Jumat, 22 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Features
Siswi MAN 1 Kudus Pembuat Alat Daguku

Pipa Paralon dan Tempolong Kerupuk Antarkan Juara Nasional

06 November 2019, 11: 53: 56 WIB | editor : Ali Mustofa

INOVATIF: Rima Distriani (kanan) dan Dhea Puspitasari (kiri) memerlihatkan hasil karyanya berupa alat Daguku. Alat tersebut berfungsi menghilangkan bau kotoran ayam.

INOVATIF: Rima Distriani (kanan) dan Dhea Puspitasari (kiri) memerlihatkan hasil karyanya berupa alat Daguku. Alat tersebut berfungsi menghilangkan bau kotoran ayam. (GALIH ERLAMBANG W/RADAR KUDUS)

Share this      

Resah dengan bau kotoran ayam di sekitar rumah, Dhe Puspitasari dan Rima Distriani menciptakan “Daguku”. Dengan memanfaatkan barang bekas. Seperti pipa paralon dan tempolong kerupuk. Dipadukan dengan sensor khusus. Hasilnya mampu mereduksi bau kotoran ayam. Inovasi itu sekaligus mengantarkan keduanya meraih juara I. Dalam Science Project Award se-Indonesia.

GALIH ERLAMBANG W, Kudus, Radar Kudus

ADA yang asing di atas meja lab Komputer MAN 1 Kudus. Bukan komputer yang dipajang. Melainkan kumpulan alat yang rangkaiannya dari barang bekas. Bendanya menyerupai cerobong. Komponen utamanya terbuat dari pipa paralon dan tempolong kerupuk. Barang bekas itulah, yang mengantarkan Dhea Puspitasari dan Rima Distriani meraih juara I. Dalam ajang Science Project Award se-Indonesia di Universitas Sebelas Maret pada November ini.

Alat itu bernama “Daguku”. Kepanjangan dari daun nanas, tongkol jagung, dan kulit pisang kepok. Fungsinya sebagai penghilang gas amonia. Lebih populernya, bau kotoran ayam. Rangkaian alat ini bentuknya menyerupai cerobong.

Ada beberapa komponen untuk membuat alat penghilang bau kotoran ayam ini. Tersedianya alat arduino uno R3, kipas DC 12 volt, sensor MQ 135, dan arang. Arang itu dari bahan daun nanas, tongkol jagung, dan kulit pisang kepok. ”Alat ini mampu menghilangkan NH3, atau bau kotoran ayam (Gas amonia, Red),” ungkap Rima Distriani salah satu pencetus alat tersebut.

Penemuan alat ini dilatarbelakangi kegelisahan kedua siswi tersebut dengan lingkungan sekitar. Dhea merasa tidak nyaman. Sebab di dekat rumahnya banyak warga yang berternak ayam. Otomatis bau kotoran ayam sangat mengganggu kenyamanan.

”Di lingkungan saya banyak yang beternak ayam. Sehingga menimbulkan bau yang menyengat. Alat ini bisa mendeteksi dan menyerap gas amonia tersebut,” kata kedua siswi kelas X IPA MAN 1 Kudus itu.

Cara kerja Daguku terbilang cukup sederhana. Sambil menujuk bagian sensor Dhea menjelaskan kerja alat itu. Alat penghilang bau itu bekerja saat sensor MQ 135 mendeteksi gas amonia. Dengan kisaran 15 ppm. Setelah sensor itu berhasil mendeteksi, kipas akan berputas secara otomatis. Sehingga gas amonia tersebut diserap oleh arang aktif. Yang letaknya di dalam paralon.

Setelah diserap, sesor MQ 135 yang terletak di tutup pipa akan mendeteksi kadar gas amonia. Jika kadarnya lebih 15 ppm, kipas akan berhenti secara otomatis.

Alat ini tidak hanya mereduksi bau kotoran ayam. Namun bekerja lebih efesien. Dari mengurangi suhu ruangan kandang. Gas amonia, kata Dhea, unsurnya bukan dari kotoran ayam saja. Namun ada beberapa hal. Mulai dari keadaan kandang dan kondisi ayam.

Ada beberapa kendala saat Dhea dan Rima membuat alat tersebut. Mereka berdua mengakui kesulitan dalam perancangan alat. Pasalnya ada beberapa instalasi program, guna memfungsikan alat tersebut. ”Pembuatan alat memakan waktu sekitar satu bulan. Agustus hingga September,” katanya.

Saat ini, alat tersebut baru diproduksi satu unit. Ke depan pihak sekolah bakal mengembangkan alat Daguku itu. Targetnya tidak hanya bisa menyerap kadar amonia. Pasalnya penyebab bau ada beberapa zat yang lain.    

Alat Daguku ini sudah diaplikasikan penggunaanya. Namun hanya mampu menyerap kandang ayam berskala kecil. Sekitar 1,5 meter x 1,5 meter. Penggunaannya cukup simpel. Pemilik kandang hanya perlu mengganti arang aktifnya saja. Yang terdapat di dalam paralon.

Sedangkan untuk kandang berskala peternak, alat tersebut dirasa belum memungkinkan. Penyerapan bau amonia dibutuhkan alat Daguku berkapasitas besar. (*)

(ks/lid/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia