Jumat, 22 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Disrupsi, Robot Sophia dan Peran Guru BK

18 Oktober 2019, 14: 44: 18 WIB | editor : Ali Mustofa

Wahyuningsih, S.Psi.; Guru SMA Negeri 1 Lasem

Wahyuningsih, S.Psi.; Guru SMA Negeri 1 Lasem (dok pribadi)

Share this      

BEBERAPA minggu yang lalu Sophia menjadi trending topic. Dia begitu memikat media. Salah satu stasiun televisi swasta nasional, bahkan membuat satu segmen acara khusus yang menampilkan wawancara dengan Sophia. ”Siapa sih Sophia?”

Sophia adalah robot berwujud manusia yang dikembangkan oleh Hanson Robotics. Perusahaan berbasis di Hongkong. Dia dilengkapi dengan artificial intelligence (kecerdasan buatan) dan dibekali semua pengetahuan mutakhir. Sehingga menjadi robot cerdas dengan kemampuan prediktif dan analisis yang jauh di atas manusia. Bahkan, dapat menjadi konsultan di banyak disiplin ilmu. Dapat juga menunjukkan ekspresi emosi layaknya manusia. Robot Sophia menjadi ikon lahirnya sebuah era baru, yaitu era kecerdasan buatan.

Teknologi berkembang sangat cepat dan menghasilkan perubahan besar di segala bidang kehidupan. Semua sudah menikmati berbagai kemudahan yang dihasilkan kemajuan teknologi. Pilihan penggunaan moda transportasi, berbelanja, dan berwisata menjadi begitu mudah dilakukan hanya melalui ujung jari.

Selain menghadirkan kemudahan di banyak aspek kehidupan, kecerdasan buatan juga menebar ancaman menakutkan bagi dunia kerja. Profesi pekerjaan yang selama ini mapan, sepuluh tahun mendatang akan hilang digantikan dengan automation system yang membutuhkan lebih sedikit tenaga kerja sebagai operatornya.

Prof. Rhenald Kasali dalam bukunya yang bertajuk ”Disruption” mengingatkan, kita tengah berada pada era di mana kecepatan perkembangan teknologi informasi telah melaju secara ekponensial. Artinya orang-orang yang masih berpikir secara linier sudah pasti akan tertinggal oleh pesatnya kemajuan peradaban. Kehadiran teknologi baru seperti kecerdasan buatan, mesti diikuti dengan cara berpikir yang berbeda. Sehingga masyarakat memperoleh nilai tambah darinya.

TIK yang berkembang pesat menuntut guru BK meningkatkan kompetensi di bidang digital. Guru BK harus luwes dalam menghadapi perubahan, berwawasan luas, dan memperbanyak referensi untuk meningkatkan layanan. Kompetensi yang dimiliki harus selalu di-update dan adaptif dengan perubahan di era disrupsi ini.

Pemanfaatan teknologi mutakhir dalam layanan BK akan sangat membantu. Penggunaan kecerdasan buatan sebagai guide merupakan inovasi yang menarik untuk diterapkan.

Peran guru BK menjadi strategis dalam mempersiapkan peserta didik memasuki era baru ini. Bukan berarti guru BK akan mendorong peserta didik untuk memilih jurusan studi lanjut yang aplikatif dengan pekerjaan yang tersedia di bursa kerja. Itu sama dengan menganggapnya sama dengan robot. Justru anak didik, harus lebih mampu menciptakan terobosan-terobosan baru dan inovatif.

Hilangnya banyak pekerjaan karena berubah menjadi otomatisasi, menjadi tantangan bagi peserta didik dalam menciptakan lapangan pekerjaan baru. Kemajuan teknologi dapat dijadikan acuan bagi sekolah dalam mengembangkan strategi untuk mengoptimalkan potensi akademik peserta didik.

Guru BK diharapkan berkontribusi pada kegiatan literasi manusia dan ICT literacy. Literasi manusia untuk memperkuat daya tahan peserta didik di era disrupsi dengan cara mengembangkan kognitif peserta didik ke arah higher order mental skill, berpikir kritis, dan sistemik.

Literasi manusia juga untuk mengembangkan kemampuan leadership, bekerja dalam tim, kematangan emosi, serta jiwa kewirausahaan. ICT literacy dilakukan dengan cara mengombinasikan dan mengintegrasikan teknologi ke dalam praktik layanan bimbingan dan konseling disertai dengan komitmen kualitas ke dalam konsep dan praktik TPACK (technology, paedagogy, content, dan knowledge). TPACK merupakan kompetensi guru BK secara utuh (Ahmad, 2018). Hal terpenting adalah menyiapkan peserta didik agar siap menghadapi perubahan apapun di masa depan. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia