Jumat, 22 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Kudus

Kongres Sampah Rekomendasi Gubernur Bentuk Satgas Sampah di Semua Desa

14 Oktober 2019, 14: 44: 03 WIB | editor : Ali Mustofa

JANJI GUBERNUR: Gubernur berjanji akan mengunjungi desa dengan pengelolaan sampah yang baik.

JANJI GUBERNUR: Gubernur berjanji akan mengunjungi desa dengan pengelolaan sampah yang baik. (Sigit Andrianto/Jawa Pos Radar Semarang)

Share this      

SEMARANG, Radar Kudus - Kongres Sampah yang diselenggarakan 12-13 Oktober menghasilkan rekomendasi kepada gubernur Jawa Tengah untuk membentuk Satgas Sampah di seluruh desa. Satgas ini juga perlu dijamin dengan bantuan infrastruktur dan temuan inovasi pengelolaan sampah.

Putut Yulianto, tim perumus dalam Kongres Sampah mengatakan bahwa dari kesepakatan Kongres Sampah, gubernur direkomendasikan untuk menginstruksikan kepada desa dan kelurahan segera membentuk Satgas Sampah. Tugasnya Satgas Sampah Desa/Kelurahan adalah melakukan penegakan regulasi pengelolaan sampah.

”Sudah ada embrio Satgas Sampah di Desa Kesongo yang merupakan Tim Peduli Sampah Desa,” ujarnya kemarin.

Ia sampaikan, warga Desa Kesongo sudah melakukan pemilahan sampah mulai dari rumah tangga satu tahun terakhir ini. Terlihat dari keranjang yang ada di depan rumah warga bertuliskan Sampah Iso Bosok dan Sampah Ora Iso Bosok. Pemilahan juga berlanjut pada pengangkutan sampah dari rumah warga, yakni sampah organik dan non-organik. ”Di Tempat Penampungan Sementara, pemilahan juga masih dilakukan,” ujarnya.

Penggunaan bahasa sederhana dalam pemilahan sampah di Desa Kesongo, direkomendasikan pula kepada Gubernur Ganjar agar mengarahkan desa-desa lain melakukan hal serupa. Dengan demikian, akan mudah diterima dan diingat oleh masyarakat.

Kongres Sampah juga merekomendasikan agar Gubernur Ganjar memberikan insentif bagi semua pihak yang telah mengembangkan temuan, karya dan produk pengelolaan sampah yang berbasis kearifan lokal. ”Kemudian juga semacam jaminan dan arahan bahwa bantuan keuangan gubernur ke desa agar dialokasikan ke infrastruktur atau inovasi pengelolaan sampah,” ujarnya.

Lebih lanjut, sidang komisi Kongres Sampah juga menyepakati terbentuknya Dewan Konsorsium Sampah Jateng untuk membantu dalam pelaksanaan teknisnya. Dewan ini ada di bawah Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah dan melibatkan perwakilan semua komponen peserta kongres.

”Disepakati pula, untuk penanganan sampah ini, kami mengajak semua komponen masyarakat. Termasuk pemuka agama, seniman-budayawan, tani-nelayan, pelajar-mahasiswa, jurnalis/media,” katanya dengan menambahkan bahwa paska kongres ini akan diadakan lagi pertemuan lanjutan untuk mempertajam strategi gerakan penanganan sampah. Pertemuan tersebut diberi label Jateng Gayeng Telung Ng.

”Gerakan pemilahan sampah Jateng Gayeng Telung Ng, yakni Ngelongi, Nganggo, Ngolah. Ngelongi untuk mengganti reduce, Nganggo mengganti Reuse dan Ngolah untuk Recycle,” katanya.

Gubernur Ganjar Pranowo mengatakan, rekomendasi ini diperlukan untuk membentuk kebijakan dalam upaya penanganan sampah. Ia juga mengapresiasi upaya warga yang menggunakan kearifan lokal dalam penanganan sampah, seperti menggunakan bahasa lokal. ”Ada sampah iso bosok dan ora iso bosok. Ada nilai lokalitas di sini. Ini menarik,” ujarnya.

Gubernur menekankan penanganan sampah menjadi tanggung jawab bersama. Menuju kehidupan yang lebih baik dan dalam rangka mewujudkan pembangunan berkelanjutan. ”Maka upaya penanganan sampah ini perlu ada regulasi yang mendukung. Juga anggaran. Mumpung kami sedang menyiapkan politik anggaran, rekomendasi ini sangat diperlukan,” ujar pria yang menggagas Kongres Sampah untuk kali pertama di Indonesia ini. (sga/lhr/ida)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia