Jumat, 22 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Menulis sebagai Puncak Kreativitas Berbahasa

21 Oktober 2019, 09: 23: 43 WIB | editor : Ali Mustofa

Parman, S.Pd.; Guru SMP Negeri 2 Gabus

Parman, S.Pd.; Guru SMP Negeri 2 Gabus (dok pribadi)

Share this      

TULISAN ini terinspirasi dari tayangan video motivasi di youtube. Intinya adalah bagaimana menjadi pribadi yang tidak membosankan. Dari situlah saya mengambil salah satu trik yang bisa dilakukan untuk mengembangkan kemampuan menulis. Lho, apa hubungannya?

Pada hari Kamis, 3 Oktober 2019 seperti biasanya saya mengawali kegiatan di kelas dengan ritual wajib yaitu berdoa dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Yang berbeda adalah setelah itu saya secara spontan meminta anak menyusun sebuah paragraf dengan kata yang saya tentukan. “Jangan melakukan sesuatu secara terjadwal dan terencana secara terus-menerus jika tidak ingin menjadi pribadi membosankan”, kata motivator itu. Maka hari ini saya mencoba kiat yang disampaikan dalam video itu. Lima menit setelah aba-aba mulai menulis,  aktivitas siswa saya hentikan dan saya lihat hasilnya. Ada enam siswa menghasilkan sebuah paragraf bergaya narasi, dua siswa menghasikan tulisan agak bergaya deskripsi. Kelihatannya saya pernah membaca tulisan itu. Yang luar biasa, sembilan belas lainnya mayoritas siswa laki-laki, tidak menuliskan apa-apa kecuali kata yang saya tentukan tadi.

Survei sederhana yang saya lakukan di kelas itu jelas menggambarkan bahwa kemampuan siswa untuk menulis teramat payah. Memang untuk keluar dari tradisi lisan sebagai elemen revolusi mental masih menjadi cita-cita. Di kelas, kita lebih mudah mendapati anak-anak yang nerocos berbicara dibandingkan dengan yang membaca. Lebih banyak yang tertawa dan bergurau dibandingkan yang fokus mendengarkan paparan guru dan menulis. Sayangnya candaan dan gurauan mereka kebanyakan menggunakan piranti bahasa Jawa dan itupun bahasa Jawa tataran ngoko saja.

Pemahaman siswa bahwa menulis adalah sebagai kreasi produktif hanya dimiliki oleh segelintir siswa. Kebanyakan masih menganggap menulis adalah menduplikasi bahkan ada sebagian di antaranya yang memahami menulis sama dengan mencatat. Hal inilah yang harus terus dilakukan perubahan cara berpikir bahwa sebenarnya menulis adalah ajang kreasi, wahana ekspresi, dan rekreasi berpikir. Hal tersebut terjadi karena lebih banyak siswa menjalani pembelajaran menulis dengan keterpaksaan.

Dengan hadirnya sarana digital yang semakin canggih dari hari ke hari, kian memudahkan siswa. Banyaknya artificial intelegence bisa menjadikan siswa dengan mudah melakukan apa saja termasuk ‘sebenarnya’ menulis. Benarkah demikian? Semestinya ya tetapi belum tentu akan menjadi seperti itu. Mereka yang saya minta untuk menulis beberapa hari yang lalu juga anak-anak milenial yang lebih banyak waktunya dipakai untuk bergelut dengan video lucu atau video lainnya. Berteman tidak hanya dengan teman satu meja dakon tetapi dengan banyak teman yang bahkan di kampung antah berantah. Hal ini tentu merupakan potensi kekayaan pengalaman luar biasa jika tiap-tiap teman bermain membawa sesuatu yang baru. Hanya saja ironisnya justru menjadi komunitas homogen yang selalu memiliki tren yang sama. Lihat saja komunitas game mobile agent atau game-game sejenisnya.

Pendek kata, bekal pengalaman berlimpah yang dimiliki anak-anak milenial meskipun luas tidak serta merta menjadikan siswa mudah meramu ide menjadi tulisan. Malah kecenderungan yang ada adalah generasi kopas (copy paste) yang ogah berpikir, kurang kreatif dan takut menelorkan ide personal. Ekspresi mereka lebih cenderung ke wujud-wujud visual seperti foto atau video yang lebih gampang dihasilkan dan dirasakan. Serba instan adalah pilihan utamanya.

Lantas bagaimana menumbuhkan kembali budaya menulis yang semakin terasing? Pertama, menyadari bahwa menciptakan kultur menulis kepada siswa jelas tidak mudah sehingga perlu upaya-upaya inovatif dari guru. Kedua, perlu konsistensi dari guru dan kesadaran dari siswa bahwa produk akhir dari setiap KD harus ada hasil tulisan terbaik. Portofolio bisa menjadi penuntun siswa dalam proses kreatif menulis. Selanjutnya perlunya reward dan punishment  yang konsisten dari guru. Hal ini perlu dilakukan untuk tetap memelihara motivasi siswa dalam upayanya menghasilkan tulisan dan menumbuhkan budaya kompetisi positif pada diri siswa. Jika hal ini bisa kita laksanakan dengan konsisten, insyaallah akan ada jalan bagi tumbuhnya kultur menulis di Indonesia. Semoga. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia