Kamis, 30 Jan 2020
radarkudus
icon featured
Inspirasi

Menjadi Guru untuk Diri Sendiri

17 Oktober 2019, 15: 12: 39 WIB | editor : Ali Mustofa

Firda Aulin Nisa

Firda Aulin Nisa (Dok pribadi)

Share this      

TERKADANG ketika seseorang telah berada tingkatan keilmuan tertentu, akan muncul rasa untuk menggurui orang lain. Perasaan paling memahami menjadi salah satu alasan perilaku ini kerap ada pada diri masing-masing orang yang tengah menuju fase pematangan berpikir.

Firda Aulin Nisa, gadis berparas cantik yang kini mengajar di SD 7 Klumpit, Kecamatan Gebog ini, mengaku pernah pada posisi tersebut. Namun, setelah melewati berbagai tahapan perjalanan hidup sejauh ini, ia sadar bahwa menjadi guru itu tidaklah mudah.

Gadis yang akrab disapa Aulin yang beralamat di Desa Klumpit, Kecamatan Gebog ini tergolong baru dalam menjalani profesi sebagai guru. Terhitung sejak Januari lalu ia menjadi pendidik. Sebelumnya, hari-harinya disibukkan dengan kegiatan kampus, ngelesi anak-anak sekolah dasar, dan kerja serabutan di sebuah optik kaca mata.

Aulin sadar betul bagaimana nasib guru honorer. Gaji yang tak seberapa dengan beban yang tak ringan juga dia pahami. Namun, ia masih ingin tetap bertahan menjadi guru. Ia masih belum berkeinginan bekerja seperti remaja-remaja seumurannya yang lebih memilih menghindar dari pekerjaan mulia itu.

”Menjadi guru adalah salah satu keinginan orang tua kepada saya. Untuk itu, seberapapun gajinya, yang penting saya niatkan untuk mengabdi. Intinya dinikmati saja prosesnya,” ungkap gadis kelahiran 12 Agustus 1997.

Menurutnya, menjalani profesi sebagai guru sama saja bercermin untuk diri sendiri. Artinya, sikap yang muncul dari murid, bisa jadi merupakan cerminan dari diri sendiri. Untuk itu, dalam memperbaiki diri, Aulin selalu bercermin dengan sikap orang lain kepadanya. Sebab, menurutnya hal itulah yang menjadi salah satu cara belajar mematangkan cara pikir.

Bagi gadis yang kini masih kuliah di Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyyah (PGMI) IAIN Kudus ini, profesi guru yang sedang ia jalani saat ini bukanlah sarana untuk menggurui orang lain. Melainkan untuk menggurui diri sendiri. Karena, seorang guru harus mampu menyelesaikan dirinya sendiri sebelum bisa menggurui orang lain. (qih)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia