alexametrics
Jumat, 10 Jul 2020
radarkudus
Home > Pena Muda
icon featured
Pena Muda
Salma Rosyidatunnuha, Siswi 10 Top Designer

Malam Ngaji, Siang Merancang Busana

26 Oktober 2019, 15: 01: 51 WIB | editor : Ali Mustofa

SANTRI BERPRESTASI: Salma Rosyidatunnuha bersama model yang mengenakan busana rancangannya.

SANTRI BERPRESTASI: Salma Rosyidatunnuha bersama model yang mengenakan busana rancangannya. (DOK PRIBADI)

Share this      

MENDENGAR kata santri, mungkin mayoritas akan membayangkan figur anak muda yang mengenakan sarung, peci, atau jilbab. Namun, di zaman milenial persepsi seperti itu sudah bergeser. Sebab, sudah banyak para santri sekarang menjadi tombak dalam memajukan bangsa. Prestasi para santri yang menembus ajang nasional bahkan internasional sudah tidak asing lagi di telinga.

Salah satunya Salma Rosyidatunnuha. Siswi jurusan fashion di SMK NU Banat Kudus ini, berhasil menjuarai lomba kreasi busana.

Selain itu, juga masuk 10 besar desainer Kreasi Busana Pentas PAI tingkat nasional. Perjuangannya dalam menekuni dunia fashion tak hanya berhenti di situ, Salma juga masuk 10 besar top designer Modest Fashion Project (MOFP) yang diadakan Kementerian Perindustrian yang akan difinalkan melalui ajang fashion show di Jakarta.

Saat ini, Salma masih menjadi siswi Jurusan Tata Busana di SMK NU Banat. Perempuan asal Jalan Flamboyan, No.13, Tegalwangi, Talang, Tegal, juga nyantri di Pondok Pesantren Yanabi’ul Ulum wa-Rohmah (PPYUR).

Siswi kelahiran 9 November 2002 ini, tertarik di bidang fashion sejak kelas IV SD. Sejak kecil, Salma sudah suka mix and match baju. Pemilik hobi menggambar, basket, dan travelling ini, tertarik di bidang fashion karena menurutnya dengan fashion bisa mempelajari karakter diri. ”Fashion bisa menyuarakan apa yang sedang dirasakan. Fashion juga bisa menampilkan jati diri kita. Juga bisa bereksperimen sesuai keinginan kita,” ujar Salma.

Meski demikian, Salma dulunya bercita-cita menjadi atlet basket, tapi setelah mendalami fashion, dia merasa lebih nyaman di bidang ini. Dia pun ingin menjadi desainer dan ingin mendirikan sekolah fashion. Untuk mengejar cita-cita itu, Salma berencana kerja di tempat desiner supaya sekalian bisa belajar how to be a designer.

Motivasi dari orang tua selalu didapatkan Salma. Sehingga banyak prestasi yang sudah ia raih diusianya yang masih duduk di bangku SMK. Salah satu prestasinya, masuk 10 besar desainer lomba desainer Kreasi Busana Pentas PAI tingkat nasional mewakili Jawa Tengah.

Proses yang Salma tempuh untuk mencapai 10 besar tidaklah mudah. Dia mendesain busana selama 10 menit tanpa meja. Hanya menggunakan papan. Kemudian presentasi selama lima menit dan tanya jawab mengenai busana. Hari berikutnya geladi peragaan busana dan malamnya fashion show. ”Setelah itu langsung pengumuman 10 besar. Penentu 10 besar yakni tahap mendesain dan presentasinya,” ujarnya.

Banyak kesan yang Salma dapat dalam lomba tersebut. Para peserta lomba yang keren dan punya ciri khas masing-masing mengenai daerahnya menjadi motivasi baru baginya. Dia mengaku lawan terberat dari Jawa Barat, karena busana yang dibuat memang bagus.

Saat mengetahui bahwa dirinya masuk 10 besar, dia merasa senang. Tapi ia tak ingin hanya berhenti sampai di situ. ”Belajar, belajar, dan belajar memang harus selalu saya lakukan. Karena saya yakin untuk menjadi lebih dari ini, masih banyak usaha yang harus saya lakukan,” ungkapnya. Usai lomba itu, bulan depan Salma mengikuti final fashion show 6 Look di Fx Sudirman Jakarta.

Menjadi siswi, santri, dan desainer tentunya butuh waktu ekstra. Juga harus pintar-pintar membagi waktu. Salma membagi waktunya selama mengikuti lomba dengan cara, pagi sekolah setelah doa langsung ke studio sampai pulang sekolah, setelah itu mengikuti kegiatan pondok sampai pukul 21.00, setelah itu mengerjakan materi lomba dan mengerjakan tugas yang tertinggal. (ayu/mia/aslihah/diki)

 

Rubrik ini adalah karya jurnalistik para penerima Beasiswa Anak Asuh - Sumbangsih Sosial Djarum Foundation. Diterbitkan atas kerja sama Radar Kudus, Forum Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (FLKSA) Kabupaten Kudus dan Djarum Foundation. Para penerima beasiswa adalah anak asuh panti asuhan di Kudus yang mendapatkan beasiswa pendidikan penuh di SMK Binaan Djarum Foundation.

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia