Jumat, 13 Dec 2019
radarkudus
icon featured
Features
Dian Putri Sabina Ramadan, Siswi Berprestasi

Sempat Tertidur dan Ciut Nyali, Diatasi dengan Improvisasi

31 Oktober 2019, 15: 06: 54 WIB | editor : Ali Mustofa

Dian Putri Sabina Ramadan

Dian Putri Sabina Ramadan (VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI/RADAR KUDUS)

Share this      

Dian Putri Sabina Ramadan awalnya menyesal karena harus menghafalkan banyak teks saat mengikuti lomba English news reporting. Tetapi ia berhasil melewati dan mendapat juara lomba tingkat Jateng dan DIY (Daerah Istimewa Yogjakarta) itu.

VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI, Radar Kudus, Rembang

 PERJUANGAN dirasakan Dian Putri Sabina Ramadan saat mengikuti English news reporting tingkat Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogjakarta (Jateng dan DIY). Berangkat dari Lasem, Rembang, pukul 02.00. Kemudian sesampai di Semarang langsung mengikuti berbagai persiapan lomba yang digelar Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini.

”Di sana sudah ngantuk waktu pembukaan. Waktu di ruang tunggu. Sudah ngantuk puwol (di lokasi lomba). Saya ketiduran. Sampai mau jatuh dari kursi. Hahaha...,” kenang siswi SMAN 1 Lasem itu.

Ia pun sudah terjaga. Ketika mendapatkan giliran mengambil undian tema yang hendak dibacakan. Meski sudah melek, rasa kantuk itu masih ada. Sampai di tempat pengambilan undian itu, ternyata , yang didapat tidak sesuai apa yang dipelajari sebelumnya.

”Diingetin Mbak Unnes-nya: Dek.. Dek... itu dibaca jangan ngalamun,” imbuh perempuan yang akrab disapa Caca itu. Meskipun terlihat melamun, dalam memori Caca tetap terlintas teks-teks yang bakal ia bacakan tadi. Ia tetap menghafalkan.

Caca mengaku, English new reporting ini, peserta diminta membaca berita menggunakan bahasa Inggris. Dari panitia sudah menentukan tema sebelumnya. Ada tiga tema. Di antara kecanduan media sosial (medsos) dan dampak asap kebakaran hutan.

Dari tiga tema tersebut, sudah dipersiapkan guru pembimbing. Masing-masing tema ada dua lembar teks. Ia menuturkan, untuk membuat teks ini membutuhkan waktu cukup lama. Sehingga teks tersebut diberikan mepet. Sepekan sebelum perlombaan. Ia pun hampir putus asa. Karena banyak yang harus dihafalkan.

”Karena sudah frustasi, teksnya saya kurangi dan disingkat. Tinggal beberapa lembar,” katanya.

Saat hari perlombaan, tema-tema yang dibacakan peserta diundi lagi oleh panitia. Caca mendapat tema kecanduan medsos. Tetapi ada beberapa sub tema yang berbeda. Ada beberapa poin seperti Facebook, Twitter, dan Instagram.

 ”Tetapi secara kesulurhan tema yang saya pelajari sudah mendalami dari tema itu,” tuturnya.

Sebelum ”beraksi”, ia memang perlu melewati beberapa tiga ruang tunggu. Di tempat itu, tentunya ada peserta-peserta lain dari berbagai kota yang mengikuti lomba. Mereka dengan penampilan-penampilan yang berbeda. ”Yang lebih menyiutkan nyali, (peserta) dari luar kota pakai jas dan rapi. Canting-cantik. Ber-make up. Pakai high hills dan jas. Tak kira itu pendamping. Ternyata itu juga peserta,” ungkapnya.

Setelah itu, peserta baru ”baraksi”. Di dalam ruangan. Di dalamnya sudah ada panitia. Ditata beberapa kamera.  Layaknya studio seperti acara-acara berita di televisi. Dibelakangnya sudah terpampang layar. Layar itu bisa dilihat para peserta lain yang menunggu di ruang tunggu.

”Total waktu tiga menit. Bila lebih nilainya dikurangi,” katanya. Di depan kamera, Caca sempat merasa blank. Ditambah kilatan lampu blitz kamera. Membuyarkan konsentrasinya. Tetapi dia tak kehilangan cara. Ia tetap membaca beritanya. Meski teks tak sama, ada beberapa improve. Yang penting tak berhenti tengah jalan. Dan disisipi kata ”E…” ungkapnya.

Ya, caranya itu berhasil. Ia mendapatkan juara III. Meskipun pada awalnya sempat menyesal. Karena pada lomba English news reporting harus menghafalkan banyak teks. ”Tapi penyesalan itu telah membuka jalan saya,” ucapnya. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia