Jumat, 22 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Deterjen vs Lingkungan

21 Oktober 2019, 09: 51: 07 WIB | editor : Ali Mustofa

Haryati Werdaningsih, S.Si.; Guru SMP Negeri 6 Rembang

Haryati Werdaningsih, S.Si.; Guru SMP Negeri 6 Rembang (dok pribadi)

Share this      

PERTUMBUHAN penduduk yang terus meningkat berdampak pada peningkatan pencemaran lingkungan. Pencemaran ini disebabkan oleh masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan. Termasuk berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia. Sehingga kualitas lingkungan menurun. Salah satu lingkungan yang perlu dilestarikan adalah air. Hal ini penting, karena air merupakan kebutuhan utama bagi proses kehidupan di bumi.

Dalam kehidupan sehari-hari, air sehat sangat dibutuhkan yaitu: yang tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa. Tetapi banyak dilihat air di sekitar yang berwarna keruh, berbau dan bercampur sampah. Di zaman sekarang air menjadi masalah yang memerlukan perhatian serius, terutama di kota-kota besar. Untuk mendapatkan air bersih harus dengan merogoh kocek yang tidak sedikit. Bahkan, di Jakarta harga air bersih bisa lebih mahal daripada harga bensin.

Pencemaran air adalah satu dari berbagai macam jenis pencemaran yang perlu mendapatkan perhatian. Pencemaran ini di Indonesia semakin memprihatinkan. Kondisi ini diakibatkan oleh aktivitas manusia yang meninggalkan limbah domestik atau rumah tangga.  Limbah yang paling banyak dihasilkan oleh rumah tangga salah satunya berupa deterjen.

Deterjen termasuk bahan kimia yang berfungsi sebagai pembersih. Bahan ini sangat dibutuhkan oleh manusia. Hampir setiap hari, orang selalu menggunakan deterjen dalam kehidupan. Tetapi, selain bermanfaat ternyata deterjen juga memiliki efek samping bagi lingkungan. Karena bahan-bahan kimia yang terkandung didalamnya dapat mencemari ekosistem air. Untuk itu, manusia harus mulai memperhatikan penggunaan deterjen agar aman bagi lingkungan.

Komponen dalam deterjen tersusun atas lima jenis bahan, antara lain surfaktan yang merupakan senyawa Alkyl Benzene Sulfonat (ABS) yang berfungsi untuk mengangkat kotoran pada pakaian. Senyawa ini sebagai bahan aktif pada deterjen yang sulit diuraikan oleh mikroorganisme. Selain itu, juga mengandung senyawa fosfat yang memberikan peran besar pada proses eutrofikasi atau suburnya tanaman air yang akan berdampak bagi biota air.

Kasus pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh deterjen, contohnya kejadian yang terjadi di perairan Kanal Banjir Timur Marunda Jakarta Utara pada tahun 2018. Yaitu munculnya busa putih yang menutupi perairan tersebut (Kompas.com:2018). Dijelaskan pula, bahwa 60% limbah perairan berasal dari limbah rumah tangga (domestik) dan 40% limbah industri. Pemakaian deterjen tentu saja menyebabkan air mengandung banyak sekali ikatan hidrokarbon yang bisa mematikan biota air bila terakumulasi.

Penanganan limbah deterjen perlu melibatkan banyak pihak, masyarakat, industri maupun pemerintah.  Masyarakat harus mulai menggunakan deterjen dengan lebih bijaksana, memakai sesuai dosis dan menangani limbah deterjen rumah tangga dengan membuat pengolah limbah sederhana. Alat pengolah limbah ini bisa dibuat di setiap rumah yaitu dengan membuat kolam penyaring limbah pada saluran air yang menuju selokan. Kolam dengan ukuran kira-kira 20 x 30 cm yang berisi kerikil, pasir dan sabut kelapa. Alat ini akan mampu menyaring limbah domestik yang mengandung deterjen.

Untuk industri, sudah ada peraturan pembuatan IPAL (instalasi pengolahan air limbah) sebelum mendapatkan ijin pendirian industri. Begitu pula pemerintah harus selalu mengadakan pengawasan dan sosialisasi terhadap penanganan limbah. Seperti yang akhir-akhir ini, mulai digencarkan gerakan bank sampah mulai dari tingkat dasa wisma ternyata sangat berdampak positif bagi penanganan sampah demi menjaga lingkungan hidup.  Diharapkan gerakan menangani limbah deterjen ini juga harus gencar disosialisasikan ke masyarakat. Sinergi dari berbagai pihak yang terlibat untuk mengatasi masalah ini.

Upaya lain yang bisa dilakukan untuk menjaga lingkungan air agar selalu baik adalah dengan gerakan pembuatan biopori atau bisa dengan sumur resapan sebagai jalan peresapan air menuju tanah. Jika sumber air tanah maksimal dan sehat maka akan membantu menjaga kelestarian lingkungan. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia