Jumat, 22 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Kudus

Diduga Keracunan Makanan, Puluhan Santri Dilarikan ke Rumah Sakit

18 Oktober 2019, 16: 04: 56 WIB | editor : Ali Mustofa

TERBARING: Pasien keracunan asal salah satu ponpes dirawat di RSUD Loekmono Hadi kemarin.

TERBARING: Pasien keracunan asal salah satu ponpes dirawat di RSUD Loekmono Hadi kemarin. (RSUD LOEKMONOHADI FOR RADAR KUDUS)

Share this      

KUDUS, Radar Kudus – Sebanyak 54 santriyah (santri perempuan) salah satu pondok pesantren di Desa Singocandi, Kecamatan Kota, Kudus, diduga mengalami keracunan. Sejak Rabu (16/10) siang mereka mulai mengeluh sakit perut, panas, diare, hingga muntah. Karena saking banyaknya yang mengalami hal itu, akhirnya mereka dilarikan ke enam rumah sakit dan klinik kesehatan.

Berdasarkan data yang Jawa Pos Radar Kudus peroleh dari Polsek Kudus, ada tiga santriyah menjalani rawat inap di Klinik Al Fatah. Di Rumah Sakit Islam (RSI) Sunan Kudus ada santriyah yang menjalani rawat inap. Di Klinik As-syifa 10 santriyah menjalani rawat jalan, di Klinik Masyithoh delapan santriyah menjalani rawat jalan, di RSUD dr. Loekmonohadi 16 santriyah menjalani rawat inap dan lima santriyah rawat jalan. Sementara di RS Aisyiyah Kudus satu santriyah menjalani rawat inap dan delapan santriyah menjalani rawat jalan.

Direktur RSUD dr Loekmono Hadi Kudus dr Abdul Aziz Achyar melalui Kabid Pelayanan Rawat Inap Aris Jukisno mengatakan, 21 pasien yang masuk gejalanya hampir sama. Yakni mual, diare, panas, dan badannya lemas. ”Badan mereka lemas mungkin karena dehidrasi yang disebabkan diare. Kami sudah lakukan asesmen. Ada 16 pasien yang kami sarankan untuk rawat inap dan lima pasien rawat jalan,” katanya kemarin.

MASIH DIRAWAT: Salah satu santri perempuan mendapatkan perawatan intensif di Ruang Bougenvil RSUD dr Loekmono Hadi Kudus karena diduga keracunan.

MASIH DIRAWAT: Salah satu santri perempuan mendapatkan perawatan intensif di Ruang Bougenvil RSUD dr Loekmono Hadi Kudus karena diduga keracunan. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)

Dikatakan, sampai kemarin perkembangan kesehatan pasien cukup signifikan. Keluhan seperti diare, panas, dan muntah sudah hilang. Beberapa pasien kemungkinan hari ini sudah bisa diizinkan pulang. Sampai kemarin, pihaknya belum tahu pasti penyebab penyakit yang diderita puluhan santriyah itu. Namun, dia menduga mereka keracunan makanan. Sebab, dari cerita yang disampaikan salah satu pasien, mereka mulai merasakan keluhan itu setelah makan siang. Salah satu dari pasien mengaku hanya memakan satu makanan, urap.

”Kami belum berani menyimpulkan, apakah itu keracunan atau bukan. Masih menunggu hasil uji laboratorium. Tadi Dinas Kesehatan sudah mengambil sampel muntahan dan fases pasien,” jelasnya.

Saat Radar Kudus mendatangi RSUD dr Loekmono Hadi kemarin malam, korban sudah berada di sejumlah ruang perawatan. Sebelumnya mereka masuk Instalasi Gawat Darurat (IGD). Menurut keterangan Khoirul Anam, salah seorang satpam RSUD, pasien yang keracunan diantar menggunakan mobil ojek online sekitar pukul 20.10. ”Mereka diantar menggunakan mobil ojek online. Satu mobil datang, terus dibelakangnya datang lagi. Tapi saya kurang tahu berapa mobil,” terangnya.

Saat itu ada lima perempuan berhijab yang sedang berkerumun di bagian administrasi. Mereka merupakan keluarga korban. Saat ditanya wartawan koran ini, mereka tidak mau menjawab. Tak sepatah kata pun yang keluar dari keluarga pasien.

Terpisah, Kapolres Kudus AKBP Saptono melalui Kapolsek Kudus AKP Muh Khoirul Naim membeberkan terkait kronologis kejadian tersebut. Sekitar pukul 13.30, ada tiga santriyah yang mengeluh kepada pengurus pondok. Mereka merasakan panas, sakit perut, mual, dan diare. Kemudian mereka dilarikan ke Klinik Al Fatah.

Tak lama usai kejadian itu, salah satu pengurus pondok mengecek ke kamar santriyah. Ternyata juga didapati puluhan santriyah mengalami hal yang sama. Kemudian secara berangsur dibawa ke Klinik Al Fatah, Klinik As-syifa, RSI Sunan Kudus, Klinik Masyithoh, RS Aisyiyah, dan RSUD dr Loekmono Hadi. Keluhan mereka datang secara berkala. Mulai pukul 13.30 hingga 22.30. ”Santri tersebut dibawa menggunakan mobil ojek online secara berangsur,” katanya.

Diketahui, pondok pesantren tersebut memiliki sekitar 380 santri. Mereka terbagi dalam 23 kamar. Semua santriyah makannya disediakan pihak pondok. Jadi, menu makannya seragam dan semisal jajan hanya boleh beli di koperasi pondok. Masakannya dimasak santriyah sendiri. Dengan sistem piket masak yang telah terjadwal.

”Belum diketahui apakah memang keracunan atau tidak. Saat ini masih pemeriksaan terhadap sisa makanan yang ada di lambung pasien. Sebab, sumber yang diduga menjadi penyebab keracunan tak bisa ditemukan. Saat kejadian sampai hari ini (kemarin, Red) tidak ditemukan sample-nya di TKP. Pihak pondok beralasan telah membuang atau membersihkan,” imbuhnya. (vga)

(ks/daf/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia