Jumat, 22 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Cuitan

Berbisnis dengan Lita'arofu

21 Oktober 2019, 09: 07: 06 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (radar kudus)

Share this      

SABTU lalu saya dipaksa oleh Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Semarang Arif Riyanto untuk mewawancarai calon wartawan. Ada 12 orang dari 97 pendaftar. Yang lain gugur pada tes tulis sebelumnya.

Pendaftar calon wartawan tersebut luar biasa. Terbanyak selama saya memimpin Radar Semarang dan Radar Kudus. Saya semakin bersemangat. Saya luangkan waktu sepenuhnya untuk mewawancarai mereka. Secara umum kualitasnya bagus. Ini akan menjadi tambahan energi untuk melambungkan kembali koran.

Radar Kudus juga membuka lowongan wartawan. Ada beberapa pos yang butuh penguatan. Beberapa daerah juga perlu tambahan. Bukti bahwa koran tidak mati di era digitalisasi. Memang tidak semua koran bisa berkembang.

“Di zaman digital seperti sekarang ini, hanya manajemen yang bagus, hanya manajemen yang handal, yang bisa membuat koran tetap hidup,” kata Dahlan Iskan, salah seorang pemilik Jawa Pos. Pesan itu disampaikan saat Radar Kudus berulang tahun ke-15 tahun 2017. Videonya direkam oleh Vikram Angkola Hutasuhud yang pernah ditugaskan di Radar Kudus. Kemudian diunggah ke Youtube.

Ketika itu Radar Kudus di puncak prestasi. Meraih nilai tertinggi di antara seluruh perusahaan koran di bawah grup Jawa Pos yang tersebar di seluruh Indonesia. Sampai sekarang pun masih menempati papan atas dalam grading system yang digunakan menilai perusahaan setiap triwulan.

Saya sering ditanya, apa kunci sukses memimpin perusahaan. Terus terang saya bingung. Selama ini saya hanya menjalani. Melaksanakan prinsip-prinsip manajemen pada umumnya. Sama dengan yang dilakukan pemimpin perusahaan lain.

Ketika Dahlan Iskan memuji manajemen Radar Kudus, saya juga belum ngeh (paham). Katanya, “Saya bangga dengan manajemen di Radar Kudus yang bisa membuktikan bahwa Radar Kudus sampai hari ini eksis bahkan berkembang.”

Saya memimpin Radar Kudus sejak akhir 2012 sampai sekarang. Tahun 2018 mendapat tambahan pekerjaan. Memimpin Radar Semarang. Ketika itu prestasi Radar Semarang merosot.

Setahun kemudian Radar Semarang melejit. Menempati urutan ketiga. Pada kwartal III tahun 2019 ini insyaallah masih tetap di papan atas. Evaluasinya baru dilaksanakan 24-25 Oktober di Jepara.

Ketika mencermati laporan keuangan Radar Kudus dan Radar Semarang yang akan diajukan dalam rapat evaluasi nanti, saya teringat Dahlan Iskan. Guru saya yang menjadikan saya sebagai wartawan. Yang menularkan cara-cara mengembangkan perusahaan. Juga prinsip-prinsip kepemimpinan. Serta nilai-nilai kehidupan.

Belakangan saya mengobarkan semangat lita’arofu. Sebagai prinsip perusahaan. Bahkan dasar kehidupan. Kata itu tidak asing. Apalagi bagi orang Islam. Tersebut secara jelas dalam Alquran. Lihat surat Alhujurat ayat 13. “Sesungguhnya kami ciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling mengenal.”

Kata tersebut tidak membutuhkan penafsiran macam-macam. Sudah jelas dan tegas. Namun, melaksanakannya tidak segampang mengartikannya.

Ketika suatu saat ada orang yang dianggap mendlolimi, seorang wartawan terusik emosinya. “Berbuat seperti itu sama saja menjatuhkan perusahaan kita,” katanya. “Kalau saya yang digitukan pasti langsung saya hajar. Pak Dir luar biasa. Saya akan belajar terus dengan Pak Dir,” tambahnya.

“Sabar, Mas. Kita tidak jatuh. Yang memberi martabat itu Tuhan. Dan itu kalau kita berbuat baik,” kata saya mendinginkan emosinya.

Saling berbuat baik itulah yang saya tumbuhkan di Radar Kudus dan Radar Semarang. Berbagai kegiatan internal dilakukan. Memanfaatkan momen-momen spesial. Hari-hari nasional dan keagamaan. Melibatkan seluruh karyawan. Semangat kebersamaannya membara. Inilah yang namanya membangun sumber daya manusia.

Ke luar diwujudkan dengan silaturrahim. Belakangan saya sampai kewalahan. Berkeliling dari satu daerah ke daerah lain. Bertemu bupati, pimpinan dewan, direktur perusahaan, dan mitra-mitra lainnya. Dalam bisnis disebut membangun jaringan.

Tanggal 18 Oktober lalu seorang wartawan mengirim gambar kepada saya. Seorang nenek. Mukanya keriput. Giginya ompong. Mengenakan rompi biru. Bertuliskan Jawa Pos Radar Semarang. Dia penjual koran. Saya minta wartawan itu menemuinya. Memberi uang. Saya menyebut angka. Tapi, tak pantas diungkap di sini. Wartawan itu melakukannya.

Semua yang dilakukan teman-teman tersebut dalam Alquran disebut  lita’arofu. Perwujudannya sekaligus hablun minannas (menjalin hubungan sesama manusia) dan hablun minallah (menjalin hubungan dengan Tuhan). (hq@jawapos.co.id)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia