Jumat, 22 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Features
Joko Ahmad Prastiyo, Atlet Lari Berprestasi

Tiap Hari Latihan 1,5 Jam

18 Oktober 2019, 14: 51: 08 WIB | editor : Ali Mustofa

RUNNER UP: Joko Ahmad Prastiyo, naik podium kedua saat duathlon Jepara baru-baru ini.

RUNNER UP: Joko Ahmad Prastiyo, naik podium kedua saat duathlon Jepara baru-baru ini. (DOK. PRIBADI)

Share this      

Tertarik sejak kelas III SD, Joko Ahmad Prastiyo menunjukkan prestasi gemilang di bidang olahraga atletik. Terutama cabang olahraga (cabor) lari. Namun, di even tertentu ia juga dia merambah di cabor sepeda.

M. KHOIRUL ANWAR, Radar Kudus, Jepara

LANGKAH lari Joko Ahmad Prastiyo diperlambat setelah mengitari Alun-alun Jepara beberapa putaran. Kaus yang dipakai basah kuyup. Keringat dari dahi dan badannya menempel pada kaus berwarna biru itu. Sesampainya di sebuah kursi taman, ia berhenti. 

Handuk kemudian ia raih. Digunakan untuk menyeka keringat di mukanya. Joko mengambil posisi duduk di bawah. Kedua kakinya diluruskan. Sekitar 1,5 jam ia habiskan untuk mengitari alun-alun. Begitulah rutinitas Joko mengolah skill dan fisiknya sebagai salah satu atlet muda berprestasi di Kota Ukir.

Pelajar kelahiran Jepara, 29 Januari 2001 ini, beberapa kali menjuarai ajang lari. Ia sering mengikuti lomba lari dengan jarak lima kilometer. Ajang lomba lari di Kendal bulan lalu, ia berhasil meraih juara I. Sedangkan ajang lomba lari di Temanggung ia menyabet runner up.

Di ajang internasional, ia juga berpartisipasi di duathlon Jepara. Lomba ini menjadi tantangan tersendiri baginya. Sebab, ia spesialis lomba lari. Namun, duathlon mempertandingkan lari dan sepeda. Sehingga menjelang lomba, ia beradaptasi dengan olahraga sepeda. ”Dasar-dasar bersepada mulai saya pelajari. Awal-awal memang agak susah dan penyesuaian fisik juga penting,” kata siswa SMA Islam Jepara ini.

Dengan keunggulannya sebagai tuan rumah, ia pelajari rute di sekitar Pantai Bandengan. Meski belum mengetahui rute yang akan diperlombakan, ia pelajari jalan di sekitar lokasi lomba. Dengan adaptasinya terhadap lokasi dan olahraga bersepeda, Joko berhasil menorehkan prestasi.

Ia berhasil meraih juara II pada duathlon kategori pelajari putra. Ia harus bersaing dengan pelajari lain dari luar kota. Saat bersepeda ia menempuh jarak 21 kilometer. Sedangkan saat lari jarak yang harus ditempuh 7,5 kilometer.

Setelah meraih gelar prestisius itu, ia kini mulai menyiapkan diri di ajang lomba lari Bung Tomo Run 5K di Surabaya. Pada 20 Oktober nanti, ia akan mengikuti lomba tersebut. Saat ini ia masih latihan dengan porsi seperti biasa. Sekitar 1,5 jam hingga dua jam dalam sehari. Selama itu ia latihan lari. Jarak yang ditempuh 20 hingga 30 kilometer. ”Rutin setiap hari. Jadi konsisten, tidak fluktuatif, " tuturnya.

Trik yang ia gunakan, menjelang lomba mulai mengurangi porsi latihan. Joko melakukan porsi latihan yang berbeda. Lebih banyak meregangkan otot. Hal ini dilakukan supaya fisik tidak terforsir. ”Lari tetap, tapi dikurangi. Lebih ke peregangan otot saja. Target yang saya patok, pada even itu naik podium," katanya.

Disinggung bakat larinya itu, ia mulai mengawali menjadi atlet sejak duduk di kelas III SD. Ia ditunjuk menjadi delegasi SD pada pekan olahraga daerah (popda) tingkat SD. Dimulai pada cabang lari, lompat katak, dan lari estafet.

Bakatnya itu ia terus asah. Hingga menemukan cabang olahraga (cabor) andalannya, lari jarak jauh. Salah satu capaian yang menurutnya membanggakan bisa sampai pada level Pra Pekan Olahraga Nasional (Pra-PON) 2016 lalu.

”Kalau saat ini fokus mengikuti even-even untuk tambah pengalaman, " tandasnya. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia