Jumat, 13 Dec 2019
radarkudus
icon featured
Kudus

Perdebatan Pemakaman Jenazah Beda Agama Baru Pertama Terjadi di Kudus

12 November 2019, 14: 40: 16 WIB | editor : Ali Mustofa

DIMAKAMKAN: Jenzah Ignatius Fredy Wahyu Nugroho akhirnya dimakamkan di pemakaman Ploso kemarin. Tokoh agama terlihat mendoakan jenazah.

DIMAKAMKAN: Jenzah Ignatius Fredy Wahyu Nugroho akhirnya dimakamkan di pemakaman Ploso kemarin. Tokoh agama terlihat mendoakan jenazah. (GALIH ERLAMBANG W/RADAR KUDUS)

Share this      

KUDUS, Radar Kudus – Peristiwa berdebatan pemakaman jenazah baru pertama kali terjadi. Kendati demikian pihak keluarga dan tokoh agama sepakat dengan keputusan jenazah Ignatius Fredy Wahyu Nugroho dimakamkan dengan cara Islam. Putusan tersebut diambil setelah melalui rapat persetujuan Forkopimda bersama lintas agama di kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kudus kemarin.

Rapat tersebut dipimpin langsung oleh Plt Bupati Kudus Hartopo sekitar pukul 09.00 kemarin. Dalam agenda itu, dihadiri oleh perwakilan Kementrian Agama Kudus, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kudus. Perwakilan Paroki Kudus dan gereja. Serta beberapa organisasi di antaranya, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kudus, dan perwakilan Majelis Dzikir Al-Khidmah Kudus. Rapat yang diagendakan secara tertutup itu terpantau kondusif dan lancar.

Plt Bupati Kudus Hartopo menyatakan, jajaran Forkopimda bersifat menjembatani kedua belah pihak agar tercipta keputusan yang bersifat kondusif. Pada kesempatan itu, dijelaskan undang-undang yang mengatur hak umat beragama. ”Pada rapat pertemuan ini, intinya (Fredy) dimakamkan sesuai keyakinan agama terakhir yang dianut oleh almarhum,” katanya.

Kedua, berdasarkan dokumen kependudukan. Serta persaksian keislaman dan persaksian syariat islam, diketahui almarhum adalah bergama Islam. Ia juga menyampaikan, berdasarkan kedua hal itu, maka dicapai kesepakatan jenazah akan dimakamkan sesuai keyakinan agama terakhir (Islam, Red). ”Jenazah (Fredy) akan di makamkan di pemakaman umum di Desa Ploso,” katanya.

Sementara itu Ketua FKUB Kudus Muhammad Ikhsan menyatakan beberapa poin kepada keluarga. Hal itu diungkapkan sebelum jenazah dimakamkan. Salah satunya, hak keluarga terhadap almarhum tidak bakal terkurangi maupun bergeser. ”Kepada keluarga diperbolehkan berziarah ke makam almarhum (Fredy). Tanpa mengurangi hak keluarga,” ungkapnya.

Ketua MUI Kudus Ahmad Hamdani menyatakan, peristiwa ini bisa dijadikan sebagai pelajaran masyarakat Kudus. Dia berharap, warga Kudus tetap menjaga kondusifitas. Meskipun ada perbedaan dari sisi keyakinan.”Perbedaan itu (keyakinan) tidak akan membuat masyarakat Kudus bercerai-berai,” harapnya.

Sementara itu, salah satu anggota komisi D DPRD Kudus Ulwan Hakim berharap, peristawa ini bisa diambil hikmahnya. Ke depan suasa kondisif dan kerukunan antar umat beragama bisa selalu berjalan terus. ”Tragedi ini merupakan pertama kalinya di Kudus. Namun alhamdulillah semua bisa selesai tanpa insiden apapun,” katanya saat menghadiri pemakaman Fredy.

Perwakilan Katolik Romo Leonardus menyatakan, setiap kematian itu sudah menjadi takdir Tuhan. Pihak geraja Katolik menyerahkan semua keputusan prosesi pemakaman kepada keluarga almarhum. Dia menegaskan, semua keputusan di tangan keluarga. Bukan dari pihak gereja. ”Pihak gereja hanya membantu mendoakan. Jika menjadi umat Katolik maka dimakamkan sesuai kepercayaan (katolik). Jika ada keputusan lain, pihak geraja memberikan kebebasan dan dukungan kepada keluarga,” ungkapnya. (gal)

(ks/mal/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia