Jumat, 13 Dec 2019
radarkudus
icon featured
Features
Sholihan, Kades Banjaragung Terpilih

Tak Nyebar Amplop, Uang Jaminan Pencalonan Ditanggung Warga

29 Oktober 2019, 11: 34: 38 WIB | editor : Ali Mustofa

SEDERHANA: Petinggi Banjaragung terpilih Sholihan di depan rumah semi permanennya belum lama ini.

SEDERHANA: Petinggi Banjaragung terpilih Sholihan di depan rumah semi permanennya belum lama ini. (M. KHOIRUL ANWAR/RADAR KUDUS)

Share this      

Tanpa menyebar amplop berisi uang, Sholihan terpilih jadi Kepala Desa Banjaragung. Semua kebutuhan pencalonan ditanggung bersama oleh relawan. Termasuk, uang jaminan pencalonan sebesar Rp 25 juta.

M. KHOIRUL ANWAR, Jepara, Radar Kudus

MATA Sholihan terlihat sembab. Saat ditemui Jawa Pos Radar Kudus, ia baru saja bangun tidur siang. Maklum saja, setiap malam ia masih menerima tamu dari warga dan relawan usai terpilih menjadi kepala desa atau petinggi Desa Banjaragung, Bangsri.

Sehingga waktu siang ia manfaatkan untuk istirahat. Rutinitas itu mulai ia jalani sejak dua pekan sebelum pemilihan hingga kemarin. Saat ditemui, ia ada di rumah anaknya. Rumahnya sederhana. Masih berupa tembok bata merah. Lantainya belum dipasang keramik.

Kemudian ia mengajak ke rumah yang biasa ia tempati. Letaknya di belakang rumah milik anaknya itu. Lebih sederhana lagi. Rumah semi permanen. Dindingnya dari anyaman bambu di samping. Sedangkan bagian depan dari papan dasboard. Lebarnya hanya lima meter. Panjangnya enam meter. Rumah itu masih beralaskan tanah.

Dengan kondisi tersebut, ia sempat ragu saat dicalonkan menjadi petinggi. Tawaran bermula dua tahun lalu. Dua warga mendatanginya. Akan dicalonkan menjadi petinggi. Ia tak menjawab tidak. Tuga tidak menjawab bersedia. ”Alasannya jelas saya tidak punya modal. Sehari-hari saya hanya jadi supir truk pengangkut material batu dan pasir,” katanya.

Setiap kali didatangi, ia selalu menjawab dengan alasan yang sama. Hingga menjelang pendaftaran, ia didatangi warga dengan jumlah yang lebih banyak. Pada ketentuan pendaftaran, calon harus memberikan uang jaminan sebesar Rp 25 juta. Ia tidak menyanggupi. ”Tapi salah satu warga siap membantu menyiapkan uang jaminan. Lalu saya beralasan lagi tak punya modal lain untuk menyediakan kendaraan saat mengangkut warga ke pencoblosan. Ternyata ada 30 lebih warga sukarela menyediakan kendaraan gratis. Juga dorongan dari tokoh masyarakat. Mau tidak mau saya bersedia,” ujarnya.

Tiba hari pencoblosan. Ia melawan petahana. Tak ada amplop yang disebar kepada calon pemilih dari tim suksesnya. Hingga pengitungan suara, ia meraih 2.186 suara. Sementara petahan 1.670 suara. Seketika, relawan dan pendukungnya mengaraknya keliling desa menggunakan kereta kuda. ”Saya kaget. Tidak tahu kalau akan diarak. Katanya itu dari nazar salah satu pendukung,” tuturnya.

Setelah terpilih, diadakan syukuran dengan mengirim nasi kotak kepada relawan. Lagi-lagi ia tidak mengeluarkan uang. Beras, lauk, kardus, dan makanan ringan hasil sumbangan dari relawan. Bahkan ada yang menyumbang ayam potong sekitar 50 ekor lebih.

Ia sempat menanyakan kepada pendukungnya, mengapa sampai merelakan harta dan tenaga untuk mendukungnya menjadi petinggi. Warga menginginkan Banjaragung berjaya dan maju sebagaimana saat Sholihan menjadi petinggi pada 2003 hingga 2013 lalu. Ya, sosok yang sering disapa Pak Ang ini adalah mantan petinggi dua periode. Saat itu ia menjadi petinggi pertama. Karena desanya adalah hasil pemekaran desa banjaran.

Selama sepuluh tahun itu ia membuka akses infrastruktur dengan pembangunan jalan baru dan delapan jembatan. Saat itu belum ada dana desa seperti saat ini. Selama menjadi petinggi 10 tahun itu ia juga masih kerja sebagai supir truk. Hingga tak lagi menjadi petinggi masih setia dengan pekerjaannya itu.

”Saya tidak malu jadi petinggi dulu rumah saya jelek. Makan ya dari supir itu. Bahkan setelah jadi lagi. Nanti saya tetap nyopir. Setelah ngantor dan tidak ada agenda desa saya kerja. Ya dari situ saya makan hasil nyopir,” tuturnya.

Dengan dukungan dana desa, ia ingin membangun Desa Banjaragung seperti yang diharapkan. Salah satunya akan membuat gapura desa di detiap akses jalan masuk desa. Kemudian pembuatan gedung serbaguna dan rancangan pemberdayaan masyarakat melalui wisata desa. (*)

(ks/lid/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia