Jumat, 22 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Hukum & Kriminal

Rekonstruksi Kasus Pembobolan Rekening Nasabah BRI Peragakan 37 Adegan

02 November 2019, 16: 22: 17 WIB | editor : Ali Mustofa

CAIRKAN TABUNGAN: Nurkholis, pelaku pembobolan rekening milik Indrati menjalani rekonstruksi saat mencairkan dana dari rekening korban di BRI Unit Kedungtuban.

CAIRKAN TABUNGAN: Nurkholis, pelaku pembobolan rekening milik Indrati menjalani rekonstruksi saat mencairkan dana dari rekening korban di BRI Unit Kedungtuban. (FARID RUDIANTORO FOR RADAR KUDUS)

Share this      

CEPU, Radar Kudus – Polisi menggelar rekonstruksi pencurian buku tabungan. Yang berujung pada pembobolan rekening. Fakta dari rekonstruksi itu, teller BRI tak memverifikasi data sebelum mencairkan dana di tabungan korban. Padahal, yang datang ke teller saat itu pelaku. Bukan pemilik buku tabungan.

Total ada 37 adegan dalam rekonstruksi tersebut. Lokasi pertama rekonstruksi berada di warung milik korban Indrati. Berada di Desa Kedungtuban, Kecamatan Kedungtuban. Tempat itu pula yang jadi lokasi pencurian buku tabungan korban oleh pelaku Nurkholis. Lokasi kedua berada di kantor BRI Unit Kedungtuban. Lokasi itu jadi tempat transaksi pengambilan uang. Yang terakhir di Desa Wadung, Kecamatan Kedungtuban. Lokasi terakhir itu jadi tempat pembakaran buku tabungan milik korban.

Dari rekontruksi di kantor BRI Unit Kedungtuban terungkap, teller BRI setempat tidak melalui prosedur yang benar. Tanpa melalui verifikasi pemilik buku tabungan, teller yang diperankan saksi pengganti langsung memberikan uang. Usai menerima uang, pelaku langsung bergegas meninggalkan BRI. Karena tidak banyak antrian, sehingga tidak butuh waktu lama untuk mencairkan uang dari buku tabungan tersebut.

Kapolsek Kedungtuban Iptu Suharto menyampaikan, usai rekontruksi, tersangka langsung dikirim ke Polres Blora untuk proses lebih lanjut. ”Pelaku kami jerat dengan pasal 362 tentang pencurian yang ancaman hukumannya lima tahun penjara,” ungkap Iptu Suharto.

Farid Rudiantoro, penasehat hukum tersangka berencana mengajukan penangguhan hukuman. Dia menyakini ada celah yang bisa meringankan kliennya. Sebab, kliennya itu adalah tulang punggung keluarga dan belum pernah menjalani hukuman.

Pihaknya sangat menyayangkan pelaporan dan penahanan tersebut. Sebab, sudah ada perdamaian antara kedua belah pihak. Meskipun hanya melalui lisan. Saat upaya perdamaian itu juga disaksikan oleh pihak BRI, pihak desa, bahkan ada dari Bhabinkamtibmas.

Saat upaya perdamaian itu, antara pihak tersangka dan korban sudah bersalaman. Sebagai tanda persoalan telah selsai. Uang juga diserahkan kepada pihak korban. ”Saat itu juga, pada 22 Oktober lalu," jelasnya.

Selama rekonstruksi, menurut Farid, pelaku sempat dipukuli oleh keluarga korban. Itu saat berada di lokasi pertama. ”Tapi dia tidak melaporkan itu,” kata dia.

(ks/sub/lid/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia