Jumat, 13 Dec 2019
radarkudus
icon featured
Features
Arofik Muntaha, Penggagas PSG

Sepekan Berhasil Kumpulkan Rp 5 Juta, Tolak Tawaran Nyaleg Partai

02 November 2019, 07: 15: 16 WIB | editor : Ali Mustofa

PEDULI: Arofik Muntaha dan kawan-kawannya memberi bantuan beras kepada warga tak mampu pekan lalu.

PEDULI: Arofik Muntaha dan kawan-kawannya memberi bantuan beras kepada warga tak mampu pekan lalu. (DOK. PRIBADI)

Share this      

Arofik Muntaha dan kawan-kawannya 14 tahun lalu telah gagas Pecinta Sedekah Grobogan (PSG). Mereka kini sudah memberi manfaat ke ribuan warga Kabupaten Grobogan. Setiap Jumat ratusan nasi bungkus dan puluhan paket beras.

SAIFUL ANWAR, Grobogan, Radar Kudus

”BAPAK ini inspiratif, bagaimana kalau nyaleg lewat partai kami?” Tanya utusan salah satu partai di Grobogan menjelang Pemilu 2019 lalu.

Arofik Muntaha

Arofik Muntaha (DOK. PRIBADI)

”Mohon maaf, terima kasih atas tawarannya. Tetapi saya ingin memberikan manfaat kepada dengan cara seperti ini saja,” jawab Arofik Muntoha.

Begitu kira-kira petikan percakapan antara penggagas Pecinta Sedekah Grobogan (PSG) dengan utusan salah satu partai menjelang Pemilu 2019 pada April lalu. Ya, Arofik mendapat tawaran untuk mencalonkan diri menjadi anggota legislatif dari salah satu partai. Namun, dia “berhasil” menolak tawaran tersebut dengan alasannya.

Sebagai penggagas PSG yang belakangan sudah menjadi yayasan berbadan hukum tersebut, Arofik tentu lumayan dikenal publik. Hingga Jumat pekan lalu, sudah 213 kali di berbagai desa di Grobogan dirinya dan rekan-rekan membagikan ratusan nasi bungkus. Juga paket beras berisi 5 Kg sebanyak 50 karung.

”Rutin setiap Jumat kami adakan sedekah nasi Jumat (sijum) dan sedekah beras. Ke desa-desa di Grobogan. Sampai Jumat kemarin berarti sudah 213 kali,” tutur pria kelahiran Grobogan, 22 November 1978 itu.

Arofik memulai agendanya itu pada Jumat pada September 2015. Pada suatu hari, cerita dia, Arofik merasa terganggu stigma buruk masyarakat mengenai pekerjaan makelar mobil. Ya, sebelum benar-benar fokus hanya menjadi pedagang kelontong, pria yang sempat menempuh pendidikan tinggi di Solo itu adalah makelar mobil.

”Stigma masyarakat kan kalau dengar makelar mobil kan gimana begitu kan, negatif. Saya ingin mengubah stigma itu, makelar mobil itu ya sama juga dengan pekerjaan lain. Berdagang dan sebagainya,” cerita dia.

Awalnya, hanya 10 bungkus nasi saja yang dia berikan kepada kaum dhuafa. Rutin setiap Jumat, Arofik lalu mengajak tetangga, rekan-rekannya di dunia maya dan di sosial media untuk ikut mendukung. Tetangga dan rekan-rekannya tak serta-merta langsung memberikan dukungan saat itu.

”Yang mau ikut monggo. Ini ada kegiatan berbagi nasi bungkus setiap Jumat. Saya ajak, saya posting di Facebook. Alhamdulillah, dari minggu ke minggu banyak yang bergabung, Tapi banyak juga yang mencibir,” kata dia.

Ya, meski agenda tersebut bermanfaat untuk masyarakat, namun Arofik justru menuai cibiran dari sejumlah warga. Bapak satu anak itu dituding punya agenda tertentu. Seperti berniat mencalonkan diri menjadi kepala desa, nyaleg, atau demi jabatan lain.

Arofik tak risau. Warga Desa Plosorejo, Tawangharjo, Grobogan itu, tetap jalan terus dengan agendanya. Donatur pun semakin banyak. Setelah empat tahun berjalan, kini setiap Jumat sekitar Rp 5 juta dana yang berhasil dia dan rekan-rekan kumpulkan.

”Dulu memang awalnya dari saya saja. Kalau donatur, penyumbang itu ada yang satu bulan sekali. Ada yang seminggu sekali. Ada yang dua pekan sekali. Yang jelas, saya mintanya sama Allah, minta orang masuk dan berbagi dari PSG,” aku dia.

Arofik mengatakan, dulu awalnya memang hanya nasi bungkus. Tapi karena dana yang terkumpul cukup banyak, dia dan rekan-rekan merasa tak mungkin dibelikan nasi bungkus saja.  Akhirnya PSG pun sepakat menambah memberikan beras juga. Yakni sekitar 30-50 bungkus masing-masing 5 Kg.

Untuk menemukan para dhuafa yang membutuhkan pun, Arofik selalu berkoordinasi dengan kepala desa. Para dhuafa itu lalu dikumpulkan di kantor kepala desa atau di tempat yang cukup lapang untuk kemudian diberikan beras dan nasi bungkus tersebut.

”Kalau tidak begitu biasanya ya diberikan kepada mereka yang di daerah asal masing-masing relawan. Terus di-upload di grup. Diposting di media sosial. Ada 10 sampai 15-an orang yang biasanya di lapangan,” kata dia.

Selain memiliki relawan yang cukup banyak, saat ini PSG juga sudah memiliki dua kendaraan operasional. Yakni mobil jenis Grandmax dan Luxio. Kendaraan tersebut juga merupakan hasil pengumpulan dana dari para donatur.

”Suatu kali kan mobil saya, sebagai makelar kan ada 6-7, lha itu habis. Saya mikir, bagaimana ini, untuk menyalurkan. Akhirnya saya bikin program namanya ‘saham surga’, alhamdulillah dalam waktu 2,5 bulan, terbeli itu, Grandmax. Lalu menyusul itu Luxio, setelah relawan semakin banyak,” tuturnya.

Arofik mengaku dirinya benar-benar hanya ingin bertujuan mencari ridho Allah SWT. Dengan program tersebut, dia ingin menggugah, merangsang warga dan masyarakat pada umumnya untuk peduli kepada dhuafa, antara lain janda tak berpenghasilan dan anak yatim serta piatu.

”Inginnya saya ya warga itu tergugah hatinya, trenyuh, dan peduli kepada kaum dhuafa,” kata dia. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia