Jumat, 13 Dec 2019
radarkudus
icon featured
Cuitan

Menunggu Face Off Simpang Lima

11 November 2019, 09: 01: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (radar kudus)

Share this      

SUATU pagi saya sengaja berjalan-jalan di Simpang Lima Semarang. Tidak hanya sekali. Melainkan, beberapa kali. Salat subuh dulu di Masjid Raya Baiturrahman Simpang Lima. Setelah itu baru “tawaf” mengitari alun-alun milik wong Jawa Tengah itu. Segar dan nyaman.

Suasana pagi di jantung Kota Semarang itu berbeda jauh dengan kondisi siang, sore, maupun malam. Kalau siang panas dan ruwet. Sore semrawut. Malam gemebyar tapi tidak membuat nyaman. Saya juga sering merasakannya.

Alun-alun Semarang itu tidak berbeda jauh dengan alun-alun lain di Jawa Tengah. Kondisi lapangannya sih bagus. Lintasan jalan kakinya ada dua. Di tepi lapangan hijau dan di bibir lingkaran. Bisa untuk jogging juga. Di antara keduanya ada taman. Banyak tanaman asam. Itulah flora identitas Kota Semarang. Konon nama Semarang itu berasal dari kata asem arang-arang (tanaman asam jarang-jarang). Suatu saat saya mengambil buahnya. Sampai sekarang masih tersimpan.

Yang membuat Simpang Lima terkesan semrawut adalah lalu lintas yang mengitari alun-alun. Seolah-olah kendaraan dari semua penjuru bersimpul di sana. Papan reklame mendominasi pemandangan. Kalau malam alun-alunnya hilang. Yang terlihat adalah lampu warna-warni becak hias yang diparkir di seputar alun-alun. Di lingkaran luar jalan dipenuhi pedagang makanan emperan. Kesannya kumuh.

Bukan hanya saya yang menangkap kesan Alun-alun Semarang itu tidak menarik. Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi sudah sering berterus terang. Kalau mau nyaman setiap saat, Simpang Lima harus diubah. Bukan sekedar face off (ganti wajah). Diubah total. Itu bukan berarti fungsi alun-alun dihilangkan. Justru dioptimalkan.

Saya dan seluruh masyarakat Jawa Tengah (menurut saya) mesti angkat jempol kepada Pak Hendi. Dia memiliki ide besar. Sangat spektakuler. Berbeda dengan konsep-konsep lain yang diterapkan untuk membangun jantung kota. Bahkan di ibu kota Indonesia, Jakarta, sekalipun.

Hendi tidak mau sekedar mengubah wajah alun-alun seperti yang dilakukan banyak pemerintah kabupaten. Karena, kenyataannya lalu lintas di semua alun-alun tetap ruwet. Semarang harus beda. Semarang kota metropolitan. Ibu kota Jawa Tengah

Bapaknya orang Semarang itu ingin agar Simpang Lima digerowongi. Untuk perlintasan jalan, parkir, kuliner, dan perbelanjaan. Atasnya dibiarkan terbuka hijau seperti selama ini. Masih bisa untuk upacara, pertunjukan musik, dan pameran. Saya juga masih bisa jalan-jalan pagi di sana. Asyik. Mudah-mudahan pohon asamnya juga dipertahankan.

Ide wali kota itu sudah beberapa kali dilontarkan. Saya pernah mendengarnya langsung. Ketika suatu saat beraudiensi. Jawa Pos Radar Semarang juga pernah menurunkan laporannya. Kelak lalu lintas dari Jalan Pandanaran ke A. Yani dan sebaliknya dilewatkan di bawah alun-alun. Demikian juga dari Jalan Pahlawan menuju Gajahmada. Perlintasannya dibikin bersusun.

Di bawah tanah itu nanti juga dibangun mal dan kantong parkir. Dengan demikian, permukaannya menjadi lega. Kalau konsep itu terwujud, Semarang betul-betul menunjukkan kehebatannya. Menyalip di tikungan kota-kota lain yang sudah terlebih dahulu di depan seperti Jakarta dan Surabaya.

Semarang memang sudah lama ketinggalan. Perlu ide besar untuk meloncat. Juga keberanian. Saya menangkap Pak Wali terus menggebu-gebu. Tidak takut gagal. Toh kalau tidak terwujud pada masanya akan menjadi warisan penerusnya. Ini patut menjadi inspirasi untuk pembangunan kota-kota lain di Jawa Tengah. (hq@jawapos.co.id)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia