Jumat, 22 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Pembelajaran Faktual Mendongkrak Prestasi Belajar

06 November 2019, 11: 34: 28 WIB | editor : Ali Mustofa

Subandi, S.Pd.; Guru SMP Negeri 5 Rembang

Subandi, S.Pd.; Guru SMP Negeri 5 Rembang (dok pribadi)

Share this      

DUNIA pendidikan tak lepas dari istilah pembelajaran atau pengajaran. Karena secara otomatis melekat dengan proses. Pembelajaran merupakan proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik, agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik dan nyaman, sehingga diperoleh hasil yang diharapkan.

Di sisi lain, pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran. Tetapi, sebenarnya mempunyai konotasi berbeda. Dalam konteks pendidikan, tujuan guru mengajar adalah agar peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran. Sehingga tercapai kompetensi pengetahuan, kompetensi keterampilan, dan dapat memengaruhi perubahan sikap (kompetensi sosial dan spiritual) seorang peserta didik. Namun, proses pengajaran memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan pengajar saja. Sedangkan pembelajaran menyiratkan adanya interaksi antara pengajar dengan peserta didik.

Pembelajaran yang berkualitas sangat tergantung dari motivasi pelajar dan kreativitas pengajar. Pembelajar yang memiliki motivasi tinggi ditunjang dengan pengajar yang mampu memfasilitasi motivasi, akan membawa keberhasilan pencapaian target belajar. Target belajar dapat diukur melalui perubahan sikap dan kemampuan atau kompetensi peserta didik melalui proses belajar. Desain pembelajaran yang baik, ditunjang fasilitas yang memandai, ditambah dengan kreativitas guru, akan membuat peserta didik lebih mudah mencapai target belajar.

Pembelajaran faktual merupakan pembelajaran yang menyampaikan fakta-fakta secara detail, spesifik, dan elementer atau mendasar. Semua hal ini bisa ditangkap dengan panca indra yang tak perlu menyebutkan atau menjelaskan. Pembelajaran tersebut dilakukan dengan menampilkan benda-benda dalam bentuk gambar. Benda-benda dalam gambar itulah yang merupakan manifestasi dari makna faktual.

Pembelajaran faktual kali ini, menampilkan objek sebagai model untuk menggambar. Dengan menggunakan objek model berupa gambar yang menyerupai benda aslinya untuk mempermudah pemahaman peserta didik. Dengan gambar dapat mengurangi atau menghilangkan verbalisme yang berupa uraian kata-kata atau kalimat.

Seperti halnya pembelajaran yang sudah penulis lakukan dalam mempelajari gambar model. Yaitu dengan menggunakan atau menampilkan gambar-gambar dari benda-benda nyata. Benda-benda dikelompokkan menjadi tiga jenis. Pertama, benda kubistis (benda menyerupai balok atau kubus: almari, meja kursi, rumah, dan lain-lain). Kedua, benda silindris (benda yang menyerupai silinder atau tabung: piring, gelas, teko, cangkir, botol, kaleng, dan lain-lain). Ketiga, benda bebas (benda tak beraturan: pepohonan, bebatuan, buah-buahan, dan lain-lain).

Dengan menampilkan gambar benda-benda itu, diharapkan peserta didik mudah menangkap materi yang diberikan. Sehingga, bisa mendongkrak prestasi belajar peserta didik. Terbukti, dari pengamatan yang penulis lakukan, yaitu peserta didik yang dikatakan berpengetahuan rendah, bisa mencapai hasil lebih tinggi, dibandingkan peserta didik lain.

Pembelajaran faktual selain mendongkrak prestasi belajar, juga dapat meningkatkan mutu pembelajaran. Mendongkrak yang mempunyai makna konotasi lebih besar atau kuat. Dari pembelajaran faktual seperti ini, sesuai yang disampaikan Pangesti Widarti masuk pada tipe A (visual). Peserta didik mudah memahami materi dengan mengamati gambar. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia