Jumat, 22 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Mengembalikan Adab Ketimuran Generasi Milenial

14 Oktober 2019, 15: 42: 31 WIB | editor : Ali Mustofa

Zaenab, S.Pd.; Guru SMK Negeri 2 Rembang

Zaenab, S.Pd.; Guru SMK Negeri 2 Rembang (dok pribadi)

Share this      

INDONESIA sejak dulu dipuja bangsa-bangsa di dunia. Mulai dari keramahan penduduk, kekayaan negeri, dan keanekaragaman budayanya. Memang tidak berlebihan, pujian dan sanjungan bangsa lain terhadap negeri Indonesia, mengenai kebudayaan yang beraneka. Dalam satu pulau saja bisa terdapat beberapa macam bahasa, pakaian adat, sampai kebiasaan adat setempat. Tercatat ada ratusan adat dan budaya yang berkembang di Indonesia. Tak heran jika Indonesia dikenal sebagai bangsa majemuk dengan budaya yang multikultural. Keanekaragaman budaya sepatutnya disyukuri sebagai tanda bahwa masyarakatnya yang heterogen. Warisan budaya yang sudah ada di masyarakat Indonesia, seharusnya dapat dijaga dan melestarikannya. Khusus bagi generasi penerus, seharusnya mampu mempertahankannya.

Sayangnya di era globalisasi sekarang, banyak kebudayaan asing yang mampu menggeser nilai-nilai keluhuran budaya bangsa Indonesia. Akibatnya, banyak generasi muda milenial yang tidak  tahu dengan budaya andhap asor yang ditanamkan oleh nenek moyang. Adab tata krama dalam bertutur dan bersikap, sudah jauh melenceng dari tatanan masyarakat ketimuran. Generasi milenial sudah tidak terbiasa bertutur santun kepada orang yang lebih tua. Sebagai masyarakat Jawa Tengah yang masih mengenal bahasa Jawa, tidaklah salah apabila harus mengembalikan falsafah bahasa Jawa dengan unggah ungguh yang berlaku.

Banyak keluarga dan sekolah yang menerapkan bahasa komunikasi dengan bahasa Indonesia. Akibatnya banyak anak muda yang tidak bisa berkomunikasi dengan bahasa Jawa secara benar. Banyak juga para orang tua yang bangga dengan putra-putrinya, yang senantiasa menggunakan bahasa Indonesia saat berkomunikasi dengan orang lain, dan orang yang lebih tua. Orang tua tidak sadar bahwa dengan membiasakan penggunaan bahasa Indonesia saat berkomunikasi dengan orang lain, telah turut melunturkan budaya unggah-ungguh adab ketimuran.

Berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia, seorang anak dengan orang tua, akan sama saat seorang anak dengan temannya. Tidak ada perbedaan pilihan kata yang digunakan sebagai bentuk penghormatan karena berbicara dengan orang yang lebih tua. Jika seorang anak berbicara dengan orang yang lebih tua menggunakan bahasa Jawa, tentu pilihan kata yang digunakan akan berbeda. Seorang anak berbicara dengan orang yang lebih tua akan menggunakan pilihan kata menghormati. Bentuk penghormatan sebagai tatanan unggah-ungguh ini akan turut memberikan pengaruh terhadap perilakunya. 

Unggah-ungguh mempunyai arti tata sopan santun dalam sikap dan perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari dalam budaya Jawa. Unggah-ungguh menurut bahasa adalah gabungan dari dua kata yaitu kata unggah dan kata ungguh. Kata unggah dalam kamus bahasa Jawa disama-artikan dengan kata munggah yang artinya naik, mendaki, memanjat. Kecenderungan orang Jawa dalam menghormati orang lain didasarkan pada tingkat kedudukan atau derajat yang lebih tinggi. Ungguh dengan tingkat bahasa Jawa ngoko yang artinya berada, bertempat, pantas, cocok sesuai dengan sifat-sifatnya.

Mayoritas orang Jawa menghormati orang lain, selalu melihat atau memperhatikan keadaan, selalu berhati-hati dalam membawa diri. Sikap berhati-hati  bermaksud agar tingkah lakunya sesuai, pantas dan tidak melanggar norma atau atau menimbulkan konflik dalam masyarakat. Kedua kata tersebut, jika digabung menjadi unggah-ungguh artinya sopan santun atau tata krama. Ini menunjukkan, bahwa orang Jawa dalam bergaul dalam masyarakat selalu memperhatikan aturan sopan santun dan tata krama demi menjaga keselarasan sosial dan tercapainya hidup rukun, damai tanpa ada konflik.

Jika berkomunikasi non formal pada generasi milenial senantiasa menggunakan bahasa Jawa dengan tatanan yang benar. Sudah dapat dibayangkan, bahwa dengan penggunaan bahasa Jawa sebagai alat berkomunikasi keseharian akan memberikan warna dalam berperilaku antar individu. Anak-anak harus menghormati orang yang lebih dewasa. Orang tua saling menghargai satu sama lain, sebagai bentuk konsekuensi bertutur dengan benar.

Dengan mengembalikan penggunaan bahasa Jawa sebagai alat komunikasi informal sehari-hari di masyarakat, sekolah, dan di rumah niscaya akan mengembalikan adab ketimuran pada generasi milineal. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia