik agar pandai dalam memecahkan suatu masalah, terutama suatu masalah bertalian dengan kebutuhan anak didik itu sendiri. Pendidik menciptakan masalah dalam pokok bahasan tertentu dalam interaksi edukatif agar anak didik dapat belajar mencari solusinya. Kelima, prinsip belajar sambil bekerja. Konsep belajar sambil bekerja (learning by doing), bertujuan agar pelajaran yang diperoleh mudah diresapi dan bertahan lama bagi anak didik. Misalnya, pelajaran shalat akan lebih bermakna bila tata cara dan hafalan ayat-ayat Al-Qur’an dalam shalat dapat dipraktikkan dalam pelajaran praktik (doing) salat.

Prinsip-prinsip interaksi edukatif dalam pembelajaran di atas akan membantu pendidik dalam melaksanakan tugasnya. Prinsip ini hanya dapat dilaksanakan oleh pendidik yang aktif, kreatif, dan memiliki motivasi serta mencintai profesinya sebagai pendidik. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia