Jumat, 13 Dec 2019
radarkudus
icon featured
Features
M Alif Al Firdaus, Juara 1 Olympicad 2019

Tiap Malam Berlatih dengan Ayah

02 November 2019, 14: 36: 36 WIB | editor : Ali Mustofa

SELAMAT: Muhammad Al Firdaus usai tampil dalam Olympicad di Unimus Semarang pekan kemarin.

SELAMAT: Muhammad Al Firdaus usai tampil dalam Olympicad di Unimus Semarang pekan kemarin. (SUBEKAN/RADAR KUDUS)

Share this      

Muhammad Alif al Firdaus berhasil menjuarai Olimpiade Ahmad Dahlan (Olympicad) tingkat nasional di Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) Semarang pekan kemarin. Cita-cita itu diimpikannya sejak kecil. Dia juara bersama dua rekannya Muhammad Tegar Ali Ahmadi dan Azka.

 SUBEKAN, Blora, Radar Kudus

ALIF suka dunia pencak silat sejak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Saat itu dirinya sudah diajarkan bela diri. Maklum saja, sang ayah merupakan pelatih bela diri. Jadi darahnya mengalir kepada dirinya. “Sejak kecil sering tampil. Bawa senjata juga masih keberatan,” terang orang tua Alif, Sumarno kemarin.

 Meski begitu, tidak membuat Alif putus asa. Dirinya terus berlatih dan berlatih. Bahkan setiap malam selepas belajar, dia berlatih sendiri dengan sang ayah. “Sehingga setiap malam saya latih pas dalam kondisi santai. Alhamdulillah saat kelas 2 SD, sudah juara kabupaten tunggal IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia),” terangnya.

Menurutnya, latihan malam hari ini dilakukan karena padepokan (tempat latihan) sering ramai. Banyak peserta atau pesilat lainnya yang berlatih. Sehingga mau tidak mau Alif harus menunggu waktunya senggang.

Laki-laki yang tinggal di Jalan Mr Iskandar Nomor 122 Kaliwangan Blora ini mengaku, berulang kali Alif belum berhasil menjadi jura di tingkat Jateng. Namun dia terus berusaha. Berlatih semaksimal mungkin untuk meningkatkan kemampuannya. Saat Popda juga sudah masuk final. Masuk 10 besar. Namun belum jadi juara pertama.

Berdasar pengalaman itu, dia menilai, harus mendatangkan pelatih dari luar Blora yang notabennya punya nama di Jateng. “Selera juri beda. Kadang kita harus bisa menyesuaikan. Alhamdulillah juara 1 beregu,” jelasnya.

Rencananya dia mendatangkan pelatih dari Wonogiri. Notabennya dulu wasit juri dan sekarang fokus pelatihan. “Didikan beliau (pelatih dari Wonogiri, Red) sukses di Jateng dan nasional. Jadi ke depan memang Alif tidak pesilat petarung, tapi pesilat seni,” tegasnya.

Selain silat, Alif juga suka sepak bola. Sebelum latihan sore biasanya juga main sepak bola dulu. “Saat latihan Alif memang agak ngalem. Tapi dia sama kakak pelatihnya serius,” ucapnya.

Dia mengaku kagum dengan sang anak. Meski tidak begitu memperhatikan saat dia latih, namun saat berlomba luar biasa. Dia sudah faham, ini saya sedang bertanding dan harus berbuat maksimal. “Memang gampang–gampang susah. Bue tidak suka silat. Ternyata anak saya suka,” imbuhnya.

Sumarno mengaku, Alif memang dikader jadi pelatih. Sampai dia belajar dewasa. “Kalau hari-hari biasa, latihan biasanya seminggu sekali. Tapi Dua tiga bulan menjelang pertandingan, biasanya tiap hari. Cita-cita ingin jadi polisi,” jelasnya.

Sementara itu, kepala SD Muhammadiyah Blora Supriyanto mengaku bangga dan senang anak didiknya menjadi juara. Menurutnya Olympicad ini dilaksanakan dalam rangka menyambut pelaksanaan Muktamar Muhammadiyah di Surakarta tahun 2020. “Intinya ya kami bersyukur dengan hasil yang didapat. Kami bangga sama anak-anak. Mereka bisa meraih emas cabang Pencak Silat Tapak Suci Kategori Seni Beregu,” ungkapnya. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia