Jumat, 13 Dec 2019
radarkudus
icon featured
Features
Sriyono Abdul Qohar, Difabel Penggiat PAUD

Berhasil Dirikan Sekolah di Desanya, Siswa Digratiskan

11 November 2019, 09: 47: 45 WIB | editor : Ali Mustofa

INSPIRATIF: Sriyono Abdul Qohar mengajari batik siswa PAUD-nya belum lama ini.  

INSPIRATIF: Sriyono Abdul Qohar mengajari batik siswa PAUD-nya belum lama ini.   (SUBKAN/RADAR KUDUS)

Share this      

Sriyono Abdul Qohar layak disebut sebagai pahlawan untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Dia penyandang disabilitas. Tapi berkat keuletan dan kesabaran dia berhasil dirikan PAUD di desanya. Biaya ia gratiskan. Layak jika dia dinobatkan sebagai tokoh pegiat PAUD oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI.

SUBEKAN, Radar Kudus, Blora

SEPULUH tahun Sriyono mengabdikan dirinya menjadi seorang guru PAUD. PAUD itu dia dirikan sendiri. Siswanya digratiskan. PAUD/KB ia dirikan berama Gembira Ria. Sekolah itu satu-satunya taman pendidikan usia dini di desanya. Kini sekolahnya telah memiliki puluhan siswa.

PENGHARGAAN: Abdul Qohar bersama Bupati Blora Djoko Nugroho menunjukkan penghargaan dari Mendikbud RI.

PENGHARGAAN: Abdul Qohar bersama Bupati Blora Djoko Nugroho menunjukkan penghargaan dari Mendikbud RI. (SUBKAN/RADAR KUDUS)

Belum lama ini, dia menerima penghargaan dari Kemendikbud. Dinobatkan sebagai tokoh/sosok penggiat PAUD. Sebab dia dinilai berhasil memberikan layanan pendidikan anak usia dini berkualitas.

Piagam penghargaan bernomor 119844/MPK.C/PM/2019 tersebut ditandatangani langsung Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Mendikbud RI) Nadiem Anwar Makarim, tertanggal 6 November 2019. “Merasa kaget. Sangat senang. Dan terhormat mendapatkan undangan dari Dirjend PAUD dan Diknas Kemendikbud untuk mengikuti seminar internasional di Hotel Millenium Jakarta. Terlebih bisa menerima anugerah penghargaan sosok pegiat PAUD,” ungkap ayah dua anak ini.

Dia mengaku termotivasi atas penghargaan itu. Dirinya berjanji akan terus berjuang mendidik anak-anak di desanya agar mendapatkan pendidikan yang layak. “Tentunya ini jadi motivasi saya untuk terus berbuat. Melakukan yang terbaik bagi anak-anak agar mendapatkan pendidikan yang layak. Dan harapannya kelak mereka menjadi orang berhasil,” harapnya

Piagam tersebut diberikan kepada dirinya atas kinerja dan kepedulian yang tinggi sebagai sosok Pegiat PAUD dalam memberikan layanan Pendidikan Anak Usia Dini Berkualitas. “Saya sangat bangga. Saya hanya seorang difabel. Tetapi bisa membawa nama harum kota kelahiran saya. Yaitu Kabupaten Blora,” terang ayah dari Sekar Ayuningtiyas dan Zahra Fatmawati.

Laki-laki yang menjadi pengurus Difabel Blora Mustika (DBM) ini berharap, prestasi yang diraihnya ini dapat memotivasi para penyandang disabilitas di tanah air. “(Banyak yang memandang, Red) orang cacat apakah bisa? Buktinya, saya bisa. Kepada teman-teman penyandang disabilitas di Indonesia untuk tetap berkarya dan memberikan kontribusi untuk tanah air dengan karya masing-masing,” pesannya.

Laki-laki yang tinggal di Desa Sendangmulyo, Ngawen, Blora ini, memang menderita tunadaksa sejak lahir. Meski mempunyai gelar Sarjana (SI), tak ada satupun sekolah yang mau menerimanya. Alasannya sederhana, karena bentuk fisik yang dimilikinya.

Usai menjadi sarjana 2009 silam, ia berulang kali mendaftarkan diri ke sejumlah sekolah sebagai guru. Mulai dari MI, MTs, dan sekolah-sekolah swasta lainnya. Namun tak ada yang menerimanya. Tahun lalu, dia juga sempat ikut bursa CPNS. Gagal juga. Belum beruntung. “Dari semua itu, alhamdulillah saya belum diterima. Mungkin karena bentuk fisik saya,” terang ayah dua anak ini.

Sriyono mengaku, alasannya mendirikan sekolah bukan tanpa sebab. Keinginannya menjadi seorang pendidik seolah terhalang dengan kondisi fisiknya. Apalagi sudah banyak sekolah yang ia datangi. Dia selalu mendapat penolakan. Namun niatnya  mengabdikan diri untuk negeri tidak pernah luntur.

“Saya ingin, sekolah itu menjadi tempat yang benar-benar membuat orang bahagia. Berbudi luhur. Berani menerima kekurangan orang lain dan kelebihan orang lain. Tidak membeda-bedakan orang lain. Bisa menghargai sesama,”ucapnya.

Ia bercerita, pada 2008, ia mendapatkan kabar dari salah seorang bidan desa yang mengabarkan adanya rencana pemerintah pusat membangun PAUD. Momen itulah yang dimanfaatkannya untuk membuat proposal pendirian PAUD di desanya. “Syaratnya harus dapat 21 siswa, tapi waktu itu alhamdulillah bisa dapat 23 siswa. Saya membuat proposal dan langsung di-Acc,” terangnya.

Para siswa yang tergabung di PAUD asuhan Sriyono sama sekali tidak dikenai biaya atau pungutan apapun. Memang ada iuran suka rela yang dihimpun sendiri oleh orang tua peserta didik. Jumlahnya tak ditentukan karena memang suka rela. Atas kemauan sendiri.

Selain sebagai guru, Sriyono juga bergabung pada Komunitas Difabel Blora Mustika (DBM). Di kelompok itu, dia membuat batik dan kerajinan khas Blora untuk dipasarkan. Hasilnya digunakan untuk membiayai keluarga dan operasional sekolah yang didirikan.

“Sekolah ya digratiskan. Tidak bayar sepeserpun. Para siswa hanya kita bebani uang jajan 2 ribu setiap harinya. Uang itu nanti kami belikan jajan buat anak-anak. Untuk operasional ATK dan perawatan fasilitas dan pajak (PBB dan tagihan listrik, Red) dibayar pakai uang pribadi dari usaha sampingan saya,” jelas Sriyono yang juga ketua National Paralympic Committee (NPC) Kabupaten Blora ini. 

Pelajaran dan perjalanan hidupnya itulah, dia selalu memberikan pemahaman, pembelajaran dan pengertian kepada anak didiknya untuk selalu menghargai sesama. Mengutamakan kejujuran. Terus berusaha dan tidak kenal menyerah dan pantang mundur. Pelajaran itu diambilkan dari prinsip hidup yang dia jalani selama ini.

Menurutnya, penanaman nilai-nilai moralitas saat ini sangat dibutuhkan anak didik. Tentunya harus diimbangi dengan perkembangaan teknologi. Namun terpenting dan utama tetap adalah budi pekerti yang luhur dan beradab.

Untuk lebih mendekatkan diri dengan anak didik, Sriyono sering kali mengajak mereka belajar di luar kelas. Mulai dari pengenalan alam sekitar, benda-benda, berbagai pekerjaan, hewan, tumbuhan, lalu lintas, dan lainnya. Sehingga anak-anak benar-benar mengerti serta faham nama benda dan manfaatnya.

PAUD/KB Gembira Ria buka selama lima hari. Senin sampai jumat. Yaitu dari pukul 07.00 hingga 10.00. “Dengan pembelajaran ini, anak mudah menerimanya. Gampang mengingatnya,” tegasnya. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia