Jumat, 13 Dec 2019
radarkudus
icon featured
Kudus

Ditentang Tokoh Agama, Jenazah Fredy Akhirnya Dimakamkan Secara Islami

12 November 2019, 14: 05: 27 WIB | editor : Ali Mustofa

KELUARGA: Keluarga ikhlaskan Ignatius Fredy Wahyu Nugroho disemayamkan dengan tata cara Islam.

KELUARGA: Keluarga ikhlaskan Ignatius Fredy Wahyu Nugroho disemayamkan dengan tata cara Islam. (GALIH ERLAMBANG W/RADAR KUDUS)

Share this      

KUDUS, Radar Kudus – Veronica Anggaini berkali-kali memejamkan mata. Dia berusaha menahan air matanya yang sejak tiga hari lalu tumpah. Terlebih, kemarin, keinginannya untuk mengkremasi jenazah Ignatius Fredy Wahyu Nugroho, anak pertamanya itu ditentang tokoh agama. Dia ingin anaknya dimakamkan dengan tata cara Katolik sesuai agama yang dianut keluarga. Namun tokoh agama menentang, karena Fredy, sudah menjadi mualaf sejak 2012.

Sebelumnya, pada Sabtu (9/10) Fredy ditemukan tak sadarkan diri di depan pintu kamarnya (Jl. Ganesha 4 No. 967 RT 003 RW 007 Purwosari Kudus). Pihak keluarga pun membawa Fredy ke rumah sakit. Namun nahas nyawanya tidak tertolong.

Diketahui Fredy yang lahir di Salatiga pada 26 Juli 1971 ini hidup di keluarga yang memeluk agama Katolik. Namun dalam cacatan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kudus pada 2012 Fredy sudah menjadi mualaf.

DIGOTONG: Jenazah Ignatius Fredy Wahyu Nugroho digotong warga muslim untuk dibawa ke RS Islam Kudus untuk dimandikan untuk selanjutnya dikafani dan disalati.

DIGOTONG: Jenazah Ignatius Fredy Wahyu Nugroho digotong warga muslim untuk dibawa ke RS Islam Kudus untuk dimandikan untuk selanjutnya dikafani dan disalati. (GALIH ERLAMBANG W/RADAR KUDUS)

Setelah meninggal, Fredy akhirnya disemayamkan di Dharma ruang E. Pihak keluarga mengadakan misa tutup peti pada pukul 15.00. Keesokan harinya, pada Minggu (10/10) keluarga mengadakan Doa Rosario pukul 09.00. Sedangkan pada pukul 19.00 keluarga menggelar acara Ibadat Tirakat. Semua berjalan mulus. Tidak ada kendala. Keesokan harinya tinggal melaksanakan acara Misa Requiem untuk selanjutnya jenazah dikremasi. Namun malam usai Ibadat Tirakat, beberapa warga menyarankan pihak keluarga untuk memakamkan Fredy sesuai dengan agama yang dianut. Verocina sempat menolak. Dengan alasan Fredy belum sepenuhnya menjalankan syariat yang diajarkan. Bahkan Fredy juga tidak pernah salat di rumah.

Malam Minggu itu menjadi berat. Tokoh agama berunding dengan pihak keluarga untuk mengadakan rapat keesokan harinya bersama Forkopimda.

Tepat pukul 11.00, Kepala Kantor Kesbangpol Kabupaten Kudus Eko Budhi Santoso membacakan hasil putusan rapat yang menyatakan bahwa Fredy akan dimakamkan secara islam. Veronica menangis. Diusapnya air matanya berkali.

Meski berat, keputusan ini diterima keluarga Fredy. Melalui Ghuntur Kusdi Muhtar, juru bicara yang ditunjuk pihak keluarga, Veronica mengaku ikhlas menerima keputusan itu. ”Keluarga sudah menerima,” katanya.

Pihaknya pun mengaku terharu melihat perjuangan masyarakat muslim Kudus untuk memberlakukan jenazah seorang muslim sesuai dengan syariat agama Islam. ”Kami mohon maaf jika semalam belum ada titik temu. Karena ibu Veronica hanya ingin menggunakan haknya sebagai ibu,” tuturnya.

Keinginan Veronica untuk tetap teguh menginginkan pemakaman secara Katolik tak lain hanya sebagai bentuk penghormatan kepada anaknya. Hal ini disampaikan Mulyadi, salah satu kerabat suaminya yang juga menjadi jemaat gereja St Evangelista Kudus. ”Orangtua hanya pengenngrumati anak sampai akhir hayatnya,” katanya.

Meski sudah menerima, pihak keluarga tak mengikuti prosesi pemakaman Fredy. Keluarga memilih pulang ke rumah masing-masing. Namun keluarga telah mengutus Ghuntur untuk memantau prosesi itu hingga selesai. Atas keputusan ini, pihak keluarga meminta jaminan keamanan ketika nantinya ingin mengunjungi pusara anak sulungnya ini. Terkait doa dan penghormatan lainnya, keluarga tetap akan melakukannya secara Katolik bersama keluarganya.

”Semoga masyarakat Kudus bisa tetap saling menjaga dan memelihara toleransi. Tanpa mengenal ras, suku, dan agama,” ucapnya.

Dia menuturkan, jika suatu saat pernah terjadi percakapan antara ibu dan anak ini. Fredy ditanya. ”Fred kalau kamu mati kaya apa? Dijawab, ya ngikut mamah maunya kaya apa. Kalau dengan Katolik gimana? Kalau mama menghendaki begitu ya saya ngikut,” katanya sambil menirukan gaya bicara Veronica.

Sebelum dimakamkan, jenazah Ignatius Fredy Wahyu Nugroho ditandu oleh serombongan Banser dengan iringan lafad tauhid. Sebagian besar jamaah upacara misa yang masih duduk di kursi seketika menundukkan kepala ketika lafad tauhid terdengar semakin lantang. Ada yang sekedar menundukkan sedikit kepalanya hingga mereka yang memejamkan mata.

Merka membawa jasad Fredy yang sudah berada di dalam peti kayu berwana putih ini ke mobil jenazah. Jenazah kemudian dibawa ke Rumah Sakit Islam (RSI) Sunan Kudus untuk disucikan dan dikafani. Sesaat setelah jenazah meninggalkan Gedung Yayasan Dharma Kudus, satu persatu masyarakat meninggalkan tempat yang ramai sejak Minggu (10/11) malam lalu.

Dalam perjalanan ke RSI Sunan Kudus, jenazah mendapat mengawalan dari pihak kepolisian. Juga dari rekan ojek online. Diketahui Fredy merupakan anggota dari salah satu perusahaan ojek online yang beroperasi di Kudus. Ada sekitar 20 ojek online yang ikut mengurai lalu lintas agar perjalanan rekannya dapat lancar.

(ks/daf/mal/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia