Jumat, 22 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Enam Literasi Dasar dan Implementasinya dalam GLS

15 Oktober 2019, 13: 42: 44 WIB | editor : Ali Mustofa

Haryanto, S.Pd.; Kepala Sekolah SD Negeri 1 Kalangdosari, Kecamatan Ngaringan

Haryanto, S.Pd.; Kepala Sekolah SD Negeri 1 Kalangdosari, Kecamatan Ngaringan (dok pribadi)

Share this      

SEBAGAI bangsa yang besar Indonesia harus mampu mengembangkan budaya literasi sebagai prasyarat kecakapan hidup abad ke-21 melalui pendidikan yang terintegrasi. Mulai dari keluarga, sekolah, sampai dengan masyarakat. Bangsa dengan budaya literasi yang tinggi menunjukkan kemampuan bangsa tersebut untuk berkolaborasi, berpikir kritis, kreatif, komunikatif sehingga dapat memenangi persaingan global.

Penguasaan enam literasi dasar menjadi sangat penting tidak hanya bagi siswa, tetapi juga bagi orang tua dan seluruh warga masyarakat. Enam literasi dasar tersebut mencakup literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, dan literasi budaya dan kewargaan.

Salah satu di antara enam literasi dasar yang perlu kita kuasai adalah literasi baca-tulis. Membaca dan menulis merupakan literasi yang dikenal paling awal dalam sejarah peradaban manusia. Keduanya tergolong literasi fungsional dan berguna besar dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memiliki kemampuan baca-tulis, seseorang dapat menjalani hidupnya dengan kualitas yang lebih baik. Misalnya, ketika menerima resep obat, dibutuhkan kemampuan untuk memahami petunjuk pemakaian yang diberikan oleh dokter. Jika salah, tentu akibatnya bisa fatal.

Literasi numerasi adalah pengetahuan dan kecakapan untuk mengaplikasikan konsep bilangan dan keterampilan operasi hitung di dalam kehidupan sehari-hari dan kemampuan untuk menginterpretasi informasi kuantitatif yang terdapat di lingkungan. Kemampuan ini ditunjukkan dengan kenyamanan terhadap bilangan dan cakap menggunakan keterampilan matematika secara praktis untuk memenuhi tuntutan kehidupan.

Literasi sains merupakan pengetahuan dan kecakapan ilmiah untuk mampu mengidentifikasi pertanyaan, memperoleh pengetahuan baru, menjelaskan fenomena ilmiah, serta mengambil simpulan berdasar fakta, memahami karakteristik sains, kesadaran bagaimana sains dan teknologi membentuk lingkungan alam, intelektual, dan budaya, serta kemauan untuk terlibat dan peduli terhadap isu-isu yang terkait sains.

Literasi finansial adalah pengetahuan dan kecakapan untuk mengaplikasikan pemahaman tentang konsep dan risiko, keterampilan agar dapat membuat keputusan yang efektif dalam konteks finansial untuk meningkatkan kesejahteraan finansial, baik individu maupun sosial, dan dapat berpartisipasi dalam lingkungan masyarakat.

Literasi digital adalah kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk dari berbagai sumber yang sangat luas yang diakses melalui piranti komputer. Lliterasi digital berakar pada literasi komputer dan literasi informasi. Literasi digital lebih banyak dikaitkan dengan keterampilan teknis mengakses, merangkai, memahami, dan menyebarluaskan informasi.

Literasi budaya dan kewargaan merupakan kemampuan individu dan masyarakat dalam bersikap terhadap lingkungan sosialnya sebagai bagian dari suatu budaya dan bangsa. Literasi budaya dan kewargaan menjadi hal yang penting untuk dikuasai di abad ke-21 karena Indonesia memiliki beragam suku bangsa, bahasa, kebiasaan, adat istiadat, kepercayaan, dan lapisan sosial. Sebagai bagian dari dunia, Indonesia turut terlibat dalam kancah perkembangan dan perubahan global. Oleh karena itu, kemampuan untuk menerima dan beradaptasi, serta bersikap secara bijaksana atas keberagaman ini menjadi sesuatu yang mutlak.

Dalam pelaksanaan kurikulum 2013, kegiatan literasi sebagai salah satu kegiatan yang wajib dilaksanakan guna menumbuhkan kesadaran siswa akan pentingnya membaca untuk menambah ilmu pengetahuan. Untuk dapat melaksanakan kegiatan literasi di sekolah, perlu adanya program literasi yang berisi tahapan-tahapan mulai tahap persiapan sampai pelaksanaan literasi.

Persiapan pelaksanaan kegiatan literasi Kurikulum 2013 dimulai dengan rapat koordinasi oleh Kepala Sekolah. Kepala Sekolah membentuk tim Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang terdiri dari kepala perpustakaan, wali kelas, dan guru yang ditunjuk. Semua tim GLS mensosialisasikan kegiatan literasi kepada siswa. Persiapan sarana dan prasarana untuk GLS yaitu dengan melengkapi buku-buku bacaan umum dan literatur pelajaran sekolah.

Pelaksanaan literasi di sekolah dapat dilakukan melalui pembelajaran mapel tertentu. Siswa diberi tugas untuk membaca buku pengetahuan apa saja asalkan bukan yang terlarang. Tugas membaca buku bisa dilaksanakan di rumah atau di sekolah. Selanjutnya siswa diberi tugas merangkum apa yang sudah dibaca. Rangkuman ditulis di kertas folio minimal 5 paragraf atau seribu kata. Siswa wajib mengumpulkan rangkuman hasil literasi setiap pembelajaran akan dimulai. Guru mencatat dan mengarsipkan rangkuman hasil literasi siswa untuk penunjang penilaian. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia