Jumat, 22 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Kudus

Kekeringan di Kudus Meluas, Polres Droping Air Bersih ke Warga

21 Oktober 2019, 10: 54: 09 WIB | editor : Ali Mustofa

DROPPING AIR: Kapolres Kudus beserta jajaran dan Bhayangkari menyalurkan bantuan air bersih menggunakan mobil water canon kepada warga Desa Bulung Kulon beberapa waktu lalu.

DROPPING AIR: Kapolres Kudus beserta jajaran dan Bhayangkari menyalurkan bantuan air bersih menggunakan mobil water canon kepada warga Desa Bulung Kulon beberapa waktu lalu. (DIYAH AYU FITRIYANI/RADAR KUDUS)

Share this      

JEKULO, Radar Kudus – Kemarau panjang menyebabkan sebagian wilayah di Kabupaten Kudus mengalami krisis air bersih. Bahkan daerah yang terdampak kini meluas. Semula ada 15 desa di 5 kecamatan yang terdampak. Kini meningkat menjadi 19 desa. Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus sudah sekitar 1.749.000 liter air bersih yang disalurkan untuk 19 desa di 5 kecamatan di Kabupaten Kudus.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kudus Bergas Catursasi Penanggungan mengatakan, jutaan liter air bersih itu telah didistribusikan sesuai permintaan. Kecamatan Kaliwungu meliputi Desa Kedungdowo dengan total bantuan 387 ribu liter, Desa Setrokalangan 220 ribu liter, Desa Mijen 110 ribu liter, Desa Kaliwungu 34 ribu liter, Desa Gamong 30 ribu liter, Desa Sidorekso 20 ribu liter, Desa Prambatan Kidul Total 9.500 liter.

Di Kecamatan Undaan Wilayah terdampak yakni Desa Terangmas dengan total bantuan 845 ribu liter, Desa Lambangan 140 ribu liter, Desa Glagah Waru 151 ribu liter, Desa Kutuk 160 ribu liter, Desa Kalirejo 840 ribu liter, Desa Wates 50 ribu liter, Desa Undaan Kidul 50 liter, Desa Medini 10 ribu liter.

Kecamatan Jekulo yakni Desa Bulung Cangkring dengan total bantuan 45 ribu liter dan Desa Bulung Kulon 90 ribu liter. Di Kecamatan Mejobo yakni Desa Kesambi total bantuan yang diberikan mencapai 71 ribu liter. Dan Kecamatan Gebog wilayah di Desa Getasrabi total bantuan yang sudah diberikan 65 ribu liter. Dalam penyaluran air bersih ini, pihaknya juga bekerja sama dengan pihak swasta dan instansi lainnya. ”Intensitas permintaan bantuan air bersih terus meningkat. Sampai saat ini pun kami masih menerima permintaan bantuan air bersih,” kata Bergas.

Sementara itu salah satu warga di Dukuh Mijen, Desa Bulung Kulon, Kecamatan Jekulo Ngadimin mengaku sudah hampir tiga bulan mengalami kesulitan air bersih. Untuk konsumsi sehari-hari belakangan ini dia harus mengeluarka setidaknya Rp 24 ribu tiap hari untuk keperluan air bersih. ”Untuk makan, minum, masak biasanya beli galon. Sehari bisa enam kali,” katanya.

Kesulitannya semakin terasa ketika kebutuhan itu tidak diimbangi dengan pendapatannya. Menjadi buruh pembuat tas kertas tak cukup untuk memenuhi kebutuhan itu. Akhirnya, kadang dia dan keluarga rela tak mandi.

(ks/daf/mal/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia