Jumat, 22 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Features
Pasutri Asal Kudus Lolos dari Kerusuhan Papua

Sempat Sembunyi di Selokan Tiga Jam, Mulai Tata Hidup dari Nol

19 Oktober 2019, 11: 40: 27 WIB | editor : Ali Mustofa

SUDAH AMAN: Zaenal Fitri dan istrinya, Karni sudah berada di rumahnya di Kudus kemarin.

SUDAH AMAN: Zaenal Fitri dan istrinya, Karni sudah berada di rumahnya di Kudus kemarin. (DIYAH AYU FITRIYANI/RADAR KUDUS)

Share this      

Zaenal Fitri dan istrinya, Karni lega bisa kembali ke rumahnya di Kudus. Mereka warga rantau yang menjadi saksi kerusuhan di Wamena, Papua, beberapa waktu lalu. Saat aksi memanas, mereka lari menyelamatkan diri. Zaenal ke kodim, Karni sembunyi di selokan. Kini mereka sudah merasa aman. Dan ingin menata kembali kehidupan dari nol di Kudus.

DIYAH AYU FITRIYANI, Kudus, Radar Kudus

SIANG kemarin, Zaenal Fitri dan Karni sedang duduk santai di angkruk dekat rumahnya. Mereka tampak asik mengobrol dengan dua tetangganya. Mereka pasangan suami istri yang sebelumnya merantau di Wamena, Papua. Warga asli Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota, Kudus ini, sudah empat tahun merantau di sana. Kini mereka kembali karena ada kerusuhan di daerah rantaunya.

Saat Jawa Pos Radar Kudus datang, mereka menyambut ramah. Mempersilakan duduk di rumahnya di Gang Dahlia Perumahan Sumber 3. Mereka duduk tanpa alas. Rumah yang sudah tak dihuni selama sekitar dua tahun itu terlihat belum tertata rapi. Beberapa barang masih terlihat berserakan.

”Maklum nggeh masih kotor. Ini tadi baru dibersihkan. Sudah lama ditinggal,” kata Karni.

Perjalanan seminggu dari Wamenan membuat mereka cukup lelah. Kemarin mereka belum melakukan aktivitas apapun selain bersih-bersih rumah. Onggokan rumput kering masih terlihat di halaman rumahnya yang cukup sempit. Pasangan suami istri ini tiba di Kudus Kamis (17/10) petang. Mereka dijemput tim BPBD Kudus di Surabaya sekitar pukul 11.00.

”Iso balik Kudus meneh rasane seneng (Bisa pulang Kudus lagi rasanya senang, Red), ayem. Alhamdulillah selamet,” katanya dalam bahasa Jawa.

Sebelum meninggalkan daerah rantauan yang sedang terjadi konflik, pasangan suami istri ini sempat mengungsi sekitar tiga pekan. Sepekan mengungsi di Kodim Wamena. Lalu dua pekan mengungsi di Jayapura. Hingga akhirnya Rabu (9/10) Oktober lalu mereka pelang ke daerah asal bersama warga pendatang lainnya.

”Perjalanan sepuluh hari naik kapal. Rasanya senang bisa keluar dari daerah yang sedang bergejolak,” imbuhnya.

Dikatakannya kejadian di daerah rantaunya kali ini benar-benar menakutkan. Aksi anarkisme masa membuat mereka merasa was-was dan trauma. Bahkan untuk melakukan aktivitas sehari-hari pun cukup takut. Meskipun berada di pengungsian.

Di Jalan Bhayangkara pasangan suami istri ini berjualan makanan. Pada saat kejadian pada Senin (23/9) mereka tak menyangka jika kerusuhan akan sampai di daerahnya. Saat itu pun mereka mengaku masih berjualan seperti biasa. Meskipun merasa sedikit aneh karena sepi.

“Saya ditanya tetangga. Adik hari ini sudah adakah satu laku jualan? Saya jawab, aduh bu dhe  jualan tidak laku. Sama sekali tak ada orang satupun yang masuk,” katanya dengan logat khas timur.

Karni mengaku masih ingat betul kejadian pada hari itu. Semuanya serba mendadak. Warung makannya biasa buka pukul 05.30. Sekitar pukul 07.00, biasanya sudah mulai ramai. Kemudian dia mendapatkan kabar dari tetangganya, seorang supir. Dikabarkan jika di kota sedang ada demo dan rusuh. Lokasi yang dimaksudkan berjarak sekitar dua kilometer dari tempatnya.

”Benar, masa sampai di tempat kami. Saat itu saya tidak tahu suami kemana. Mungkin ya sudah lari menyelamatkan diri. Saya saat itu langsung nyeret anak kecil ntah siapa. Lalu ngumpet di selokan,” kata ibu dua nak ini.

Cukup lama dia dan anak kecil itu berada di selokan. Sekitar tiga jam. Hingga ketika dirasa massa sudah pergi, dia mengirim pesan whatsApp kepada suaminya. Merekapun dievakuasi dan dijemput tim dari kodim.

”Semuanya lari kalau papasan ya mungkin gak selamat. Pokoknya sebisa mungkin lari biar selamat. Saya nyemplung ke selokan sama anak siapa ndak tahu,” tuturnya.

Saat ini pasangan suami istri ini mengaku trauma dengan kejadian di sana. Mereka pun enggan untuk kembali. Takut jika kejadian yang dialaminya terulang kembali. Saat itu mereka mantap untuk memulai kehidupan baru di Kudus. Meskipun harus dari nol. Sebab, saat pulang tak satupun harta yang dibawa. Kecuali bantuan paket sembako dan pakaian yang diberikan Pemerintah Jawa Timur.

”Bisa pulang kami terus terang senang. Tapi saat sudah sampai Surabaya, kami juga sedih. Sedih karena mikir ke depan. Nanti kerja apa, soalnya masih harus menyekolahkan anak dua. Sementara uang sama sekali tidak punya,” kata Zaenal.

Kepada Pemerintah Kabupaten Kudus, mereka berharap bisa mendapatkan bantuan. Setidaknya untuk modal membangun usaha. Mereka berkeinginan untuk membangun usaha kecil-kecilan. Namun terhambat modal. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia