alexametrics
Kamis, 15 Apr 2021
radarkudus
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Meningkatkan Minat Baca Melalui Pojok Baca

25 Oktober 2019, 13: 52: 46 WIB | editor : Ali Mustofa

Dra. Aniek Tjatur Soelistyani; Guru SMP Negeri 1 Sarang Rembang

Dra. Aniek Tjatur Soelistyani; Guru SMP Negeri 1 Sarang Rembang (dok pribadi)

Share this      

DALAM rangka mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana yang telah diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. Sekolah sebagai wahana belajar sepanjang hayat, dalam mengembangkan potensi anak didik agar menjadi manusia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu, terampil, kreatif, dan mandiri.

Untuk itu, salah satu upaya sekolah dalam mewujudkan bangsa yang berbudaya baca, maka sekolah melakukan pembinaan minat baca. Pembinaan minat baca merupakan langkah awal sekaligus cara efektif untuk menumbuhkan minat baca kepada peserta didik. Karena di masa anak-anak merupakan masa yang tepat untuk menanamkan sebuah kebiasaan yang nantinya, kebiasaan ini akan terbawa hingga dewasa. Dengan kata lain, apabila sejak kecil peserta didik terbiasa membaca, maka kebiasaan membaca akan terbawa hingga dewasa.

Kebiasaan membaca merupakan sesuatu yang penting dan fundamental yang harus dikembangkan sejak dini dalam rangka untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan. Kegiatan tersebut dikenal dengan literasi.

Baca juga: Dinas PUPR Kudus Targetkan Pelebaran Jalan Rahtawu Selesai Desember

Pengertian literasi sekolah dalam konteks GLS (Gerakan Literasi Sekolah) adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat menyimak, menulis, dan/atau berbicara.

GLS merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh. Tujuannya, untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.

Berdasarkan hal tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan GLS yang melibatkan semua pemangku kepentingan di bidang pendidikan. Mulai dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, hingga satuan pendidikan. Selain itu, pelibatan unsur eksternal dan unsur publik. Yakni orang tua peserta didik, alumni, masyarakat, dunia usaha, dan industri juga menjadi komponen penting dalam GLS.

Menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam GLS. Agar anak-anak menjadi pembelajar sepanjang hayat. Melihat minat baca peserta didik akhir-akhir ini menurun, karena pengaruh gadget dengan mudahnya mendapat informasi secara cepat tanpa mau membaca. Padahal buku adalah jendela dunia. Kemudian dapat dijadikan alasan malas berkunjung ke perpustakaan.

Zaman sekarang untuk mudah memperoleh informasi lebih luas, tanpa melakukan kegiatan literasi. Untuk dapat meningkatkan minat baca peserta didik dengan upaya hendaknya di setiap sekolah diberi fasilitas perpustakaan kelas. Pojok setiap ruang kelas diberi rak/almari buku.

Pojok literasi di sekolah diletakkan di pojok depan atau di pojok belakang ruang kelas. Pojok baca tersebut ditata sedemikian rupa, sehingga peserta didik nyaman saat membaca buku. Di setiap pojok literasi terdapat rak yang berisi koleksi buku. Pojok baca ini yang akan mendukung kegiatan GLS di sekolah.

Peserta didik seminggu sekali wajib membaca buku nonpelajaran yang kemudian akan disimpan di rak pojok baca selama satu minggu. Kemudian buku tersebut, akan diabsen sesuai dengan pemiliknya. Peserta didik yang telah membawa buku dapat saling meminjamkan. Setelah peserta didik membaca buku, kemudian akan diresume di buku catatan khusus. Sehingga, selain peserta didik belajar membaca peserta didik juga dapat belajar mengingat dan menulis.

Hal ini bertujuan, agar setiap pembelajaran 15 menit jam pertama untuk membiasakan peserta didik melakukan literasi. Sekolah membuatkan kontrak membaca untuk melaporkan hasil literasinya dua pekan sekali kepada wali kelas sampai satu buku selesai dibaca.

Dengan pembiasaan, peserta didik akan terbiasa membaca buku dan menjadi kecanduan membaca dan menjadi pembaca sepanjang hayat.

Upaya seperti ini dapat meningkatkan minat baca peserta didik tanpa meninggalkan gadget. Semoga upaya ini dapat bermanfaat bagi peserta didik, pihak sekolah dan pemerintah yang terkait. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP